Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta

Ngaji Ta’lim Muta’alim : Pentingnya Mencari Ilmu Pengetahuan

2 min read

Tahapan pertama dalam metodologi menuntut ilmu pada kitab Ta’lim Muta’alim adalah pentingnya mengetahui esensi ilmu pengetahuan. Pada tahap ini Imam Az-Zarnuji mengawali dengan menyebutkan hadist kewajiban menuntut ilmu.

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ

Artinya: Menuntut Ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan.

Hadist yang diriwayatkan oleh Muslim ini menerangkan bahwa menuntut ilmu merupakan sebuah kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap laki-laki ataupun perempuan. langkah pertama ini merupakan teori mendasar yang harus dipahami oleh setiap orang. Jika menuntut ilmu merupakan sebuah kewajiban maka logikanya adalah orang yang tidak berusaha untuk mencari ilmu akan berdosa.

Mengapa demikian?. KH. Jazilus Sakhok menjelaskan bahwa ketika dalam proses perjalanan hidup seseorang berhenti mencari ilmu maka dia tidak akan mendapatkan cahaya menuju tuhan karena pada hakikatnya ilmu adalah sebuah cahaya sedangkan kebodohan adalah kegelapan. Ketika seseorang tidak mempunyai ilmu maka sebenarnya dia berada dalam kegelapan, sehingga pada situasi seperti itu seseorang akan kehilangan arah karena tidak tau ke arah mana dia harus pergi. Pada akhirnya dia tidak akan mengerti, siapa tuhannya dan juga tidak tau kemana dia harus menuju dan apa yang akan dia tuju.

Logika cahaya dan kegelapan yang disampaikan oleh KH. Jazilus Sakhok juga menjadi alasan mengapa seseorang diwajibkan mencari ilmu. Seseorang yang berada dalam kegelapan (kebodohan) maka akan lebih mudah tergoda oleh iblis dan setan. Sebaliknya, orang yang berilmu tidak mudah tergoda oleh mereka. Karena pada hakikatnya iblis dan setan berada dalam kegelapan. Ketika seseorang selalu berusaha untuk mencari ilmu maka secara otomatis cahaya yang ada pada dirinya semakin terang dan akan mengikis kegelapan yang ada pada dirinya, sehingga iblis dan setan tidak akan mudah untuk masuk dan menggoda orang tersebut.

Baca Juga  Problem Keberagaman di Indonesia (1)

Belajar dan Mengajar, Sebuah Relasi Timbal-Balik

Terkadang orang yang sedang menuntut ilmu sering terjadi muncul rasa puas dan pintar pada dirinya.  Akibatnya mereka berhenti dalam mencari ilmu, tidak lagi mutolaah, membaca kitab, dan membaca buku. Memang secara umum lembaga pendidikan turut membantu seseorang dalam mencari ilmu. Namun yang menjadi masalah adalah ketika sudah lulus dari sebuah lembaga pendidikan, terkadang seseorang merasa cukup dengan apa yang ia miliki. Padahal, seperti yang kita lihat, tradisi mengaji yang ada di masyarakat hingga hari ini masih tetap berlangsung.

Salah satu alternatif agar seseorang tidak berhenti mencari ilmu adalah dengan cara mengajar. Karena asumsinya adalah seseorang yang mengajar maka secara otomatis dia akan belajar.  Ketika pola mengajar dan mengajar sudah terjadi maka orang tersebut tetap berada dalam posisi menuntutu ilmu, sehingga dia tetap memenuhi kewajiban sebagai seorang muslim dalam mencari ilmu. Oleh karena itu setiap muslim harus berkomitmen dalam dirinya sendiri bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban sehingga jika tidak menuntut ilmu maka akan berdosa.

Penulis jadi teringat perkataan dari Kyai ketika nyantri di Madura dulu. “Apapun profesimu nanti, jangan pernah lupa untuk mengajar”. Sebagai renungan untuk penulis mengapa mengajar itu penting karena jika seseorang tidak mengajar maka stok pengetahuan yang ada pada dirinya akan berhenti. Hemat penulis hal yang paling mudah untuk terus belajar adalah mengajar. Karena kedua pekerjaan ini merupakan sebuah bentuk relasi timbal balik yang bermanfaat dan manfaat tersebut akan kembali kediri sendiri.

Ilmu itu Banyak, Maka Cukup Ambil Seperlunya

Walaupun mencari ilmu merupakan sebuah kewajiban, namun Imam Az-Zarnuji mengatakan bahwa tidak wajib untuk mencari setiap ilmu. KH. Jazilus Sakhok menjelaskan bahwa ilmu yang ada di dunia ini sangatlah banyak. Jika seseorang berusaha untuk mencari seluruh ilmu maka umur yang dia miliki tidak akan cukup karena ilmu yang ada di dunia ini merupakan representasi dari kalamullah. Oleh karena itu jika al-Qur’an digali lebih dalam lagi maka akan ditemukan nilai-nilai pengetahuan yang mana dari nilai tersebut banyak ditemukan berbagai macam ilmu.  Sebagaimana Dalam Surah al-Kahfi sebagai berikut

Baca Juga  Seorang Ahli Alquran yang Malah Menjadi Takfiri

قُلْ لَّوۡ كَانَ الۡبَحۡرُ مِدَادًا لِّـكَلِمٰتِ رَبِّىۡ لَـنَفِدَ الۡبَحۡرُ قَبۡلَ اَنۡ تَـنۡفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّىۡ وَلَوۡ جِئۡنَا بِمِثۡلِه مَدَدًا

Artinya: Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).”(QS. al-Kahfi [18]: 109)

Ayat di atas menunjukkan bahwa betapa luasnya ilmu Allah, bahkan air di lautan sekalipun tidak akan cukup untuk menulis ilmu Allah. Berangkat dari ayat tersebut maka sangat wajar sekali jika Imam Az-Zarnuji tidak mewajibkan untuk mencari setiap ilmu. Namun, bukan berarti kita sebagai manusia tidak mencari ilmu sama sekali. Diakhir ngaji kitab Ta’lim Muta’alim ini KH. Jazilus Sakhok bepesan bahwa “mencari ilmu itu sebuah kewajiban, namun tidak diwajibkan mencari seluruh ilmu, maka kita harus fokus dan mengutamakan ilmu apa yang menjadi priotitas kita sendiri”. Wallahua’lam bish Shawab

Sumber: Ngaji Ta’lim Muta’alim bersama KH. Jazilus Sakhok di langgar Pesantren pada minggu pagi.

Khairun Niam Mahasiswa sekaligus santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Yogyakarta