Rumadi Ahmad Ketua Lakpesdam PBNU, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Spirit Gus Dur dan Nelson Mandela

1 min read

sumber: indonews.id

Setiap menjelang akhir tahun, para pecinta Gus Dur memperingati wafatnya tokoh besar yang dimiliki bangsa ini. Dalam tradisi Islam, kususnya NU, peringatan ini disebut haul, yaitu peringatan hari wafat, bukan hali lahir, tokoh yang dihormati. Sejak awal Desember di sejumlah tempat sudah dilakukan serangkaian kegiatan untuk mengenang Gus Dur. Puncak kegiatan haul akan dilaksanakan di kediaman Gus Dur, Ciganjur, pada 28 Desember mendatang.

Desember memang layak disebut sebagai Bulan Gus Dur. Bulan di mana ingatan kita kembali di¬refresh untuk menghidupkan keteladanan Gus Dur dalam menghadapi persoalan kehidupan. Sebagai bangsa kita harus berterima kasih pada Tuhan karena bangsa ini dianugerahi seorang putra yang luar biasa. Di samping sebagai ucapan syukur, serangkaian kegiatan haul di berbagai tempat mempunyai tujuan yang sama, yaitu memelihara spirit yang diperjuangkan Gus Dur selama hidupnya.

Gus Dur dan Nelson Mandela

Dunia internasional berduka dengan wafatnya Nelson Mandela (5/12/13). Mandela adalah seorang tokoh anti apartheid di Afrika Selatan yang harus rela mendekam di penjara selama 27 tahun untuk memperjuangkan keyakinannya. Mandela harus berhadapan dengan rezim apartheid Afrika Selatan yang brutal. Tapi, Mandela tidak mundur selangkahpun untuk membela dan memperjuangkan apa yang diyakini sebagai prinsip hidup.

Begitu keluar dari penjara, alih-alih melakukan balas dendam, Mandela justru memberi maaf, termasuk kepada seorang sipir penjara yang telah mengencinginya. Tidak ada sedikitpun kebencian terpatri di hatinya. Ketika politik apartheid akhirnya runtuh dan Mandela terpilih sebagai Presiden Afrika Selatan (1994-1999) dia tak memanfaatkan jabatannya itu untuk melakukan balasan terhadap orang-orang kulit putih Afrika Selatan. Orang-orang kulit putih Afrika Selatan sudah ketakutan dan memilih mengungsi ketika Mandela menang dalam pemilihan presiden. Mereka khawatir kalau “Sang Madiba”, demikian Mandela biasa disebut, melakukan aksi balas dendam.

Baca Juga  Pluralisme Gus Dur dan Urgensinya Terhadap Hubungan Antar Agama di Indonesia (1)

Tapi itu tidak terjadi. Mandela justru memberi maaf dan menekankan pentingnya rekonsiliasi. Dengan sikapnya itu, Mandela telah menyelamatkan Afrika Selatan dari kemungkinan perang saudara: kulit hitan versus kulit putih. Dengan “maaf”, Mandela telah memberi inspirasi, bukan hanya kepada Afrika Selatan, tapi juga kepada dunia betapa pentingnya berdamai dengan masa lalu. Kemampuan berdamai dengan masa lalu akan membantu dalam menapaki kekinian untuk masa depan yang lebih baik.

Gus Dur termasuk salah satu tokoh Indonesia yang sepak terjangnya banyak diinspirasi kebesaran jiwa Nelson Mandela. Gus Dur tidak pernah sakit hati, apalagi dendam dengan orang-orang yang pernah menyakitinya. Ungkapan Gus Dur ketika ditanya tentang orang-orang yang pernah menyakiti selalu bilang: “saya sudah maafkan, meski tidak berarti melupakan”. Ungkapan itu jelas diinspirasi dari Neslon Mandela yang pernah mengungkapkan kata-kata yang kurang lebih sama.

Gus Dur dan Nelson Mandela adalah anugerah. Bukan hanya bagi Indonesia dan Afrika Selatan, tapi untuk seluruh umat manusia.[mmsm]

Rumadi Ahmad Ketua Lakpesdam PBNU, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta