Mohamad Khusnial Muhtar Santri dan Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Mengenal Kota Mekah dan Madinah

2 min read

alif.id

Mendekati musim haji, kita sebagai umat Muslim terutama yang hendak menjalankan ibadah haji, akan mengunjungi dua kota suci. Dua kota suci dimaksud ialah Mekah dan Madinah. Mekah ialah tempat kelahiran Nabi Muhammad dan berdirinya Ka’bah, dan Madinah ialah tempat hijrahnya umat Islam dan pusat peradaban Islam di masa awal.

Seketika kita mengunjungi dua kota suci tersebut tanpa mengetahui secara jelas dan pasti akan adanya nilai apa dan makna apa di sebaliknya, mungkin kunjungan kita kurang begitu bermakna. Oleh itu, dalam artikel ini, kita akan membahas sejarah dan kebesaran tempat suci Mekah dan Madinah. Kita akan mencoba menyelami dan memahami nilai-nilai sejarah dan makna spiritual dari kedua tempat suci tersebut.

Diawali dengan Mekah, sejarahnya dimulai dengan peristiwa pembangunan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail. Pembangunan Ka’bah merupakan perintah langsung dari Allah sebagai rumah suci yang ditujukan untuk ibadah yang murni kepada-Nya. Pembangunan Ka’bah menjadi simbol dan bukti, akan ketundukan dan kesetiaan kepada Allah SWT. Setiap tahun, jutaan jemaat haji berbondong-bondong mengunjungi dan mengelilingi Ka’bah, menghidupkan kembali momen bersejarah itu tadi.

Mekah juga kemudian menjadi tempat kelahiran nabi kita Muhammad, sang pembawa risalah penyempurna. Kehadiran Nabi Muhammad menjadi titik awal munculnya ajaran Islam yang mengubah sejarah dunia. Pemahaman tentang kehidupan, perjuangan dalam menyebarkan Islam, keberanian dan ketabahan yang ditunjukkan, dengan menyaksikan bahwa tanah yang dipijak adalah tanah yang sama pada masa kehidupannya, memberikan inspirasi dan motivasi kepada kita untuk meneladani jejaknya.

Pun Mekah menjadi saksi banyak peristiwa bersejarah Islam yang signifikan. Mulai dari perlawanan terhadap penyembahan berhala hingga fathu makkah yang amat menentukan bagaimana nasib umat Islam kemudian. Perjuangan Nabi Muhammad dan para sahabatnya dalam mempertahankan keesaan Allah dan menyebarkan ajaran Islam, merupakan bagian penting dari sejarah Mekah. Menghayati dan merenungi peristiwa-peristiwa itu di mana latar tempat daripadanya adalah tanah yang sedang kita kunjungi, mengandungkan nilai-nilai keberanian, kesabaran, dan pengabdian yang kuat terhadap agama.

Baca Juga  Diktum Karet SKB 3 Menteri Tentang Seragam Sekolah

Selain nilai-nilai sejarahnya, Mekah dikatakan sebagai tempat terdekatnya dengan Allah SWT, tempat mustajabnya doa. Saat jemaat haji berdiri di depan Ka’bah, dengan kesungguhan dan penuh kekhusyukan, bisa menimbulkan rasa kehadiran-Nya yang luar biasa, yang menyibak hubungan spiritual antara kita dan Sang Pencipta. Melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah, melakukan sa’i antara bukit Safa dan Marwah, dan mengunjungi Jabal Rahmah; dapat memberikan kekuatan spiritual dan memperdalam ikatan dengan Allah, yang itu mestinya kita sadari sehingga kunjungan kita menjadi lebih berarti.

Mendalami nilai sejarah dan makna spiritual dari kota Mekah, memberikan pengalaman yang lebih berarti dan luar biasa bagi kita seketika mengunjunginya. Karena, dengan itu berarti kunjungan kita bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan rohani yang memperdalam pemahaman dan penghayatan akan ajaran Islam. Pemahaman dan penghayatan tidak akan maksimal diperoleh jikalau tidak diawali dengan sebuah pengetahuan.

Kemudian kota suci kedua dalam dunia Islam yakni Madinah. Madinah merupakan tempat peradaban Islam awal yang berkembang dengan pesat. Pusat tumbuhnya pendidikan dan pemikiran Islam, pusat penyebaran pengetahuan dan ajaran Islam, kota setelah hijrahnya Nabi bersama kaum muslimin dari Mekah. Mengunjungi Madinah akan menjadi pengalaman spiritual yang memungkinkan mendapatkan pemahaman dan penghayatan lebih dalam tentang Islam.

Sejarah Madinah dimulai dengan kedatangan Nabi Muhammad beserta kaum muslimin pada tahun 622 Masehi. Hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah menjadi momen yang bersejarah dalam perkembangan Islam. Ketika Nabi Muhammad dan para pengikutnya mencapai Madinah, mereka menerima sambutan yang hangat dari penduduk setempat, dan ini menjadi awal dari pembentukan masyarakat Islam yang berkembang di Madinah.

Mengunjungi tempat-tempat yang terkait dengan kedatangan Nabi Muhammad di Madinah, seperti Masjid Quba, Masjid Qiblatain, dan Masjid Nabawi, membangkitkan rasa hormat dan kekaguman akan perjuangan dan ketabahan yang ditunjukkan oleh Nabi dan para sahabatnya. Masjid Quba merupakan masjid pertama yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW setelah Hijrah ke Madinah. Masjid Qiblatain merupakan masjid yang menjadi saksi sejarah perubahan arah kiblat dari Masjid Al-Aqsa kepada Ka’bah. Adapun Masjid Nabawi merupakan masjid yang menjadi pusat kehidupan komunitas Muslim di Madinah saat itu, yang tetap lestari hingga saat ini.

Baca Juga  Peran Manusia Terhadap Kesimbangan Ekologi di Era Modern

Madinah juga menjadi saksi peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam, seperti Pertempuran Badar dan Perjanjian Hudaibiyah. Pertempuran Badar adalah pertempuran pertama antara umat Muslim dan kafir Quraisy, yang menandai kemenangan yang luar biasa bagi kaum Muslimin. Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian damai yang ditandatangani antara Nabi Muhammad dan suku-suku Arab di Mekah, yang membuka jalan bagi penyebaran agama Islam.

Memahami peristiwa-peristiwa ini, membantu peziarah terutama jemaat haji untuk mengingati perjuangan dan tekad umat Muslim pada masa itu sehingga memuncul ghirah keberanian dan ketabahan. Tempat-tempat suci di Madinah menyampaikan pesan-pesan tentang keberanian, kesabaran, persaudaraan, dan cinta kasih dalam ajaran Islam. Pemahaman ini mengilhami jemaat haji untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan penuh pengabdian kepada Allah SWT dan meningkatkan kualitas hidup mereka dalam mematuhi ajaran agama Islam.

Memahami sejarah dan kebesaran tempat suci Mekah dan Madinah adalah bagian penting dalam persiapan haji. Pengetahuan tentang sejarah dan makna spiritual tempat-tempat suci ini memperkaya pengalaman ibadah haji, memperdalam penghayatan pengamalan ibadah haji, dan membantu jemaat untuk menghargai nilai-nilai yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Semoga pemahaman ini memberikan inspirasi dan kesadaran yang lebih dalam saat menjalani perjalanan spiritual yang tak ternilai ini.

Mohamad Khusnial Muhtar Santri dan Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya