Masdar Hilmy Guru Besar dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya

Ekspansi Produk China di Mekkah-Madinah

3 min read

Jemaah haji berbelanja di Pasar Seng. Source: haji.dream.co.id

Ada perbedaan mencolok antara Mekkah-Madinah 2019 dengan Mekkah-Madinah 2013 ketika untuk pertama kalinya penulis berkunjung kedua kota suci tersebut. Pada tahun 2013 penulis tidak banyak menjumpai produk-produk China bertebaran di sudut-sudut kota. Sementara sekarang ini, sangat sulit menghindarkan diri dari berbagai produk China, saking banyak dan membludaknya barang-barang tersebut. Produk China bertebaran di mana-mana, mulai dari yang kecil-kecil seperti mainan anak-anak sampai yang besar-besar seperti mobil dan semacamnya.

Jika 2013 belum ada mobil buatan China, sekarang sudah banyak. Bus-bus transportasi banyak dibeli dari China. Kalau dulu bus banyak didatangkan dari Jerman seperti Mercedez-Benz (Mercy). Sekarang ini hampir semua bus yang beredar di Mekkah dan Madinah adalah buatan China. Hal tersebut bisa dilihat dari merek-mereknya seperti Zhongtong, Yutong, King Long, dan lain-lain. Tidak seperti bus Jerman yang didominasi oleh satu pabrikan saja, misalnya Mercedez-Benz. Tampaknya ada banyak pabrikan bus China yang dibeli oleh Kerajaan Arab Saudi.

Konon, harga bus China sepertiga dari harga bus Mercy. Itu pula yang membuat pihak Arab Saudi lebih memilih bus-bus dari China ketimbang bus Eropa. Sekalipun harganya sepertiga dari bus Mercy, bus-bus China tidak kalah nyaman. Artinya, produk kendaraan dari China tidak bisa diremehkan. Bukan hanya bus saja yang beredar di dua kota suci tersebut, tetapi juga mobil-mobil pribadi seperti Geely, Chery, Foton, Great Wall Motors, Dongfeng Motors, dan lain sebagainya. Ternyata merek mobil China lebih banyak dan variatif dibanding merek mobil Eropa yang hanya itu-itu saja.

Bukan hanya soal mobil. Produk-produk buatan China juga merambah seluruh perlengkapan dan peralatan ibadah bagi kamaah haji dan umrah seperti sajadah, kopiah, tasbih, sorban, dan lain sebagainya. Belum lagi jika kita melihat produk teknologi komunikasi (handphone) seperti Huawei. Ini artinya bahwa China sudah menguasai pasar Arab Saudi mulai barang-barang kecil hingga produk besar. Beredarnya produk buatan China menunjukkan betapa masifnya dominasi produk China di pasar global, sekaligus keseriusan negeri tersebut berkompetisi dengan negara-negara lain.

Baca Juga  Teologi Puasa di Era Pandemi Covid-19

Penulis pernah mengulik mengapa produk China begitu masif dan variatif. Ternyata, hampir seluruh produk China merupakan hasil olahan industri rumahan (home-industry) yang diproteksi oleh negara. Untuk sebuah kendaraan, misalnya, setiap suku cadang (spare-parts) diproduksi oleh perusahaan rumahan yang berbeda-beda: ada perusahaan ban, mesin, kaca, bodi mobil, dan lain-lain. Setelah selesai dibuat, baru produk-produk tersebut dikaroserikan dan dirangkai menjadi satu. Artinya, negara hadir untuk mempromosikan dan memproteksi produk-produk warganya.

Membangun Kehormatan Diri

Melihat begitu membludak dan masifnya barang-barang buatan China, ingatan penulis tertuju pada sebuah hadis yang menurut banyak muhaddithūn berkategori palsu—sebagian mengklasifikasikannya sebagai da‘īf—“utlubū al-‘ilm wa law bi al-Sīn” (carilah ilmu walau ke negeri China). Ya, China memang fenomenal. Bukan saja pada masa sekarang, tapi juga jauh sebelum itu: semasa Rasulullah SAW pada abad ke 7M. Pada saat itu China sudah menjadi kiblat peradaban. Jika sekarang China begitu mendominasi dunia, sebenarnya kita tidak usah kaget bin heran karena sudah punya akar sejarah yang begitu kuat di panggung dunia.

Lantas, apa yang menjadi resep kunci sehingga China begitu dominan dan digdaya? Menurut penulis, kuatnya dominasi China berkat komitmen rakyatnya, terutama para pemimpinnya, membangun marwah bersama atau kehormatan diri. Kisah China bukan hanya soal suksesnya. Negeri Tirai Bambu ini juga pernah berada di tubir jurang kehancuran, terutama akibat dua kali perang candu. Perang Candu yang pertama (1839-1842) dan Perang Candu kedua (1856-1860) dengan Inggris yang dibantu oleh Perancis. Akibat dua Perang Candu tersebut, PDB China turun drastis hingga separuhnya dan kekuasaan wilayahnya digerogoti dengan masuknya Hong Kong dan Makau ke dalam protektorat Inggris pada akhir abad 20.

