Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta

Indonesia Makmur dan Sejahtera sebagai Negeri ‘Baldatun Thayyibatun’

2 min read

sumber: bincangsyariah.com

Bukan lautan hanya kolam susu

Kail dan jala cukup menghidupmu

Tiada badai tiada topan kau temui

Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Orang bilang tanah kita tanah surga

Tongkat kayu dan batu jadi tanaman

Selain memiliki suku, adat, dan budaya yang beragam, cuplikan lirik lagu Koes Plus di atas menggambarkan bahwa Indonesia juga memiliki tanah yang subur dan alam yang kaya dengan beragam tanaman baik yang dipelihara maupun yang tumbuh di alam liar.

Bahkan banyak kekayaan alam yang ada di Indonesia tidak dimiliki oleh negara lain. Sektor pertambangan didominasi oleh empat provinsi di Indonesia yaitu Aceh, Riau, Kalimantan Timur dan Papua.

Selain pertambangan, Indonesia juga kaya akan rempah-rempah. Melimpahnya rempah-rempah yang ada di Indonesia membuat berbagai negara di dunia berlomba-lomba untuk menguasai Indonesia pada saat zaman penjajahan dulu. Sampai hari ini pun rempah-rempah di Indonesia masih diminati, dan bahkan ada yang beberapa diekspor ke berbagai negara seperti lada, pala, cengkeh dan kayu manis.

Kekayaan alam yang dimiliki oleh negeri ini merupakan sebuah anugrah yang diberikan oleh Allah. Dari sesuatu yang ada di lautan hingga daratan, semuanya dapat dikonsumsi oleh masyarakat.

Bahkan ada pula yang menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian untuk menghidupi dan mencukupi kebutuhan hidup sehingga masyarakat tidak kesusahan untuk mencari makan, karena alam sudah menyediakan semuanya. Sungguh luar biasa.

Melihat keindahan dan kekayaan alam yang ada di Indonesia, penulis jadi teringat sebuah negeri yang dikisahkan dalam Al-Qur’an yaitu Negeri Saba’ yang dipimpin oleh seorang ratu bernama Bilqis. Nama negeri tersebut dijadikan sebagai nama surah dalam Al-Qur’an. Ini menandakan bahwa dari negeri tersebut dapat diambil banyak pelajaran dan hikmah untuk manusia.

Baca Juga  Saatnya Kembalikan Fungsi Rumah sebagai Pusat Kegiatan Keseharian

Negeri Saba’ dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an telah menggambarkan bagaimana kesuburan dan kekayaan alam yang dimilkii negeri saba’ dalam QS.  Saba’ [34]: 15: “Sungguh, pada kaum Saba’ benar-benar ada suatu tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua bidang kebun di sebelah kanan dan kiri. (Kami berpesan kepada mereka,) “Makanlah rezeki (yang dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman), sedangkan (Tuhanmu) Tuhan Yang Maha Pengampun.”

M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah menjelaskan bahwa terdapat riwayat yang menggambarkan kesuburan negeri ini dengan mengibaratkan jika seorang pejalan meletakkan keranjang di atas kepala, niscaya sambil berjalan ia akan memenuhi keranjang itu dengan aneka buah-buah yang berjatuhan.

Adanya riwayat itu menggambarkan bahwa Saba’ merupakan negeri yang sangat subur. Hal ini dilihat dari dua kumpulan kebun yang mengelilingi negeri mereka di sebelah kanan dan kiri. Oleh sebab itu, Negeri Saba’ disebut sebagai baldatun thayyibatun (negeri yang baik).

Kata thayyibah bermakna sesuatu yang sesuai, baik, dan menyenangkan bagi subjeknya. Negeri yang baik antara lain adalah yang aman sentosa, melimpah, dan rezekinya dapat diperoleh secara mudah oleh penduduknya, serta terjalin pula hubungan harmonis kesatuan dan persatuan antara anggota masyarakatnya.

Selain alam yang subur, Allah juga menganugerahi Saba’ sebagai tempat yang strategis. Artinya, letak negeri Saba’ berada di tengah-tengah sehingga jarak Saba’ dengan negri-negri lain tidak terlalu jauh seperti negeri Palestina, Libanon, dan Suriah, sehingga memudahkan para penduduk Saba’ untuk singgah di mana dan kapan saja tanpa rasa cemas sedikiti pun.

Namun, berbagai anugerah yang diberikan kepada mereka berupa kenikmatan alam yang subur, tidak membuat mereka bersyukur, tetapi justru berpaling dan mendurhakai Allah. Ibn Asyur menjelaskan keberpalingan mereka setelah masa kepemimpinan Ratu Saba’ yang telah menganut ajaran Nabi Isma’il. Kedurhakaan kaum Saba’ mengakibatkan kehancuran kerajaan mereka, diawali dengan runtuhnya bendungan Ma’arib yang mengakibatkan banjir besar.

Baca Juga  Teologis Islam yang Tidak Baku

Indonesia Makmur dan Sejahtera

Berangkat dari gambaran Negeri Saba’ terkait alamnya yang subur, lokasinya yang strategis, dan rakyatnya yang makmur sehingga dijuluki sebagai baldatun thayyibatun (negara yang baik), sepertinya sangat tidak salah jika penulis berasumsi bahwa Indonesia juga pantas dijuluki sebagai negara yang baldatun thayyibatun.

Mengapa demikian? tentu saja jawabannya adalah karena kekayaan alam yang ada di Indonesia tidak kalau jauh dengan kekayaan alam di Negeri Saba’, bahkan mungkin bisa melebih Negeri Saba’.

Jika dilihat dari konteks kesuburan tanah, dan sumber daya alam yang luar biasa, maka boleh saja Indonesia dijuluki sebagai baldatun thayyibatun. Tetapi, jika dilihat dalam konteks kemakmuran rakyat, maka Indonesia belum sepenuhnya menjadi negeri yang baldatun thayyibatun.

Mengapa demikian? karena banyak sekali orang-orang yang tidak bertanggung jawab dalam memanfaatkan kekayaan alam tersebut, bukan untuk memakmurkan masyarakat tetapi untuk memakmurkan dirinya sendiri.

Oleh sebab itu, agar menjadi negeri yang baldatun thayyibatun, tidak cukup hanya memiliki kekayaan alam yang luar biasa tetapi juga kekayaan tersebut harus bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menyejahterakan rakyat. Jika hal tersebut masih belum bisa dimanfaatkan secara maksimal, justru tidak menyejahterakan rakyat, tetapi malah menyengsarakan rakyat.

Jangan sampai apa yang dialami oleh Negeri Saba’ karena tidak bersyukur dengan anugerah Allah dialami Indonesia. Maka dari itu, untuk menjadi negeri yang baldatun thayyibatun, diperlukan rasa syukur yang dapat dimanifestasikan dengan memanfaatkan sumber daya alam dengan baik sehingga berdampak positif dengan kehidupan masyarakat. Wallahualam [AR]

Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta