



Penulis ingin sedikit mengkaji perihal rezeki. Mungkin, sekelumit kata mengupas tuntas keresahan kita mengenai rezeki. Sering kali kita kebingungan ketika membahas tentang rezeki. Pertanyaan yang sering terjadi adalah apakah rezeki bisa bertambah jika dicari dan bisa berkurang jika tidak mencarinya?. Di sinilah penulis akan membahas kebingungan kita mengenai rezeki sebagai bentuk refleksi kita merenungi apa yang telah diberikan Allah kepada kita.
Dalam kitab Minhajul Abidin, Imam Ghazali mengatakan bahwa rezeki sudah ditetapkan di lauhil mahfudz baik kadarnya maupun waktunya. Tidak ada satupun yang bisa mengggantikan hukum Allah serta tidak ada satupun yang bisa menggantikan bagian-bagian rezeki yang Allah berikan kepada hambanya. Menurutnya, pendapat ini adalah pendapat yang shahih dari beberapa pandangan ulama.
Sebagian ulama seperti pengikut Hatim dan Syaqiq mengatakan bahwa rezeki memang tidak bisa bertambah dan tidak berkurang disebabkan karena pekerjaan hambanya, tapi yang bertambah dan berkurang adalah harta. Pendapat ini menurut Imam Ghazali adalah pendapat yang fasid. Karena mengingat kepada dalilnya dalam dua tempat itu adalah satu, yakni catatan dan pembagiannnya.
Allah Berfirman dalam surah Al-Hadid ayat 23 yang berbunyi :
لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ
“(Kami jelaskan demiikia itu) supaya kalian jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari sisi kalian dan supaya kalian jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian.”
Seandainya dengan mencari rezeki itu dapat membuat rezeki bertambah dan sebaliknya jika tidak mencari akan berkurang niscaya hal itu dapat menyebabkan timbulnya rasa kecewa dan puas, maka orang yang lemah dan lambat tak akan banyak mendapatkan rezeki, sementara orang yang tekun dan ulet mencari akan mendapatkan rezeki yang banyak dan berlimpah.
Rasulullah pernah bersabda kepada seorang pengemis,
هَاكً لَوْلًم تَأْتٍهَا لأتَتْكْ
“Itulah, meskipun engkau tidak mendatanginya, maka rezeki itu sendiri yang akan mendatangimu.
Namun kita sempat bertanya-tanya. Orang yang mencari rezeki itu bisa menjadi orang sukses dan kaya. Sedangkan orang yang diam tidak mencarinya, dia tidak akan memperolehnya bahkan dia bisa menjadi faqir. Hal itulah yang sering kali menghantui pikiran kita.
Pertanyaan itu bisa dijawab dengan melihat kepada betapa banyaknya orang yang mencari rezeki tapi tetap saja dia miskin. Di samping itu, begitu banyak orang yang tidak mencari rezeki, memilih diam namun dia bisa saja menjadi orang kaya. Bahkan orang semacam ini yang sering kita temukan. Jadi kita perlu sadar diri, bahwa rezeki merupakan Takdir dari Allah yang maha Adil.
Syaikh Abu Bakar Muhammad bin Sabiq pernah bersyair kepada Al-Waizh ash-Shaqali di Syam dengan syair ini :
كَمْ مِنْ عَلِيمٍ قَوِيٍّ فِي تَقَلُّبِهِ مُهَذَّبِ اللُّبِّ عَنْهُ الرِّزْقُ يَنْحَرِفُ
كَمْ مِنْ ضَعِيفٍ سَخِيفِ الْعَقْلِ مُخْتَلِطٍ كَأَنَّهُ مِنْ خَلِيجِ الْبَحْرِ يَغْتَرِف
هَذَا دَليلٌ عَلى أن الاله لَهُ في الخلق سر خفي ليس ينكشفُ
“Berapa banyak orang yang kuat, berani serta cerdas namun rezeki berpaling darinya. Dan berapa banyak orang lemah dan pasif, tapi seakan rezekinya seperti memungut di lautan yang sangat luas. Ini adalah bukti bahwa Tuhan itu punya rahasia yang tidak mampu ditangkap oleh akal manusia”
Tak hanya itu, kadang kala pikiran kita terbesit karena rezeki sudah ada di tangan Allah maka kita tidak perlu untuk membawa bekal ketika perjalanan. Jawabannya, boleh-boleh saja tidak membawa bekal ketika kita memiliki iman yang kuat dalam hati terhadap Allah SWT serta percaya dengan apa yang dijanjikannya-nya, maka lakukanlah perjalanan itu. Sebaliknya, jika tidak memiliki sifat tawakkal yang sudah mantap, maka lakukan sebagaimana manusia lainnya, yakni membawa bekal.
Imam Ma’ali pernah berkata bahwa orang-orang yang bersikap terhadap Allah sebagaimana pada umumnya, maka Allah bersikap terhadapnya seperti pada manusia pada umumnya.
Akan tetapi, dalam Al-qur’an dijelaskan,
“وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
“Dan kita diperintahkan untuk berbekal. Bekal yang paling baik adalah dengan bekal taqwa.
Terdapat dua pendapat tentang tafsir ayat ini. Pertama, yang dimaksud firman Allah “sebaik-baiknya bekal adalah ketakwaan” adalah bekal di akhirat. Allah tidak menyebut harta benda dunia. Kedua, Ayat tersebut berkaitan dengan kaum yang tidak membawa bekal ketika berangkat haji karena meminta bantuan kepada orang lain, lalu mereka meragukan janji Allah. Mereka juga cenderung memaksa dalam berminta. Oleh karena itu, kaum tersebut diperintahkan untuk membawa bekal sebagai bentuk peringatan. Serta mengambil bekal dari penguasa lebik baik daripada bergantung kepada sesama jemaah haji. Inilah pendapat Ulama kita.
Beberapa kalimat di atas mungkin bisa menjadi pegangan hidup kita dalam menjawab pertanyaan yang terbesit di pikiran kita mengenai rezeki. Rezeki setiap orang sudah diatur oleh Allah. Sebagai hambanya, kita boleh saja berusaha mencari untuk mendapatkan rezeki itu ataupun diam saja jika sudah merasakan iman yang kuat bahwa rezeki setiap orang pasti ada. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam, (mmsm)
Mahasiswa Aktif Tasawuf dan Psikoterapi UINSA Suarabaya.