Baca Juga  Ujian Nasional dan Virus Corona, Analisis Dampak dan Solusinya

Dua perang inilah yang, salah satunya, menyebabkan mundurnya ekonomi China dan memaksa sebagian warganya mencari penghidupan yang lebih baik di luar daratan China. Sebagian memilih eksodus ke wilayah Asia Tenggara, termasuk Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Di Indonesia, mereka beranak pinak menjadi warga keturunan yang telah mengalami gelombang fluktuasi kehidupan seperti naik-turunnya roller-coaster. Terkadang di atas, terkadang di bawah. Sebagian mereka sudah berasimilasi dengan penduduk setempat, bahkan sebagian lainnya berpindah agama menjadi Muslim.

Ulet dan Tahan Banting

Bagaimana kehidupan peranakan China di Indonesia? Seperti yang disinggung di atas, mereka telah mengalami pahit-getirnya hidup dari kampung halaman. Bukan perkara mudah bagi mereka untuk berasimilasi dengan kultur setempat. Di sisi lain, penduduk lokal juga tidak mudah memberikan kepercayaan kepada peranakan keturunan. Hal ini seringkali disebabkan oleh faktor kecemburuan akibat kesenjangan ekonomi antara mereka dengan penduduk pribumi. Karena merasa hidup jauh di rantau, banyak warga peranakan yang hidup prihatin demi kemandirian ekonomi. Tidak seperti warga pribumi yang sudah merasa safe sejak lahir, mereka harus membangun social security sendiri karena mereka tidak bisa menggantungkan nasibnya kepada warga pribumi.

Hidup dari nol (live from skretch), akhirnya sebagian besar dari mereka berhasil membangun kehidupan ekonominya dengan berdagang. Sebagian kecil bahkan menjadi orang terkaya di Indonesia. Mereka akhirnya memanen hasil jerih payah yang sudah ditelateni sejak lama. Mereka dikenal sebagai generasi yang tahan banting dan kuat menjalani penderitaan. Tidak jarang mereka harus menghadapi prasangka pribumi yang iri terhadap keberhasilan ekonominya. Mereka juga sering menjadi korban politik dari huru-hara yang sengaja diciptakan oleh kelompok tertentu yang tidak bertanggung jawab. Setidaknya dua kali masyarakat peranakan menjadi kambing hitam dari kerusuhan sosial politik yang terjadi di Indonesia. Yang pertama adalah pada awal Orde Baru dan kedua pada akhir Orde Baru. Sebagian kecil dari mereka bahkan hampir kembali ke China daratan akibat tekanan politik yang terjadi di beberapa tempat.

Baca Juga  Habib, Dicintai dan Mencintai

Peta Jalan

Pertanyaan besarnya, bisakah Indonesia meniru kesuksesan China membangun kerajaan ekonomi yang merambah pasar global? Bisa, tetapi bukan persoalan mudah untuk merealisasikannya. Bangsa kita telanjur dimanjakan oleh situasi dan kondisi kekayaan alam yang melimpah. Kita juga bukan bangsa petualang seperti mereka. Kita memang punya diaspora warga Indonesia di mancanegara, tetapi eksistensi dan jejaring di antara mereka tidak sekuat warga keturunan China. Kebanyakan kita terkonsentrasi ke dalam kelompok suku dan asal daerah yang berbeda-beda. Akibatnya, mereka tidak terikat oleh sebuah imajinasi dan perasaan senasib sebangsa dan setanah air.

Kita memang bisa meniru kesuksesan China merambah dunia, tetapi peta jalan mereka tidak harus sama dan, bahkan, harus berbeda dengan kita. Mereka punya semboyan: “if you cannot beat your enemies, join them” (jika kamu tidak bisa mengalahkan musuhmu, maka bergabunglah). Sebagai negara komunis, tentu saja mereka menganggap Barat sebagai musuhnya. Tetapi mengalahkan Barat dalam gal dominasi dan hegemoni ekonomi bukan perkara mudah. Akibatnya, mereka mereplikasi peta jalan Barat dalam membangun kekuatan ekonominya. Artinya, China tidak konsisten dengan kerangka kerja Komunisme dalam membangun kekuatan ekonominya.

Apa yang mungkin bisa direplikasi dari mereka adalah etos perdaban yang dikenal ulet, tahan banting dan tidak mudah menyerah. Etos ini bisa direplikasi mentah-mentah oleh bangsa kita karena kebenarannya berlaku universal. Etos peradaban semacam ini juga sangat sejalan dengan konsep-konsep kunci dalam Islam, seperti “man jadda wajada” (barangsiapa bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil). Juga konsep menunda kesenangan, kenikmatan dan kenyamanan sebelum berhasil meraih cita-cita yang diimpikan. Berikutnya adalah solidaritas kebangsaannya yang sangat solid menghadapi gempuran-gempuran politik identitas. Selamat mencoba!

Masdar Hilmy
Masdar Hilmy Guru Besar dan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya