Masdar Hilmy Guru Besar dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya

Antropologi Doa dan Psikologi Harapan

4 min read

Islam mengajarkan ada waktu dan tempat mustajābah untuk berdoa. Pada waktu dan tempat ini, umat Muslim dianjurkan untuk memanjatkan doa. Doa-doa yang dipanjatkan pada waktu dan tempat tersebut, konon, tidak ada yang tertolak: semuanya akan dijabulkan oleh Allah. Di antara waktu mustajābah untuk berdoa, di antaranya, adalah sepertiga terakhir dari setiap malam. Sementara itu, di antara tempat yang mustajābah untuk berdoa adalah masjidil haram di Mekkah dan masjid Nabawi di Madinah.

Namun bukan itu yang mau dibahas di sini. Soal doa adalah soal individu masing-masing. Diterima atau tidak oleh Allah juga bersifat pribadi. Terkadang orang hanya mengatakan doa yang terkabul saja kepada orang lain, sementara itu doa yang tidak terkabulkan cenderung disembunyikan.

Yang justru menarik adalah variasi doa yang dipanjatkan oleh setiap orang di tempat-tempat atau waktu mustajābah. Kebanyakan orang berdoa untuk kesuksesan dirinya sendiri yang bersifat materi (misalnya ingin kaya), karier (kenaikan pangkat atau menempati posisi tertentu), atau lainnya (keluar dari masalah pribadi, keluarga dan jabatan). Hampir bisa dipastikan, doa-doa yang dipanjatkan berkisar pada dua hal: hilangnya berbagai persoalan hidup dan diraihnya kenyamanan hidup.

Psikologi Harapan

Di kalangan umat Muslim, berdoa adalah salah satu tradisi leluhur yang selalu diwariskan secara turun-temurun. Berdoa adalah cara menyelesaikan berbagai persoalan hidup yang tidak mudah untuk dipecahkan. Seringkali doa dipakai sebagai katalisator umat Muslim akibat ketakmampuan mereka memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi secara rasional. Akibatnya, mereka mengandalkan cara-cara “irasional” dengan cara mengundang Tuhan untuk mengintervensi ke dalam persoalan tersebut.

Dalam doa senantiasa terselip harapan. Artinya, ada kesenjangan antara yang diinginkan dengan realitas kemampuan yang ada. Misalnya, yang diinginkan adalah ingin menjadi kaya, tetapi realitasnya masih miskin. Yang diinginkan sembuh dari penyakit, kenyataannya adalah sakit atau kurang sehat. Yang diinginkan adalah keluar dari masalah, kenyataannya adalah penuh masalah.

Baca Juga  Manusia, Tangan Tuhan, dan Kebebasan Diri: Akal, Cahaya, dan Hikmah [1]

Yang diinginkan adalah hidup bahagia, kenyataannya adalah tidak atau kurang bahagia. Dan seterusnya dan sebagainya. Pendek kata, doa adalah katalisator atas ketidakmampuan manusia menghadapi realitas hidupnya yang tidak atau kurang ideal.

Sekalipun tidak rasional, doa seringkali mendatangkan efek sugesti. Dengan doa semangat orang lebih terpacu untuk mengejar impiannya. Dia mengalirkan cairan adrenalin di dalam tubuh yang berefek pada bangkitnya kemampuan atau kapasitas diri yang berada di ujung batas maksimalnya.

Secara paikologis, doa memberikan semangat berlebih dalam diri seseorang untuk memenuhi harapan-harapan yang sudah didoakan. Dengan semangat yang menyala, banyak doa yang terkabul. Akhirnya, doa menjadi sesuatu yang addicted dalam diri setiap Muslim. Terkadang hanya untuk urusan remeh-temeh, seseorang selalu mengandalkan doa untuk dapat mencapainya.

Sejak kecil penulis diajarkan oleh ayah (alm.) untuk selalu mengandalkan doa dalam setiap melakukan sesuatu. Apapun keinginan kita, doa adalah solusinya. Bagi ayah penulis, doa adalah usaha, dan usaha adalah doa. Keduanya sama saja, tidak bisa dibedakan satu sama lainnya. Baginya, ragam problematika hidup pasti ada jalan keluarnya, yakni doa. Karena, menurutnya, Allah sudah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk berdoa (baca: meminta apapun), niscaya Allah akan mengabulkannya (Q.S. al-Mu’min [40]: 60). Selain ayat di atas, ada juga hadis Nabi yang menegaskan bahwa doa adalah intinya ibadah (al-du‘ā’ mukhkh al-‘ibādah).

Begitu sentralnya peran dan fungsi doa dalam kehidupan, maka komposisi antara doa dan usaha yang ideal—setidaknya menurut para spiritualis seperti ayah penulis—adalah 80:20. Artinya, doa (80%) mendominasi usaha (20%). Tidak sebaliknya: usaha 80% dan doa 20%. Jika doa adalah upaya “mengundang” Tuhan untuk mengintervensi proses, maka usaha dalam konteks ini adalah faktor kemasukakalan (common-sensicality) sesuai dengan hukum kausalitas. Di dalam usaha terdapat proses-proses fisik yang dapat dinalar oleh akal sehat, seperti belajar jika seseorang ingin lulus ujian. Atau berlatih keras jika seseorang ingin juara.

