Kusroni Dosen STAI al-Fithrah Surabaya; Alumnus S3 UIN Sunan Ampel Surabaya

Kitab Basyāir al-Ikhwān: Risalah tentang Tasawuf-Tarekat Pertama Karya KH. Achmad Asrori al-Ishaqi

2 min read

Foto: Republika.com
Foto: Republika.com

Kiai Asrori Al-Ishaqi (wafat 2009), dikenal sebagai mursyid Tarekat Qādirīyah wa Naqsyabandīyah, dan pendiri perkumpulan Jama’ah al-Khidmah, yang berpusat di Pesantren Al-Fithrah, Kedinding Surabaya. Kiai Asrori—begitulah para murid, santri, serta pengikut beliau biasa menyebut—merupakan salah satu kiai karismatik yang prolifik dalam menghasilkan karya tulis.

Karya monumental Kiai Asrori adalah al-Muntakhabāt fī Rābitat al-Qalbīyah wa Silah al-Rūhīyah [Ragam Kutipan Pilihan (tentang) Ikatan Hati dan Relasi Rohani]; sebuah mahakarya bergenre tasawuf-tarekat yang beliau tulis dalam kurun waktu antara 2006-2009, menjelang kewafatannya. Awalnya kitab ini dicetak dalam dua volume besar, kemudian menjadi lima volume dan dicetak sepaket dengan edisi terjemahan berbahasa Indonesia.

Nampaknya, bakat dan keahlian beliau dalam menulis tema-tema tasawuf-tarekat sudah terasah semenjak belia. Tesis ini berdasarkan pada salah satu naskah (manuskrip) kitab berjudul Basyāir al-Ikhwān fī Tabrīd al-Murīdīn ‘an Hararat al-Fitan wa Inqādhihim ‘an Syabkat al-Hirmān [Kabar Gembira (bagi) para Ikhwān (tentang upaya) Memadamkan (hati) para Murid dari Panasnya Fitnah, dan Menyelamatkan Mereka dari Jejaring Penghalang (dari Keberkahan)]. Dalam halaman penerbitan, tidak tercantum secara jelas kapan kitab ini dicetak, namun dalam satu endorsment yang ditulis oleh al-Maghfūr lah, KH. Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta di bagian depan kitab ini, tertulis tahun 1400 H. atau sekira 1980 M.

Jika dirunut sampai sekarang, berarti kitab ini sudah diterbitkan 40 tahun yang lalu. Bisa dipastikan, bahwa para santri, murid tarekat, dan pengikut beliau tidak banyak yang tahu tentang kitab yang ditulis dengan bahasa Arab yang fushah ini. Karena penulis sendiri—secara tanpa sengaja—menemukan naskah kitab ini di salah satu sudut perpustakaan di Pesantren Al Fithrah Surabaya, beberapa bulan yang lalu. Senang sekali rasanya saat menemukan salah satu karya emas beliau ini, yang saat penulis temukan sudah dalam kondisi berwarna kecoklatan dan jilidannya sudah hampir rontok.

Baca Juga  Puisi: Bulan Yang Turun Ke Jendela

Sesuai dengan judulnya, kitab ini berisi kutipan-kutipan pilihan dari sumber-sumber autentik dan otoritatif tentang berbagai aspek dan problematika dalam tasawuf dan tarekat. Dalam kitab ini, Kiai Asrori juga menjawab berbagai kerancuan berpikir (syubhāt atau tahāfut) terkait tasawuf dan tarekat, terutama tentang relasi murid-mursyid dan adab-adab dalam bertarekat. Dalam mukadimah risalah setebal 27 halaman ini, sang muallif menulis, bahwa penulisan kitab ini dilatari adanya surat permohonan dari beberapa santri di pesantren Darul Ubudiyah, Jatipurwo Surabaya. Pesantren ini didirikan oleh al-maghfūr lah KH. Muhammad Usman al-Ishaqi, yang tak lain adalah ayahanda beliau. Surat tersebut berisi pertanyaan terkait satu kejadian di mana seorang murid tarekat berpindah dan mengambil guru mursyid lain dalam tarbiyah dan sulūk tarekat. Melalui risalah inilah, Kiai Asrori berupaya menjawab pertanyaan tersebut, dengan menggali sumber-sumber yang mu‘tabar, berupa penjelasan-penjelasan dari para ahli tasawuf dan tarekat.

Dalam salah satu endorsment yang ditulis oleh al-Habib Muhammad bin Ali al-Haddad, sang Habib memberikan apresiasi dan pujian atas karya Kiai Asrori ini. Salah satu poin penting dari kitab ini, yang dikutip oleh beliau adalah keterangan, bahwa “seorang murid tarekat hendaknya hanya berguru kepada satu orang guru mursyid saja. Jika tidak, maka si murid akan menjadi terhalang dari keberkahan guru mursyidnya, baik yang pertama maupun yang kedua. Tindakan demikian juga menyebabkan terhalangnya fayd (emanasi), dan madad dari guru musyid, serta menjadikan terputusnya relasi keguruan dalam bingkai murid-mursyid. Murid yang demikian ini wajib hukumnya untuk bertobat kepada Allah, dan kembali kepada guru mursyid yang awal. Guru mursyid adalah wasilah yang menghantarkan seorang murid (agar) sampai kepada Allah swt.”

Baca Juga  Kritik M. Said Ramadhan al-Būtī terhadap Konsep Maslahat Najm al-Dīn al-Tūfī [2]

K.H. Ali Maksum, dalam halaman endorsment, juga memberikan apresiasi atas karya Kiai Asrori ini. Beliau menyatakan telah membaca dan mempelajari risalah ini, dan menegaskan bahwa risalah ini memiliki argumentasi yang kuat serta penjelasan yang meyakinkan. Beliau mendoakan agar risalah ini memberikan manfaat bagi masyarakat khusus maupun awam. Endorse ini beliau tulis pada tanggal 15 Syawwal 1400 H.

Sementara itu, pada halaman depan, terdapat informasi bahwa kitab ini diterbitkan oleh Maktabah al-Thaqafiyah, Syirkah ‘Alawiyah, Surabaya.

Dari pemaparan di atas, terlihat bagaimana Kiai Asrori, pasa masa itu, memberikan respons problematika keumatan dengan literasi, baik hal yang berkaitan dengan tasawuf, tarekat maupun problem fikih. Terkait dengan yang terakhir disebutkan, beliau juga memiliki karya tulis dalam bidang fikih berjudul al-Risālah al-Syafiyah; sebuah kitab berbahasa Madura, namun ditulis menggunakan aksara pegon, yang merupakan hasil terjemahan dari kitab Tsamrat Rawdhat al-Syafiyah, yang pertama kali terbit di Makkah. Penulis pernah mengulas kitab ini beberapa tahun yang lalu dan terbit di portal keislaman, Halaqoh.net.

Kebiasaan dan keahlian Kiai Asrori dalam hal literasi ini tampak semakin terlihat saat beliau mendirikan Pesantren Al-Fithrah di Jalan Kedinding Lor Surabaya. Banyak karya tulis yang telah beliau hasilkan, baik karya yang berbicara tentang tataran praktis maupun teoretis.

Semoga karya-karya beliau bisa bermanfaat bagi umat, serta mampu memberikan inspirasi kepada para santri generasi milenial, untuk bisa meniru produktivitas beliau dalam bidang literasi. [MZ]

Kusroni Dosen STAI al-Fithrah Surabaya; Alumnus S3 UIN Sunan Ampel Surabaya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *