M Mujibuddin Alumnus Pascasarjana Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Editor Arrahim.id

PNS dan Problem Standarisasi Kehidupan

2 min read

Bulan November adalah bulan yang diimpikan oleh para pencari kerja. Bulan ini akan ada ratusan ribu orang mendaftarkan diri sebagi abdi negara. Semua akan berlomba-lomba memperebutkan tiket sebagai abdi negara yaitu dengan menjadi Pegawai Negeri Sipil atau PPPK.

Gaji tetap dan tunjangan hari tua adalah dambaan yang ingin dicapai oleh setiap insan. Usaha demi usaha pun dilakukan untuk mendapat jaminan hidup yang layak. Bimbel CPNS, buku-buku tips lolos CPNS dibeli, hingga belajar di media sosial. Tujuan daripada itu adalah untuk mendapatkan skor tinggi dengan harapan lolos tes sehingga dapat menjamin kehidupan yang layak.

Kehidupan layak adalah standar materil yang didampakan oleh generasi muda saat ini. Kerja PNS adalah salah satu pekerjaan yang dapat menunjang hidup layak karena bisa nyicil rumah, beli mobil, dan mendapat jaminan hari tua. Ditambah lagi ongkos untuk keperluan pribadi dan kehidupan sosial juga semakin naik seperti gadget baru, pakaian trending dan bermerk, bahkan pilihan menu makan juga telah terstandarisasi.

Standarisasi demikian adalah bukti bagaimana era modern saat ini, dengan gemerlap komoditi dan rasionalitasnya, mampu menghipnotis jutaan orang untuk mendapatkannya. Jika belum pernah nongkrong di mall, liat film dibioskop, makan McDonalds-meski semuanya dilakukan sekali- dinilai katrok, ndeso, kurang gaya, dan sejenisnya.

Asumsi tersebut lahir dari standarisasi yang telah dibikin sebelumnya. Oleh karena itu, selain menjadi karyawan tetap dengan gaji umr tinggi, PNS menjadi salah satu ladang yang bisa membantu generasi muda untuk memenuhi standar tersebut. Gaji bulanan yang pasti dapat diplanning untuk memenuhi standar tersebut. Asal gajinya cukup sampai tanggal gajian keluar lagi semua bisa teratasi.

Yang menjadi masalah serius adalah apabila ASN atau PNS yang diterima tidak puas atau masih merasa kurang dengan gaji dan tunjangan yang ia terima. Kurangnya gaji untuk memenuhi kehidupan sehari-hari disebabkan, salah satunya, karena pemenuhan kebutuhan hidup yang sudah terstandarisasi demikian. Orang dengan kerja PNS merasa gengsi jika gadgetnya masih Ram 4, motornya masih keluaran 2010 ke bawah, dan komoditi kebutuhan tersier lainnya.

Baca Juga  Ibn ‘Arabi: Agamaku adalah Agama Cinta

Para pegawai negeri yang kurang bisa menahan keinginan akan merasa kurang dengan gajinya. Untuk melengkapi kebutuhan itu terdapat beberapa oknum yang memainkan jabatan untuk menambah pundi-pundi cuan seperti melakukan korupsi dan pungli, baik yang dilakukan oleh oknum ditingkat lokal maupun tingkat nasional. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk meminalkan kesempatan orang untuk melakukan tindakan demikian, namun hasilnya masih belum maksimal.

Apapun yang dilakukan oleh pemerintah untuk memberantas korupsi dan pungli tidak akan berhasil apabila tidak menyandarkan pada dimensi spiritual dan batin manusia. Berbicara terkait dengan sikap korupsi dan pungli, itu disebabkan karena adanya hasrat keinginan untuk memiliki sesuatu yang lebih.

Keinginan itu diciptakan dari jiwa yang mendorongnya untuk selalu merasa kurang. Dorongan atau hasrat ini menimbulkan tindakan-tindakan yang dapat merugikan diri sendiri, orang lain, maupun lembaga. Seorang filsuf dari era Hellenistik pernah mengatakan bahwa ketika manusia masih diselimuti oleh hasrat dan keinginan duniawi, maka jiwanya tidak akan pernah merasa bahagia.

Seorang ulama muslim, Imam Abu Hamid Al Ghazali, pernah mengatakan bahwa nafsu atau hasrat tidak bisa dihilangkan dari kedirian manusia karena ia ada dalam tubuh manusia. Melalui hasrat ini mampu mendorong manusia untuk bertindak rakus. Ketika manusia menginginkan sesuatu, namun gajinya tidak mencukupi untuk memiliki barang tersebut, maka ia bisa melakukan tindakan korupsi atau pungli. Oleh karena itu, Al Ghazali mengajarkan tirakat riyadhah untuk mengendalikan nafsu. Dengan laku riyadhah ini, manusia tidak lagi menyandarkan kebahagiannya pada pemenuhan standarisasi kehidupan, melainkan menyandarkan kepada Tuhan.

Apa yang diajarkan oleh para filsuf Yunani maupun ulama terdapat persamaan secara substansi bahwa manusia tidak diperbolehkan menyandangkan standar hidup bahagia pada materi. Ketika manusia menyandarkan kebahagiaan dalam bentuk materi dengan cara melengkapi semua standar hidup modern saat ini, ia tidak akan pernah merasa cukup dan akan selalu merasa kurang. Sejauh apapun usaha manusia untuk mengejar dunia tidak akan pernah sampai.

Baca Juga  Saya Malu Menjadi Dosen PTKI Saat Pandemi Melanda Negeri Ini

Sikap dan tindakan tersebut harusnya dapat diinternalisasikan dalam diri PNS. Perlu diingat bahwa mereka adalah pelayan masyarakat. Yang namanya pelayan harus mampu memanfaati sesama, tidak perlu memberi tarif atas jasanya, tidak perlu mengutil anggaran untuk keperluan pribadi atau tindakan lainnya.

M Mujibuddin Alumnus Pascasarjana Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Editor Arrahim.id