Baca Juga  Amalkan Doa Asmaul Husna, Rasakan Faedahnya Yang Dahsyat

Keluarga Doa

Penulis merasa mengalami dua kontinum yang berbeda terkait dengan peran dan fungsi doa. Kontinum pertama adalah pengalaman penulis yang dibesarkan di keluarga santri yang sarat dengan doa-doa dan barakah. Setiap kali rumah kami kedatangan seorang Kiai, minuman atau makanan yang tidak habis pasti disuruh ayah dihabiskan oleh kami. Katanya untuk “ngalap berkah”. Kami diajari untuk selalu tawadluk dan ta‘zīm kepada alim-ulama.

Kami juga terbiasa disuruh minum air yang di dalamnya diberikan doa-doa oleh ayah. Bahkan di kolam kamar mandi kami sering diberi kertas-kertas rajah yang tertulis doa-doa. Ayah kami bahkan sering didatangi masyarakat sekitar yang hendak minta doa untuk berbagai tujuan. Ada yang dipakai untuk mengobati orang sakit, ada yang mengalami kesulitan ekonomi, ada yang mengalami masalah keluarga, masalah hukum, hingga yang minta diberi kemudahan jodoh dan keturunan. Ayah dengan ringan tangan membantu mereka yang membutuhkan uluran tangan.

Ketika ayah dimintai doa, biasanya malam hari ayah mengamalkan doa-doa sambil membawa sebotol air atau garam atau abu gosok. Setiap selesai doa, air atau garam atau abu gosok tersebut dihembuskan nafas ke atasnya. Setelah selesai semua, esok harinya orang yang minta tolong mengambil air atau garam atau abu gosok tersebut. Setelah itu baru dilakukan perlakuan (treatment) sesuai resep yang diperintahkan. Jika yang diberikan air maka bisa diusapkan ke wajah atau anggota badan terentu; jika garam atau abu gosok bisa ditaburkan di daerah-daerah tertentu di sekitar rumahnya.

Selain air atau garam atau abu gosok, ayah terkadang memberikan resep doa berupa amalan-amalan tertentu. Misalnya amalan ayat kursi 414 kali, amalan surah al-Fātihah seribu kali, amalan surat Yāsin 41 kali, amalan Hizib Bahar, Hizib Nasr, dan seterusnya. Amalan-amalan tersebut konon diperoleh oleh ayah penulis sewaktu dia mondok di pesantren.

Ada juga amalan Dalā’il al-Khayrāt yang diperoleh dari KH Abd. Basyir dari Bareng Kudus. Amalan yang terakhir ini tidak diberikan ke sembarang orang karena—konon—harus memenuhi syarat-syarat tertentu yang sangat ketat. Penulis sendiri sebagai anak kandungnya tidak pernah direkomenasikan untuk mengamalkannya karena—menurutnya—terlalu berat katena setiap hari harus menjalankan puasa (riyādah) selama periode tertentu.

Baca Juga  Tradisi Saling Memaafkan Jelang Ramadan

Kedalaman Doa

Kembali ke peran dan fungsi doa dalam tradisi kita umat Muslim, sebaiknya doa tidak diformulasikan dalam bentuk permohonan negatif kepada Allah agar orang lain yang barangkali memusuhi kita binasa oleh Allah. Doa semacam ini tidak akan dikabulkan oleh Allah karena merupakan serapah terhadap orang lain. Artinya, doa yang kita panjatkan tidak boleh bersifat negatif: demi kehancuran orang lain. Doa harus positif, produktif, dan konstruktif. Misalnya, doa keselamatan, kesuksesan, keberkahan, dan semacamnya. Doa idealnya tidak menimbulkan jatuhnya “korban” orang lain.

Doa seyogianya tidak terlalu pragmatis, berkepentingan sempit, dan materialistik seperti doa ingin kaya. Dalam perspektif awam, doa ingin kaya sebenarnya tidak ada salahnya. Tetapi dari perspektif tasawuf, doa ingin kaya jelas tak patut disampaikan, karena hal demikian menunjukkan ketidakberayukurannya atas limpahan rahmat dan nikmat dari Allah. Dalam perspektif tasawuf, orang diberi kesehatan saja sudah merupakan karunia luar biasa. Oleh karena itu, seorang hamba mestinya “malu” menunjukkan kerakusannya kepada Tuhan dengan meminta kekayaan berlimpah.

Sebaiknya doa-doa yang kita panjatkan di tempat-tempat dan waktu mustajābah bukanlah doa negatif, dangkal atau banal. Tetapi doa yang memberikan efek positif dan peoduktif bagi kita dan orang lain. Selain itu, doa-doa tersebut jangan sampai membuat kita seperti “mendikte” Tuhan dengan panjangnya daftar permohonan yang kita sampaikan. Doa haruslah yang padat, elegan, dan tidak banal. Misalnya, doa ingin kaya bisa diubah menjadi doa agar zakat malnya bertambah setiap tahun. Di dalamnya ada kebajikan untuk sesama. Inilah yang disebut sebagai kedalaman atau kebermaknaan doa. [MZ]

Masdar Hilmy
Masdar Hilmy Guru Besar dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya