Emilia Valkha Agustina Mahasiswi UIN Raden Mas Said Surakarta

Psikologi dan Islam, Apakah Bertentangan?

2 min read

sumber: psychology.gsu.edu

Untuk pertanyaannya tersebut, jawabannya adalah tidak. Terdapat hubungan yang erat antara psikologi dan kepribadian dalam Islam. Secara etimologis, psikologi berasal dari kata psyche yang berarti jiwa, dan logos yang berarti ilmu.

Secara terminologis, psikologi merujuk pada suatu disiplin ilmu yang mempelajari perilaku manusia. Dalam Islam, jiwa disebut sebagai nafs, dan konsep ini telah ada sejak zaman Nabi Muhammad. Perkembangan pemahaman mengenai nafs dapat dibagi menjadi dua kelompok utama: pertama, yang berkembang pada masa kenabian hingga Dinasti Umayyah, dan kedua, yang berkembang pada masa Dinasti Abbasiyah.

Pertama, masa kenabian hingga Dinasti Umayyah. Dalam periode ini, pembahasan mengenai nafs didasarkan secara murni pada Al-Qur’an dan hadis. Salah satu ulama terkemuka yang membahas nafs adalah Al-Ghazali, yang memaparkannya dalam kitabnya, Raudlat al-Thalibin wa ‘Umdah al-Salikin. Kitab ini menjelaskan bahwa kesedihan dan kondisi kejiwaan manusia disebabkan oleh ketidakmampuan manusia dalam mengendalikan perilaku dan keinginannya.

Kedua, masa Dinasti Abbasiyah. Pada masa ini, tokoh-tokoh mulai menjelajahi pengetahuan yang berasal dari Barat. Mereka memulai diskusi, memberikan komentar, dan menerjemahkan pengetahuan tersebut ke dalam bahasa Arab.

Mereka belajar dari pengetahuan Yunani, terutama filsafat Yunani yang diadopsi untuk memahami jiwa, selain tetap merujuk pada Al-Qur’an dan hadis. Salah satu tokoh terkemuka pada periode ini adalah Ibn Rusyd, atau dikenal sebagai Averroes. Ia adalah seorang filsuf yang lahir di Cordoba, Spanyol, yang pada zamannya merupakan pusat pengetahuan yang terkemuka.

Perkembangan tersebut menciptakan bidang ilmu baru dalam psikologi, dikenal sebagai psikologi Islam. Psikologi Islam didefinisikan sebagai pengetahuan yang mempelajari perilaku dan kejiwaan manusia berdasarkan konsep keislaman.

Psikologi Islam mencerminkan kebangkitan Islam dalam sejarah peradaban dunia. Ini juga merupakan tanggapan terhadap keterbatasan psikologi modern dan kontemporer dalam menangani persoalan-persoalan kompleks.

Baca Juga  Pemuka Agama sebagai Dokter “Penyakit Hati” Masyarakat

Ruang lingkup psikologi Islam berbeda dengan psikologi kontemporer dan modern. Sementara psikologi kontemporer dan modern terutama fokus pada dimensi fisik, biologis, dan sosio-kultural, psikologi Islam juga memasukkan dimensi spiritual dan keagamaan. Oleh karena itu, psikologi Islam sering kali berhubungan erat dengan ilmu tasawuf.

Pandangan terhadap manusia juga berbeda antara psikologi kontemporer dan psikologi Islam. Psikologi kontemporer menggambarkan manusia melalui tiga paradigma utama.

Pertama, psikoanalisis, yang menjelaskan bahwa manusia dipengaruhi oleh dorongan dari alam bawah sadarnya. Kedua, behaviorisme, yang menganggap perilaku manusia sebagai hasil dari proses belajar. Ketiga, humanisme, yang meyakini bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri dan dipandang sebagai makhluk yang unik.

Dalam pandangan psikologi Islam, manusia terbagi menjadi empat bagian, sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Ghazali. Pertama, al-ruh. Ruh memiliki dua makna yang dibedakan dari segi fisik dan spiritual.

Secara fisik, ruh merujuk pada bagian yang sangat halus dari tubuh manusia, yang berasal dari dalam rongga hati (jantung) dan menjadi pusat serta inti dari semua urat (pembuluh darah) yang tersebar ke seluruh tubuh manusia. Sedangkan dari segi spiritual, ruh merujuk pada suatu substansi nonmateri yang terkait dengan aktivitas spiritual.

Kedua, al-nafs. Nafs memiliki beragam makna, seperti jiwa, nafsu, diri, sukma, dan sebagainya. Istilah “al-nafs” muncul beberapa kali dalam Al-Qur’an, salah satunya pada QS. al-Syam [91]: 7-10.

Dalam ayat tersebut, dijelaskan bahwa manusia telah dibekali dengan akal yang digunakan untuk berfikir, menimbang, merencanakan, dan kemampuan dalam menangkap pengetahuan serta petunjuk.

Masih dalam ayat tersebut, nafs dibagi menjadi tiga jenis. Yang pertama, al-nafs al-muthmainnah, jiwa yang telah yakin kepada perkara yang hak dan tidak ada lagi perasaan yang ragu atau bimbang. Yang kedua, al-nafs al-lawwamah, yaitu nafsu yang menyesal dan menyalahkan dirinya atas kesalahn ynag dilakukan. Yang terakhir, al-nafs al-ammarah bi al-su’, yaitu nafsu yang selalu mengajak untuk melakukan keburukan yang disebut hawa nafsu.

Baca Juga  Mengenang Buya Syafii Maarif: Tokoh Muhammadiyah yang Moderat dan Pluralis (2)

Ketiga, al-qalb. Al-qalb bermakna sebagai hati, sebuah substansi nonmateri yang mampu mengenali segala sesuatu untuk direfleksikan. Menurut al-Tirmidzi, qalb diartikan sebagai suatu tempat yang menjadi pusat dari segala perasaan dan emosi yang ada di dalam manusia.

Al-Ghazali menjelaskan bahwa qalb bisa digambarkan sebagai sumur tanah yang dapat diisi dengan berbagai cara, bisa dengan dialiri air atau digali lebih dalam. Air dalam sumur merupakan perumpamaan bagi pengetahuan.

Keempat, al-‘aql. Al-‘aql diartikan sebagai suatu substansi nonmateri yang mampu memperoleh, mencerna, dan mengaplikasikan pengetahuan. Awal penciptaan manusia adalah dengan adanya pikiran secara aktif dalam kehendak Allah, dan manusia dibentuk secara jasmani sebagai penerima dari ruh.

Demikianlah penjelasan mengenai keterkaitan antara psikologi dan Islam. Pentingnya memahami konsep psikologi dalam Islam adalah untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita sebagai hamba Allah yang telah memberikan kita ruh, jiwa, hati, dan akal. Dengan demikian, setiap tindakan dan keyakinan kita senantiasa diiringi oleh rida Allah. [AR]

Emilia Valkha Agustina Mahasiswi UIN Raden Mas Said Surakarta