Heri Munajib Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama

Satgas Covid Santri Menghadapi Serangan Covid Gelombang Ke-3 bagi Dunia Pesantren Kita (2)

1 min read

jabar.nu.or.id

Sebelumnya: Satgas Covid Santri… (1)

Bagaimana dengan pondok pesantren kita? Sudah siapkah? Program Vaksinasi memang masih gencar, akan tetapi masih ada suara penolakan disana-sini, baik dari wali santri ataupun di pihak pondok, bahkan pernah di temukan ada sebuah pondok yang mengharamkan vaksinasi dan penggunanan masker?

Lantas bagaimana peran dokter santri menghadapi penolakan disana-sini, bahkan hingga di usir dari pondok dengan TOA (pengalaman pribadi penulis) 😉

  1. Pesantren harus dapat memenuhi standar protokol kesehatan mencegah Covid-19 dan menyiapkan SOP saat terjadi kluster dan mitigasi pada santri terpapar. Memulai kelaziman baru ala pondok pesantren atau shifting (pergeseran) paradigma membutuhkan tantangan besar untuk menggeser paradigma di dunia pesantren. Namun, berikut ini merupakan enam cara praktis yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan Covid-19. Kita tetap gunakan strategi ‘desa mengepung kota’ Strategi desa mengepung kota dengan melatih satgas Covid 19 pondok pesantren yang baru dan merefreshing pengetahuan satgas yang lama daripada melakukan pendekatan langsung ke Kyai atau Nyai yang memang seringkali terjadi penolakan.
  2. Jargon “Ayo kita jaga Kyai dan santri“ tetap kita kumandangkan di seluruh pondok pesantren di bawah naungan RMI NU dengan cara yang simple, kurangi sowan atau salaman terutama kepada kyai sepuh, Kenapa? Kalau yang masih muda it’s okay (tidak apa-apa), tapi kalau yang sudah tua itu kan risiko tinggi,”. Orang yang sudah berusia biasanya memiliki sistem imun yang lebih rendah daripada pemuda. Mereka juga memiliki penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, hingga stroke dan jantung Apabila terkena virus Covid-19, dapat timbul komplikasi yang lebih parah. “Makanya kita bilang, tidak bersalaman dengan Kyai itu tidak melunturkan cintamu terhadap Kyaimu.
  3. Jaga jarak dalam setiap kegiatan di pondok pesantren, santri maupun Kyai harus tetap mengaji untuk berusaha dan berikhtiar. “Itu kita juga selalu bilang sama Kyai, ‘Punten Kyai, harus taat protokol’. Jadi ketika ngaji atau ketika ngaos ada jarak, pakai masker dobel.
  4. Gunakan pembersih udara, pembersih udara atau air purifier digunakan sebagai ikhtiar untuk menjaga kualitas udara. Jadi saat ada kegiatan belajar mengajar maupun mengaji di depan Kyai ada air purifier yang tersedia. Menurut badan perlindungan lingkungan Amerika Serikat (Environmental Protection Agency), pembersih udara dengan filtrasi HEPA (High-Efficiency Particulate Air) dapat menghilangkan setidaknya 99,97 persen jamur, serbuk, debu, bakteri, dan partikel yang terbawa udara. Ukuran partikel virus Covid-19 dapat ditangkap oleh filtrasi HEPA. Akan tetapi, pembersih udara hanya membantu dan tidak menjadi lapisan perlindungan utama dari paparan virus.
  5. Selalu membawa pembersih tangan dalam setiap tas santri, karena virus Covid-19 dapat menempel di kertas selama 4 hingga 5 hari. “Bayangkan kita harus ngaji kitab kuning setiap hari itu kertasnya dipakai itu-itu juga. Bahkan kalau kita mau buka kertas, kita kasih ludah di tangan ya itu kan semua berisiko untuk menularkan.
  6. Pakai peralatan makan sendiri Biasanya, santri gemar untuk makan bersama-sama dari satu tempat. Namun saat pandemi Covid-19, kita harus mengubah kebiasaan tersebut. “Santri membawa alat makan sendiri. Minimal paling enggak piring, garpu, dan sendok. Tentunya dengan mendidik Satgas dan santri terlebih dahulu, dengan harapan melihat beberapa Kyai sudah mulai ikut berubah. Saat ini masih banyak para kyai yang percaya kalau ini ya masih pandemi abal-abal.
Baca Juga  Perang Tabuk: Ekspedisi Militer Terakhir Nabi Muhammad  

Semua orang dapat melakukan pencegahan penularan Covid-19 dengan ingat pesan Ibu 3M, yaitu memakai masker dobel, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak. Kita  juga berharap agar guru-guru kami, kyai-kyai kami selalu mengedukasi bahwa pandemi masih ada dan bukan suatu konspirasi maupun settingan, tetapi nyata adanya. (mmsm)

Heri Munajib Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama