



Ada satu hal di dunia ini yang menjadi anugerah paling besar yang diturunkan Allah kepada hamba-Nya. Ia menjadi satu mutiara yang paling berharga yang mana seorang Muslim sangat diwajibkan untuk mencarinya. Mutiara itu adalah Ilmu pengetahuan.
Saya mengatakan bahwa seorang muslim ‘sangat diwajibkan’ untuk mencari Ilmu, karena dalam hadis Nabi yang sudah sangat familiar berbunyi:
طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلمة
“Mencari ilmu sangat diwajibkan bagi setiap muslim dan muslimah”
Dalam hadis tersebut, penggunaan kata فريضة (bukan فرض) dalam ilmu Nahwu termasuk dalam Shighot Mubalaghoh, yang berarti mengandung makna ‘sangat’. Ini memberi arti bahwa mencari ilmu adalah hal yang sangat penting. Karena ilmu merupakan titik perbedaan antara manusia dengan makhluk yang lain.
Sebenarnya ilmu yang diturunkan di dunia itu sangat sedikit dibanding dengan keluasan ilmu Allah seutuhnya. Ia ibarat setetes air dibanding dengan samudra yang sangat luas. Yang sedikit itulah yang akhirnya menjadi ilmu bagi manusia di seluruh dunia ini.
Demikian itu telah dijelaskan dalam al-Qur’an Surat al-Isra’ ayat 58
وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.
Tanggung Jawab Pencari Ilmu
Meskipun kita diwajibkan untuk mencari ilmu, namun, yang harus sepenuhnya kita sadari adalah bahwa yang paling penting bukanlah tentang seberapa banyak ilmu yang kita peroleh. Tetapi yang paling penting adalah kualitas ilmu yang kita peroleh.
Ilmu bukanlah sesuatu yang harus ditimbun sebanyak-banyaknya tanpa diamalkan. Ilmu sebagai sesuatu yang diinput ke dalam diri manusia, haruslah menghasilkan output yang sesuai juga. Tentu kita tahu, apa yang dimakan oleh manusia, pasti nantinya akan dikeluarkan juga. Apa jadinya jika seseorang makan tanpa pernah buang air, bukankah pasti akan menjadi penyakit dalam tubuh kita?
Setidaknya ada tiga hal yang harus menjadi output dari Ilmu yang kita peroleh. Dan inilah yang sekaligus menjadi tanggung jawab bagi setiap orang yang berilmu.
Pertama, Tanggung jawab intelektual.
Setiap ilmu yang kita peroleh merupakan amanat bagi kita. Sebisa mungkin ilmu yang kita dapat harus kita sebarluaskan kepada selain kita. Ilmu tidak pernah sama dengan harta. semakin banyak diberikan kepada orang lain tidak akan membuat ilmu kita semakin berkurang. Bahkan seringkali dengan mengajarkan suatu ilmu kepada orang lain, kita akan memperoleh ilmu-ilmu baru. Namun, hal yang harus kita sadari, dalam menyebarkan ilmu haruslah sesuai dengan kapasitas keilmuan yang kita miliki.
Tanggung jawab intelektual yang lain di antaranya adalah dengan memperbanyak berkarya dari setiap ilmu yang kita peroleh. Selain itu, setiap orang yang berilmu tidak boleh berhenti belajar. Jika seseorang yang berilmu telah berhenti belajar, maka ia dapat dikatakan tidak memiliki tanggung jawab intelektual.
Kedua, tanggung jawab spiritual.
Pada dasarnya ilmu yang kita peroleh seharusnya dapat membuat kita semakin dekat dengan Allah. Ilmu yang kita dapat pada hakikatnya merupakan cahaya petunjuk untuk jalan kita menemukan Allah. Jika semakin banyak ilmu yang kita dapat, tetapi tidak lantas membuat kita semakin merasa dekat dengan allah, maka ilmu tersebut dapat dikatakan sebagai ilmu yang tidak bermanfaat.
Dalam suatu Hadis dikatakan bahwa:
من ازداد علما ولم يزدد هدى، لم يزدد من الله إلا بعدا
“barang siapa yang semakin bertambah ilmunya, tetapi tidak bertambah petunjuknya, maka ia hanya akan semakin jauh dari allah”
Tanggung jawab spiritual bagi setiap orang yang berilmu merupakan sebuah keniscayaan. Karena dengan ilmu kita aka mengetahui syariat-syariat allah. Sedangkan tahap pendekatan kepada allah yang paling awal adalah menjalankan syariat dengan penuh keimanan dan pengetahuan.
Ketiga, tanggung jawab sosial.
Masyarakat kita sudah terlalu sering disuguhi fenomena-fenomena kerusakan moral sosial yang justru dilakukan oleh orang yang berpendidikan tinggi. Sebut saja kasus korupsi yang dilakukan oleh pejabat yang tak henti-hentinya mewarnai kehidupan bernegara ini. Padahal bisa dipastikan para pejabat tersebut merupakan orang yang berpengetahuan luas, minimal dalam hal birokrasi kepemerintahan.
Hal ini menunjukkan tidak adanya tanggung jawab moral-sosial bagi pejabat tersebut. Islam sebenarnya ingin mengatakan bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, maka seharusnya semakin baik kehidupan sosialnya. Hal ini karena Islam bukan saja mengandung ajaran spiritual saja. Islam juga sangat menekankan aspek sosial.
Banyak isyarat dalam al-Qur’an yang menunjukkan bahwa berislam haruslah seimbang antara spiritual dan sosial. Hal ini dapat ditunjukkan dengan setiap ayat yang memerintahkan untuk mendirikan sholat (hubungan vertikal dengan allah), pasti dilanjutkan dengan perintah menunaikan zakat (hubungan sosial dengan manusia).
Walhasil, kualitas keilmuan seseorang setidaknya dapat diukur dari bagaimana tanggung jawab intelektual, spiritual, dan sosialnya. Inilah yang seharusnya menjadi output dari setiap ilmu yang kita peroleh.
Wallahu a’lam… (mmsm)
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Sunan Kalijaga; Sedang Mengabdi di PP Wahid Hasyim Yogyakarta