Muhammad Mujibuddin SM Alumnus Pascasarjana Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Editor Arrahim.id

Ustadz ‘Media’ sebagai Primadona Generasi Muda untuk Belajar Islam

2 min read

ltnnujabar.or.id

Pada tanggal 23 Maret lalu, International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) bekerjasama dengan Gusdurian merilis hasil penelitian yang dilakukan pada bulan Desember 2020 lalu. Penelitian yang dilakukan di enam kota ini merupakan lanjutan dari penelitian yang dilakukan pada tahun 2016 dengan tema yang sama yaitu “Persepsi dan Sikap Generasi Muda Terhadap Intoleransi dan Ekstremisme Kekerasan”.

Terdapat beberapa tema yang diusung dalam penelitian ini salah satunya yaitu mengenai tokoh agama nasional yang dikenal atau diidolakan oleh kalangan muda. Ada dua pertanyaan yang diajukan untuk melihat tokoh agama di kalangan anak muda. Pertanyaan pertama siapa tokoh agama yang diidolakan.

Secara berurutan, tokoh agama yang diidolakan paling banyak ditempati oleh ust. Abdul Somad 22,1%, Gus Baha 18,1%, Habib Rizieq 12,4%, Aa Gym 10,0%, Evie Effendi 7,0 %, Anwar Zahid 4,7%, Yusuf Mansyur 3,5%, Gus Miftah 2, 7%, Zakir Naik 2,7%, Hanan Attaki 2,6%, Habib Bahar bin Smith 2,3%, Adi Hidayat 1,9%, Quraisy Syhab 1,9%, Buya Hamka 1,8%, Ali Jaber 1,7%, KH. M Aqil Siraj, 1,6%, Paus Fransiskus 1,4%, Bunda Teresa 1,4%.

Menariknya terdapat perbedaan tokoh yang diidolakan antara survei tahun 2016 dan tahun 2020. Pada survey 2016, tokh muslim yang diidolakan didominasi oleh nama-nama tokoh muslim moderat, sedangkan survei tahun 2020 lebih didominasi nama-nama yang banyak tayang di media.

Sementara pertanyaan kedua adalah tokoh Muda (maksimal usia 40 tahun) di Indonesia yang dikenal dan diidolakan oleh informan. Secara berurutan nama tokoh muda yang paling banyak diidolakan dan dikenal di antara adalah Hanan Attaki menempati posisi pertama, kemudian disusul dengan Evie Effendi, Felix Siauw, Ust. Riza Muhammad, Oki Setiana Dewi, Ahmed Zam Zam, Taqy Malik, Ust. Maulana, Ryo Haryanto, Ust. Muzammil, Sabrang Mowo Damar.

Baca Juga  Nyanyian Darah dan Senapan di Papua: Refleksi Hari Perdamaian Internasional 2020

Belajar Agama dari Ustadz Media

Menariknya, tokoh muda muslim yang banyak diidolakan oleh kalangan muda adalah mereka yang sering terlihat di media maya. Kemunculannya diwarnai dengan beragam ekspresi keagamaan, baik dari segi ajaran, metode berceramah, hingga tren pakaiannya.

Bagi kalangan muda, belajar agama melalui layanan internet adalah hal yang jamak diketahui. Media Youtube, misalnya, telah memberikan apa yang dibutuhkan oleh kalangan muda ketika hendak belajar agama. Tidak jarang tokoh agama sering muncul di media Youtube atau media lainnya dan oleh karenya mereka seringkali disebut sebagai “ustadz media”. Oleh karenanya, ketika anak muda ditanya siapa tokoh muda muslim yang diidolakan maka ia akan merujuk pada tokoh yang pernah dilihat di Youtube  dan media sosial lainnya.

Ini merupakan penggambaran dari fenomena post truth di kalangan muda. Ia tidak perlu repot-repot untuk belajar agama di pesantren atau madrasah. Bermodalkan smartphone dan internet ia dapat belajar agama sesuai yang diinginkan dan dapat memilih ustadz yang memenuhi hasrat religiusitasnya.

Bagi tokoh agama muda, media sosial dapat dimanfaatkan untuk ceramah mengenai satu topik agama tertentu, baik itu mereka upload sendiri maupun dari orang lain. Biasanya ceramah yang disampaikan tidak panjang, seperti pengajian pada umumnya, namun pembahasan materinya tuntas. Hal ini dimaksudkan agar penonton tidak bosan untuk mendengarkan isi ceramahnya, dan secara keseluruhan mereka dapat menerima pesan yang terkandung dalam materi tersebut.

Model-model ceramah seperti itu seringkali kita lihat di media sosial. Jika merujuk pada nama-nama di atas, tokoh muda yang menjadi primadona adalah  mereka yang mengaku telah “berhijrah” .  Misalnya Ust. Hannan Attaki sebagai tokoh diperingkat pertama. Ust. Hannan Attaki berceramah dengan gaya bahasa yang mudah dipahami dan gaya pakaian yang ala milenialis.

Menurut laporan dari INFID di atas, alasan dibalik pengidoalaan tokoh agama tersebut tidak lain karena materi yang disampaikan mudah untuk dipahami. Fenomena seperti ini bukan soal salah atau benar materi yang disampaikan, akan tetapi sejauh mana penceramah dapat menyusun diksi ceramahnya agar mudah dipahami oleh kalangan muda. Maka tak heran jika tokoh-tokoh muda yang dikenal dan diidolakan oleh kalangan muda adalah mereka yang sering bermunculan di media dengan materi yang mudah dipahami. (MMSM)

Baca Juga  Huluisasi dan Hilirisasi Integrasi Keilmuan di PTKI [Bagian 2]
Muhammad Mujibuddin SM
Muhammad Mujibuddin SM Alumnus Pascasarjana Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Editor Arrahim.id