Muhammad Musyaffa' Kepala Pondok Pesantren Al Fithrah; Ketua Program Studi Ilmu Alquran dan Tafsir STAI Al Fithrah Surabaya; Alumnus S3 UIN Sunan Ampel Surabaya

Al-Muntakhabāt: Mahakarya KH. Achmad Asrori al-Ishaqi [Bag 2]

2 min read

Gambar: Kitab al-Muntakhabat
Gambar: Kitab al-Muntakhabat

Salah satu keistimewaan Kiai Asrori sebagai guru mursyid dalam mem­bina umat adalah pemilihan dan penerapan metode berdakwah yang tepat.

Setidak­nya ada tiga metode yang diterapkan oleh Kiai Asrori secara bertahap dan berkesinambungan. Pertama, metode uswah hasanah, yakni memberi dan menjadi teladan selama puluhan tahun secara istikamah, sehingga cara menuntun umat adalah meragakan dengan wujud praktik. Kemudian diikuti oleh cikal-bakal murid, pengikut dan pecintanya secara istikamah.

Kedua, mengadakan pengajian untuk membumikan tasawuf dan tarekat dengan dilandasi ayat-ayat al-Qur’an, hadis, dalil-dalil dan argemen yang kuat sebagai penguat, pemantap dan penggerak pada amaliah-amaliah yang telah dilakukan secara istikamah dan tuma’ninah.

Ketiga, menyusun kitab yang berisi tasawuf dan tarekat sebagai pegangan dan pedoman sesorang dalam berjalan menuju kehadirat Allah, rujukan bagi pecinta dan pemerhati tasawuf dan tarekat, dan objek kajian bagi peneliti ilmu keislaman [Setiawan, Majelis Lima Pilar, 1].

Di antara karya monumental Kiai Asrori adalah al-Muntakhabāt. Di sela-sela kesibukan dalam membina dan menuntun umat serta kepadatan jadwal majelis zikir, maulid al-Rasul, manaqib dan haul yang harus dipimpin Kiai Asrori, kurang lebih satu tahun beliau menyusun kitab al-Muntakhabāt sebanyak 2 jilid, dimulai hari Rabu, 3 Sya’ban 1426 H/7 September 2005 M. sampai Hari Jum’at, 1 Sya’ban 1427 H./25 Agustus 2006 M. Cetakan pertama pada tahun 1428 H./2007 M. yang diterbitkan oleh percetakan al-Wava Publising Surabaya [al-Ishāqī, al-Muntakhabāt, Cet. 1, Vol 2, 580.].

Pada tahun 2007 Kiai Asrori diberi ujian sakit oleh Allah. Di balik ujian tersebut terdapat hikmah besar, yakni Kiai Asrori memfokuskan diri pada penataan Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah dan mengembangkan pembahasan-pembahasan dalam kitab al-Muntakhabāt sehingga berkembang menjadi 5 jilid.

Baca juga: Kitab Basyāir Al-Ikhwān: Risalah Tentang Tasawuf-Tarekat Pertama Karya KH. Achmad Asrori Al-Ishaqi

Tidak sekadar itu, bab-bab yang ada dalam kitab al-Muntakhabāt ditata ulang. Semua pembahasan tentang Rasulullah diletakkan pada juz satu. Hal ini sebagai perwujudan kesempurnaan mahabbah pada Rasulullah, dan petunjuk bahwa seseorang yang ingin mendekatkan diri bersimpuh di hadirat Allah, atau bahkan kekasih Allah tidak dapat lepas dari jalinan rohani dan ikatan hati bersama Rasulullah Muhammad. Pendek kata, mereka harus melewati pintu Rasulullah.

Baca Juga  Ibnu Taimiyyah, Pemikiran Sufistiknya “Jarang” Diakui oleh Pengagumnya [Bag 1]

Pandangan Ulama tentang al-Muntakhabāt

Karya monumental Kiai Asrori ini mencerminkan kematangan keilmuan dan pemikiran penulisnya [Abdul Kadir Riyadi, Antropologi Tasawuf, 279.], hingga para ulama, baik lokal maupun internasional ikut memberkati, memberi pengantar dan mengapresiasinya. Di antaranya:

Pertama, Habīb Zayn b. Ibrāhīm b. Zayn b. Sumyt al-Husainī al-Hadramī al-Madanī: “Saudaraku fillāh KH. Achmad Asrori al-Ishaqi adalah sosok yang jernih dan sempurna. Ia telah menghadiahkan kitab al-Muntakhabāt kepadaku. Setelah saya baca dan analisa secara saksama, saya meyakini kitab ini mencakup faedah-faedah agung dan memiliki keindahan yang luar biasa”. Beliau juga berkata: “Engkau adalah orang yang dianugerahi dan dilimpahi rahmat Allah yang sangat besar”.

Mendengar ungkapan tersebut Kiai Asrori menangis sebagai respons syukur kehadirat Allah yang Maharahman, dan teringat isyarat Kiai Muhammad Usman, bahwa setelah kemursyidan Kiai Asrori terjadi fatrah tiga puluh sampai tujuh puluh tahun.

Baca juga: Al-Muntakhabāt: Mahakarya KH. Achmad Asrori Al-Ishaqi [Bag 1]

Shuhud al-minnah Kiai Asrori sudah mendarah daging, sehingga pujian tokoh besar kepadanya spontan dikembalikan pada rahmat Allah. Hal ini sebagai bukti Kiai Asrori termasuk ulama ahli hakikat.

Kedua, Habib Syaikh b. Ahmad al-Musawa Surabaya: “KH. Achmad Asrori al-Ishaqi adalah sosok yang dipenuhi oleh asrār (rahasia) Allah, dan dilindungi serta dinaungi pertolongan Allah yang Maha Jabbar. Ia putra KH. Muhammad Utsman, seorang guru mursyid panutan yang mempunyai garis keturunan dari Maulana Ishaq, salah satu Walisongo yang telah meletakkan fondasi dasar-dasar agama Islam di Indonesia. Beliau menyatakan:

“Penyusun al-Muntakhabāt adalah sosok yang diangerahi kemampuan dan keahlian dalam menjelaskan yang sulit dilakukan oleh orang lain. Ia dianugerahi ketaatan lahir dan batin yang terpadu sebagai media untuk bersyukur dan memuji kehadirat Allah”.

Ketiga, ‘Umar b. Hamīd b. ‘Abd al-Hādī al-Jīlānī Makkah al-Mukarramah: “al-Muntakhabāt merupakan kitab yang menyejukkan pan­dang­an dan melapangkan hati. Ia telah disusun dengan serius oleh KH. Achmad Asrori al-Ishaqi sosok guru mursyid karismatik, berakhlak mulia, ber­budi pekerti luhur, pendidik dan pembimbing. Kiai Asrori adalah sosok yang dianugerahi Allah daya magnet mahabbah yang luar biasa, sehingga bawaan hati manusia akan tertarik, mencintai, dan mengikutinya dalam satu titik bertakwa kepada Allah. [MZ]

Baca Juga  Dari Wawasan Pancasila ke Spiritualitas Pancasila

–Bersambung–

Baca juga: Al-Muntakhabāt: Mahakarya KH. Achmad Asrori Al-Ishaqi [Bag 3-Habis]

Muhammad Musyaffa' Kepala Pondok Pesantren Al Fithrah; Ketua Program Studi Ilmu Alquran dan Tafsir STAI Al Fithrah Surabaya; Alumnus S3 UIN Sunan Ampel Surabaya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *