Raha Bistara Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Pitutuh Luhur Ranggawarsita Mengenai Birokrat Pemerintahan dalam Serat Cemporet

3 min read

Gambar: Ronggowarsito

Songsong gora candraning hartati | lwir winidyan saro seng parasdya | ringa-ringa pangriptante | tan darbe labdreng kawruh | angruruhi wenganing budi | kang mirong ruhareng tyas | jaga angkara nung | minta luwaring duhkita | aywa kongsi kewran lukiteng kinteki | kang kata ginupita (Ranggawarsita, 1987: 237).

Pesan pembuka dalam Serat Cemporet ini begitu anggun, indah dan mempesona bagaikan nilai-nilai adiluhung tiada duanya dan bagaikan mutiara tiada tandinganya. Ditulis dengan bahasa jawa krama halus yang sulit dimengerti bagi masyarakat Jawa tingkat bawah. Tidak jarang Serat ini banyak celaan dan ejekan karena bahasa sastranya terlalu tinggi dan tidak jarang pula ada yang mengatakan serat ini hanya halusinasi dan kepura-puraan.

Serat cemporet ini ditulis sebelum masyarakat Jepang datang ke Indonesia bahkan sampai sekarang serta ini masih digemari. Cerita yang dihadirkan dalam serat ini begitu sangat memikat dan memukau para pembaca.

Pintarnya sang pujangga dalam menghubungkan cerita memang mumpuni. Tidak heran setelah sang pujangga meninggal tidak ada lagi yang bisa menggantikan posisinya dalam pujangga Keraton Surakarta Hadiningrat. Lakon yang dimunculkan dalam serta ini tidak hanya manusia saja, tetapi juga menghadirkan penghuni atau para lelembut dunia ghaib beserta hewan-hewan.

Sebagai seorang pujangga yang dibesarkan di dalam keraton Surakarta, Bagus Burham dikenal sebagai anak kecil yang mbalelo dan bebel dalam menerima ilmu pengetahuan terutama menerima ilmu-ilmu agama yang diajarkan oleh kakeknya. Yasadipiro II adalah kakek sekaligus guru pengasuh Bgus Burham yang mendidik Ronggowarsito sejak kecil, karena ayah sang pujangga meninggal semenjak Bagus Burham usia masih muda (Simuh, 1988:25).

Raden Ngabehi Ronggowarsito dilahirkan dari pasangan RM, Ng. Pajangsworo dan Nyai Ageng Ronggowarsito, lahir pada tanggal 14 Maret 1802 M bertetapatan dengan tahun meninggalnya kakek buyutnya, yaitu Yasadipuro I.

Baca Juga  Catatan untuk Kritikus Imam al-Ghazali dan Kitab Ihya’

Ranggawarsita tumbuh dan besar dari keluarga yang akrab dengan dunia sastra dan tulis menulis, yang dianggap langka pada saat itu. Ayah Ranggawarsita II menjadi juru tulis kerajaan dan kakeknya menjadi pujangga kerajaan Surakarta Hadiningrat pada saat itu. Jadi tidak heran ketika Ranggawarsita menjadi penerus dari ayah dan kakeknya sebagai pujangga besar dalam tradisi keraton Kasunanan Surakarta.

Sebagai seorang Islam-Jawa dengan tradisi yang berlaku dalam keluarga pujangga Keraton Surakarta, Ranggawarsita muda harus mengeyam pendidikan agama seperti ayah dan kakeknya. Maka dalam usia dua belas tahun Ranggawarsita dikirimkan ke pondok pesantren Gerbang Tinatar, yang ada di Tegalsari, Ponorogo. Pesantren tersebut diasuh oleh Kiai Kasan Besari, seorang ulama jadug yang terkenal dengan keluasan ilmunya.

Semasa hidupnya kurang lebih ada lima puluh karya yang dihasilkan diantaranya serat Wirid Hidayajati, Serat Paramasastra, Serat Jaka Lodang, Serat Jayeng Baya, Serat Pustaka Raja, Serat Aji Pamasa, Serat Cemporet dan lain sebagainya.

Wong aguna srana satya wani | mangka kanthining nata sudibya |wuwuh luhur karatone | yen rukun sawadya gung |datan ana kang sanggarunggi | narendra bisa mangkat | matah matrap mandum |iwiring mangka kalungguhan |myang babasan amet pantes angraketi |ing prenah sowang-sowang (Ranggawarsita, 1987: 275).

Membina manusia-manusia berpengetahuan | yang merupakan sarana setia dan berani | sebagai pendamping raja yang kuat, agar kerjaan semakin luhur | jika seluruh rakyat rukun | tanpa da perasaan curiga mencurigai | sehingga raja dapat akan mangkat | matah, matrap, serta mandum |mangkat berarti mengatur kedudukan | dan panggilan seseorang berdasarkan kepantasannya | untuk mepereart kesatuan menurut kedudukan masing-masing.

Mengenai pemerintahan, Ranggawarsita menitahkan dalam bait ini bagi orang-orang yang memiliki wawasan yang luas untuk menempati posisi-posisi strategis sesuai dengan bidang dan kemampunnya dalam mendampingi seorang raja untuk menjalankan roda pemerintahan.

Baca Juga  Memaknai Angka 19 Ketika Covid-19 Mewabah

Seorang raja harus memiliki kesetiaan terhadap negara dan pemimpinnya, serta berani mengambil kebijakan yang menguntungkan bagi masyarakat secara umum sehingga masyarakat menjadi rukun dan sentosa tanpa ada rasa saling mencurigai satu dengan yang lain.

Tidak itu saja, dengan membina manusia-manusia berpengetahuan yang luas, raja tidak susah payah dalam memilih bawahannya untuk menduduki posisi yang dibutuhkan. Sebab, orang yang memiliki wawasan yang luas di tempat dan di posisi manapun ia akan berkontribusi baik untuk negaranya.

Berbeda di zaman sekarang, misalnya kedudukan menteri negara, mereka berebut posisi-posisi strategis dalam kenegaraan, tanpa dilandasi kemampuan dan wawasan yang luas. Dengan begitu, mereka tidak akan berbuat adil dan bijaksana dalam segala keputusannya.

Luwih malih lamun anuhoni | nganggo awas emut barang karya | mrih sambadeng kasidane | denira ngreh amengku | ing santana wadya gung alit | lwire kang awaskitha |maring laku-laku | solah bawaning sapraja | dadi bisa niteni kang ala becik | terus lan peparikan (Ranggwarsita, 1987:275).

Lebih baik lagi dalam menegakkan keadilan |disertai dengan kebijaksaan dan kesadaran dalam segala hal | agar keputusan yang diambil | benar-benar adil dan tepat selaras dengan hukum dan pengayom bagi seluruh rakyat | bijaksana artinya | mengetahui segala perilaku |serta gerak-gerik seluruh negeri | sehingga dapat melihat yang buruk dan yang baik |sebagai bahan pertimbangan dalam pemeriksaan.

Kita tadi sudah melihat dalam pitutur sebelumnya bahwa orang yang memiliki wawasan yang luas dan berbudi luhur, secara pasti dia akan menegakan keadilan untuk semua kalangan.

Ranggawarsita dalam bait ini, dia memaparkan bagi siapa saja ketika menduduki suatu jabatan harus berbuat adil dalam setiap keputusan dan tindakan. Di mana keputusan dan tindakan mereka harus disertai dengan sifat bijaksana dan penuh kesadaran supaya keputusan yang diambil benar-benar adil dan tepat sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Baca Juga  Gerakan Wahabisme yang Tak Pernah Tunduk pada Imperium Turki Usmani

Sebagai penegak keadilan, raja dan jajarannya dalam menjalankan roda pemerintahan tidak tebang pilih dalam mengayomi masyarakat. Mereka harus berbuat bijaksana, dalam artian mereka (raja dan jajarannya) harus mengetahui segala perilaku, baik itu perilaku yang baik ataupun perilaku buruk sekecil apapun mereka harus mengetahui itu.

Ketika mereka tidak mengetahui perilaku baik ataupun buruk sampai sedetail-detailnya, mereka secara otomatis tidak bisa memutuskan perkara secara adil. Karena sifat adil ini harus dibarengi dengan pengetahuan yang luas serta mendalam dibarengi kesadaran dalam diri seseorang.

Pitutuh luhur ini kiranya sekarang jarang sekali dipakai oleh jajaran pemerintahan yang suka berebut kedudukan. Mereka saya rasa harus banyak membaca, menelaah dan mengamalkan ajaran-ajaran pujangga pungkasan ini.

Saya rasa, andaikan jajaran pemerintahan mau meneladani sosok Ranggawarsita dengan segala petuahnya, tidak ada lagi kemiskinan di negara sebesar Indonesia, yang ada hanya kemakmuran untuk rakyatnya dan keadilan merata bagi semua lapisan masyarakat.

Editor: MZ

Raha Bistara Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta