Martinus Joko Lelono Pastor Katolik dan Pengajar Kajian Agama dan Dialog di Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma

Dilema Sakral-Profan

2 min read

“Moralitas yang harus ditumbuhkan haruslah memiliki watak utama yang berupa keterlibatan kepada perjuangan si miskin untuk memperoleh kehidupan yang layak dan penghargaan yang wajar atas hak-hak asasi mereka. Hanya dengan cara demikianlah derajat agama itu sendiri ditunjang oleh para pemeluknya.”

Abdurrachman Wahid (Tempo, 17 Juni 1978)

 

Sebagai orang yang belajar tentang agama-agama sekaligus seorang pemimpin agama, saya merasa tertohok oleh kata demi kata yang digunakan oleh Gus Dur untuk menjelaskan tentang apa artinya moralitas sebagai buah dari keberagamaan kita. Meski mengulik terutama tentang Islam, tulisan ini tak diragukan lagi menjadi permasalahan pelik bagi pemeluk agama, terutama pemimpinnya.

Permasalahan bagaimana menghubungkan antara relasi dengan Allah dengan relasi  sesama menjadi permasalahan yang begitu jamak ditemukan dalam agama-agama. Di dalam agama Katolik di Indonesia, pernah terdengar ungkapan altar dan pasar yang menunjuk kepada kegiatan ritual dan kehidupan konkret bermasyarakat sehari-hari.

Baik dalam Islam, maupun dalam Kekatolikan rupanya keprihatinan mengenai hubungan antara ritual agama dan kehidupan sehari-hari pernah menjadi keprihatinan. Dalam artikel yang sama dengan bagian pengantar tulisan ini, Gus Dur mengatakan:

“Keinginan untuk menghilangkan tekanan terlalu besar atas urusan ukhrawi dan mengembalikan perhatian kepada soal-soal duniawi dalam proporsi yang wajar, akhirnya mengakibatkan dikotomi dalam sikap dan pandangan hidup muslim modern. Dikotomi itu terutama mengambil bentuk pemisahan antara soal-soal duniawi dan soal-soal ukhrawi, di mana sikap dan pandangan si muslim modern itu menjadi berjarak sangat jauh dalam menangani antara keduanya (Tempo, 17 Juni 1978)”.

Martasudjito dalam artikelnya tahun 2013 mengatakan:

“Keprihatinan orang-orang agar Gereja tidak hanya sibuk di seputar altar tetapi juga harus terlibat dalam kancah perjuangan masyarakat di pasar tentulah valid atau sah. Tetapi dikotomi atau pemisahan semacam itu dapat berbahaya, seolah-olah hidup doa dalam konteks pengungkapan iman untuk hubungan dekatnya dengan Tuhan, dan hidup karya dalam konteks keterlibatan hidup di tengah masyarakat merupakan dua hal yang harus dibedakan dan makanya seolah-olah harus dibuat seimbang atau diperhatikan semua (Martasudjita 2013)”.

Baca Juga  Belajar Islam pada Mualaf

Di sini kita sama-sama menemukan adanya keprihatinan mengenai terpisahnya berbagai bentuk kegiatan ritual dengan cara hidup bersama. Dalam konteks yang lebih luas, pertanyaan ini menghantar kita tentang pentingnya membahas bagaimana agama bisa menjadi inspirasi untuk berbuat kebaikan.

Mengikuti kata-kata Mangunwijaya, “Memuliakan Allah, Mengangkat Manusia,” kita diundang untuk kembali mempertanyakan peran kita sebagai orang-orang beragama di negeri ini. Apakah agama sekedar ritual yang dijalankan terus menerus ataukah ritual yang mengubah cara orang untuk hidup dan bermakna di tengah-tengah hidup bermasyarakat? Di balik pertanyaan itu terdapat keprihatinan mengenai bagaimana orang memahami relasi dengan Allah adalah jalan untuk membangun diri supaya bisa berelasi baik dengan sesama.

Manusia Peziarah

Dalam simpulannya, Martasudjito mengatakan, “hidup kita dalam bentuk kegiatan apapun, entah berdoa atau bekerja, sedang dialtar atau di pasar—selalu menjadi medan Allah yang sedang memberikan diri-Nya, yakni kasih, belaskasih, dan pengampunan-Nya sekaligus (Martasudjita 2013). Sementara Gus Dur mengungkapkan, “Moralitas Islam adalah moralitas yang merasa terlibat dengan penderitaan sesama manusia, bukannya yang justeru menghukumi mereka yang menderita itu.”

Untuk membaca dua kecurigaan dua penulis tentang cara beragama dari dua agama yang berbeda ini, mari kita mendengarkan pendapat Mircea Eliade yang menulis buku The Sacred and The Profane. Dengan baik di sana dikatakan:

“Adanya jurang yang memisahkan dua pengalaman “Sakral dan profan” terlihat ketika kita mendeskripsikan ruang sakral dan bangunan ritual tempat tinggal manusia…. Di sini masyarakat modern melihat tindakan fisik, seks dan sebagainya hanya sebagai fenomena semata…. sementara masyarakat primitif memandang tindakan seperti ini tak sekedar hanya tindakan bersifat sisik saja, melainkan sebagai sebuah sakramen atau persekutuan dengan yang sakral (Eliade 1959)”.

Baca Juga  Klepon, Propaganda dan Bijak Menanggapi Informasi Menurut Alquran

Dari pembacaan ini, kita bisa belajar merujuk kembali pengalaman-pengalaman harian sebagai bagian dari relasi dengan Tuhan. Eliade menambahkan, “Bagaimanapun, manusia religius percaya bahwa ada realitas absolut, sakral, yang melampaui dunia, tetapi menghadirkan dirinya dalam dunia dan dengan cara itu menguduskan dunia (Eliade 1959)”.

Menjadi pertanyaan lanjut bagi orang beragama, “Apakah kita beragama hanya untuk menyembah Tuhan, ataukah untuk menyucikan dunia, saat banyak orang bertolong-tolong saling membantu menghadirkan kebaikan untuk semua?” Dari dalam hati kita sebagai orang-orang beragamalah, kita bisa mendapat jawab atas pertanyaan tersebut. (MMSM)

Martinus Joko Lelono Pastor Katolik dan Pengajar Kajian Agama dan Dialog di Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma