Nurul Zeyn Mahasiswi Pascasarjana Inkafa Gresik; Kontributor Antologi Cerpen 25 Bingkisan Rasa (2012), Senandung Rasa (2012), Dalam Balutan Pelangi (2012), Perempuan Tali Jagat 2: Petrichor (2018), Cowek Rembang (2018) dan Lillah (2020).

[Cerpen] Luka di Balik Jendela Tua

4 min read

Aku masih duduk di balik jendela kayu tanpa penutup yang sudah mulai keropos dan mengelupas warna catnya. Menatap sosok tubuh yang terbujur kaku di depan kamar mandi. Sendiri. Dingin dan kesepian.

*****

“Mas, beras di tempat penyimpanan sudah habis. Ada uang?” tanyaku sambil duduk di tepi ranjang. Tak ada jawaban, hanya suara dengkuran yang terasa sangat memuakkan di telinga. Dengkuran pertanda lelapnya tidur tanpa perlu terbebani dengan urusan kebutuhan dapur.

Kuulangi pertanyaanku. Sudah hampir jam enam pagi dan belum ada sarapan apapun yang tersedia di meja. Sementara Dinda harus pergi ke sekolah pukul tujuh nanti. Mas Darto tidak merespon, hanya beringsut dan menutup kepalanya dengan bantal. Seharusnya aku sudah tahu tanggapan seperti apa yang akan kudapatkan dari laki-laki yang tak pernah lagi peduli dengan keluh kesahku itu.

Dinda kuminta untuk mandi terlebih dahulu sementara aku keluar rumah sambil menggendong Delia, putri keduaku yang berusia satu setengah tahun. Aku berjalan gusar, sandal jepit yang sudah mulai menipis membuat beberapa kerikil terasa sakit menghujam telapak kaki. Tujuanku adalah warung nasi Mbak Warsi di dekat pos kamling.

Di jam pagi seperti ini warung Mbak Warsi biasanya ramai pembeli. Mereka rata-rata para pekerja pabrik yang harus berangkat pagi. Atau beberapa memang membeli sarapan siap santap untuk menghemat waktu. Aku berdiri di antrean paling belakang dengan hati kebat-kebit sambil sesekali mengajak Delia bercanda untuk mengusir kecanggunganku. Menyiapkan mental terkuat yang masih kumiliki.

“Mbak Warsi, mau pesen nasi dua bungkus. Pecel satu sama lodeh satu. Tapi uanganya nanti siang nunggu saya pulang mburuh nyuci ya, Mbak?”

Tak ada jawaban, tapi tanga wanita usia empat puluh tahunan itu dengan sigap menyiapkan nasi yang kupesan mengingat antrean masih ada beberapa orang pembeli lagi. Dari raut mukanya aku sangat paham, tidak ada senyum. Tidak ada keramahan. Aku menelan sendiri getir dan pilu yang merajai hatiku.

*****

Pagi ini aku menitipkan Delia kepada Asri, adikku. Kukatakan pada Asri bahwa aku harus segera menyelesaikan pekerjaan mencuci dan menyetrika baju langganan yang menumpuk.

Baca Juga  Mengenal Pemikiran Teologi Ahlu Sunnah wal Jamaah K.H. Hasyim Asy’ari

“Tadi aku juga sudah bilang sama Dinda, pulang sekolah langsung kesini, As. Biar dia yang njaga Delia ya?” ucapku menjelaskan.

Asri mengiyakan sambil merentangkan tangan mengajak Delia beralih kepada dirinya. Sempat kutahan Delia dari gendonganku, namun segera kulepas. Hampir saja air mataku menetes, tapi aku segera berpaling. Kupeluk dan kekecup Delia dengan sepenuh hatiku.

“Gak usah buru-buru jemput anak-anak, Mbak. Beresin saja semua kerjaan Mbak di rumah. Delia aman disini. Ya, kan? Yak an?”

Asri berpesan setengah berteriak karena aku sudah berjalan cepat ke arah motor bututku. Kupandangi mereka berdua. Asri melambai-lambaikan tangan Delia ke arahku. Putri cantikku itu tertawa lebar dan terus melambaikan tangan dengan semangat. Segera kunyalakan mesin motor sebelum aku berubah pikiran.

***

Aku mampir ke warung kelontong di ujung gang masuk ke arah rumahku. Penjualnya bernama Pak Sakuat. Lelaki tambun dengan kumis tebal sangar, namun sangat ramah dan welas. Aku kesana untuk melunasi bon hutang yang jumlahnya mungkin hampir lima ratus ribu. Aku memang biasa membeli kebutuhan beras, telur dan mie instant disana. Pak Sakuat yang mengetahui kondisi keuanganku mengizinkan aku untuk membayarnya ketika aku menerima upah buruh cuci atau permak baju.

“Pak, terima kasih ya sudah selalu membantu saya selama ini. Mohon maaf karena selalu merepotkan.”

“Ah, tidak apa-apa, Mbak Ranti. Saling membantu saja. Saya total dulu ini jumlahnya ya,” Pak Sakuat mengambil buku besar bersampul biru tebal dan menghitung rincian total hutang atas namaku. Semantara aku, gelisah tak menentu.

“Empat ratus dua puluh tujuh ribu rupiah, Mba Yanti,” ucap Pak Sakuat sembari menunjukkan hasil penjumlahan yang ia rinci.

Aku mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan dan lima puluh ribu. Uang ini sudah lama kusimpan dan sengaja tidak kugunakan untuk keperluan apapun. Uang ini kusiapkan khusus untuk hari ini.

“Masih kembali dua puluh tiga ribu ya, Mbak?” ucap Pak Sakuat sembari menghitungkan uang kembalian.

Baca Juga  Bagaimanakah Hukumnya Shalat Di Atas Sajadah Curian?

“Ehm, sisanya kasih racun tikus saja, Pak. Semuanya.”

Pak Sakuat memasukkan kembali uang kembalian ke dalam laci. Lalu pamit sebentar ke belakang untuk mengambil racun tikus yang kupesan.

“Khusus racun tikus memang saya taruh di belakang, Mbak. Disini banyak bahan makanan, khawatir jadi berbahaya. Ini silahkan. Banyak tikus ya di rumah?”

Aku mengangguk dan tersenyum menerima plastik hitam berisi racun tikus dari Pak Sakuat.

******

Hingga sore menjelang dan mega mulai nampak semburat di langit, rumahku masih sepi. Aku duduk di kursi plastik di samping jendela. Kursi plastik warna hijau ini adalah teman setiaku kala menjahit baju atau permak pesanan tetangga kanan kiri. Ya, ada mesin jahit usang pemberian Bapak yang masih kusimpan dan kumafaatkan untuk menambah pemasukan uang belanja.

Tanpa bisa kutahan, air mataku menetes mengenang betapa semangatnya Bapak membawakan mesin jahit ini dari kampung halaman ke sini mobil pick up yang ia sewa khusus. Lalu wajah Ibu yang sudah tiada sejakusiaku belasan tahun. Ibu, rindukah padaku?

Sudah hampir dua tahun lamanya Mas Darto tidak memberiku nafkah secara rutin. Kebiasaanya berhutang sana sini justru semakin mencekikku. Entah sudah berapa kali orang datang ke rumah ini untuk menagih Mas Darto yang aku sendiri tidak tahu pasti, untuk apa uang itu ia gunakan sementara sepeser pun aku dan anak-anak tidak pernah mendapatkan jatah. Hingga kami pindah ke kontrakan kecil ini pun, mereka masih bertandang menagih hutang.

Masih dari balik jendela tua kulihat motor matic Asri berhenti di depan rumah. Ia lalu berjalan mendekat sembari menggendong Delia. Di belakangnya Dinda membuntuti sambil sesekali menggoda dan disambut dengan tawa riang Delia. Aku terpaku berdiri tegak dari kursi hijauku. Menatap mereka bertiga dengan tatapan kosong dan pias. Mereka datang.

Pintu terbuka dan hanya dalam hitungan detik disusul teriakan Asri dan Dinda. Mereka berhambur ke arah tubuhku yang masih terbujur di tempat yang sama. Tergeletak di depan kamar mandi. Aku turut mendekati. Kali ini, wajahku sedikit membiru dan ada buih dari ujung bibirku.

Baca Juga  Tak Ada Agama Yang Lebih Tinggi daripada Kebenaran: Kisah Kelompok Teosofi di Sanggar Penerangan Surabaya

***

Dinda tak hentinya menangis di pelukan Asri, dengan seragam merah putih masih melekat di badannya. Semantara Delia sedang digendong Farhan, suami Asri. Rumah sudah mulai ramai didatangi tetangga dan beberapa kerabat. Mereka bergantian menenangkan Dinda, memeluk dan turut larut dalam tangis.

Aku berdiri mondar-mandir kebingungan. Menatap Dinda, Delia dan Asri bergantian. Sementara tepat di depanku tubuhku sudah dibaringkan di atas matras dan ditutup kain jarik.

Apa yang sudah kulakukan? apa ini artinya aku sudah kehilangan kesempatan memeluk dan mengecup anak-anakku? Apa aku masih bisa salim sungkem kepada Bapak lagi?

Aku terduduk lunglai dalam tangisku yang melengking. Meraung-raung dan menyeracau tidak jelas. Tapi percuma, tak satu pun orang disini mendengar bahkan bisikan bahkan teriakanku. Aku beringsut menghambur ke arah Dinda. Kucoba merengkuh tubuhnya tapi selalu terlepas. Dunia yang memisahkan kita membuatku tak lagi bisa menjamah sedikit saja tubuh putri sulungku. Aku semakin menggila. Tangisku meledak-ledak.

Aku berlari kesana kemari berharap ada seseorang yang menolongku dan menarikku kembali ke dunia dimana anak-anakku tinggal. Aku berusaha menarik dan mengajak berbicara siapapun yang kutemui di ruangan itu. Namun sia-sia.

Di tengah tangis keputus asaanku, Mas Darto muncul dari pintu. Wajahnya nampak lusuh dan langsung berlari mendekati tubuhku yang sudah berubah menjadi jenazah. Ia membuka sedikit kain jarik yang menutupi wajahku. Wajah yang pucat dan sayu. Tak kusangka, Mas Darto menangis meraung-raung. Ia memeluk dan menciumi pipiku di tengah tangisnya.

“ Ranti, maafkan aku, Ranti. Jangan kau pergi, Ranti. Maafkan aku…”

Terlambat, Mas. Tidak ada yang bisa kita perbaiki. Walau aku ingin, tapi jalanku sudah tertutup. Aku sudah memutus tali hidupku sendiri. Walau kusesali, aku tak akan pernah bisa kembali. Aku tidak bisa mengulang waktu, di bawah jendela tua aku tergugu menahan luka perih yang tak lagi berdarah.

Nurul Zeyn Mahasiswi Pascasarjana Inkafa Gresik; Kontributor Antologi Cerpen 25 Bingkisan Rasa (2012), Senandung Rasa (2012), Dalam Balutan Pelangi (2012), Perempuan Tali Jagat 2: Petrichor (2018), Cowek Rembang (2018) dan Lillah (2020).