Raha Bistara Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Wedhatama: Pupuh Sinom, Jalan Salik Sufi Bagi Generasi Muda (2)

3 min read

Sebelumnya: Wedhatama: Pupuh Sinom… (1)

Pitutuh Luhur Sang Raja Bagi Kaum Muda

Ajaran adiluhung bagi kaum muda supaya tidak tergelincir dalam sifat yang tercela diimplementasiakn dalam Serat Wedhatama Pupuh Sinom yang sebagian sudah diuraikan di atas mengeai bertapa, uzlah ataupun khalwat. Ajaran adiluhug ini yang sekarang sudah ditinggalkan oleh generasi muda, mereka lebih memilih ajaran baru yang sanad keilmuannya masih dipertanyakan. Bahkan lebih parahnya lagi generasi muda dalam memilih ilmu agama asal pilih guru dan ilmu tanpa dilandasi budiluhur.

Maka dari itu Mangkunera IV dalam Serat Wedhatama Pupuh Sinom mengajarkan kaum muda untuk menjadi manusia yang berbudi luhur, memiliki ilmu pengetahuan yang baik dan hubungan transendetal dengan Tuhan berjalan sebagaimana mestinya seorang sufi.

Seorang sufi akan menyandarkan segala urusannya kepada Allah, penyerahan urusan ini merupakan ruh, substansi sekaligus hakikat tawakal. Tawakal ini bukan saja masalah hati, sehingga tidak hanya sekedar ucapan saja melainakn harus diberangi dengan tindakan. Tawakal juga tidak hanya berbicara mengenai urusan duniawi saja tetapi juga masalah Ibadah.

Anggung anggubel sari’at// saringane tan den wruhi// Dalil Chadis lan Ijemak// Qiyase nora mikani// katungkul mungkul sami// bangkrak aneng masjid agung// kalamun maca kutbah lelago Dandanggendis// swara arum ngumandang cengkok Palaran// (KGPAA Mangkunegara IV, Sinom: 9)

Artinya: hanya memahami soal kulit saja// tetapi inti pokoknya tidak dikuasai// pengetahuan mengenai tafsir dan aturan-aturannya// serta suri tauladan tidak diketahui// Mereka hanya terlena// berbuat over acting ke Masjid Agung// bila membaca kotbah berirama Dandanggula// suara merdu bergema gaya Palaran.

Dalam bait ini dicontohkan oleh seorang yang hanya mengetahui ilmu syari’at saja, sedangkan hakikatnya tidak dipelajari sama sekali, dan tidak mentauladani sifat-sifat  Nabi Muhammad. Orang tersebut telah terlena dalam godaan-godaan dunia, yang itu salah satu penyakit hati yang harus ditinggalkan bagi kaula muda. Sayangnya justru sekarang banyak kaula muda yang hanya mengetahui sekelumit ilmu agama merasa wawasan agamanya sudah mendalam dan berani menyampaikan pesan keislaman dikhalayak umum.

Baca Juga  Ramadan dan Tradisi Membaca

Maka yang timbul adalah rasa ujub dan riya dalam diri mereka ditambah kegaduhan di arus bawah karena dakwah yang dilakukan oleh kaula muda. Keadaan semacam ini sudah merebak dalam masyarakat kita, banyak kaula muda yang keliru dalam memahami ilmu agama akibat sanad keilmuan dan sanad kemursyidannya tidak jelas.

Mereka memahami ilmu agama hanya pada tataran kulitnya saja (Sya’riat) dan berani berdakwah di dalam mimbar-mimbar masjid yang dianggap agung. Serat ini seharusnya dipahami secara mendalam oleh kaula muda yang ingin menjadi seorang pendakawah Islam agar tidak salah dalam menyampaikan pesan-pesan keislaman.

Nanging enak ngupaboga, rehne ta tinitah langip// apa ta suwiteng Nata// tani tanapi agrami// mangkono mungguh mami// padune wong dahat cubluk// durung wruh cara Arab// Jawane bae tan ngenting// pradane paripaksa mulung putra// (KGPAA Mangkunegara IV, Sinom: 11)

Artinya: tetapi lebih baik mecari nafkah// karena dititahkan sebagai mahluk lemah// Apa mengabdi raja// bertani atau berdagang// begitu menurut pendapatku ini karena saya orang bodoh// belum memahami cara Arab// sedang pengetahuan Jawa saya saja// tidak memadai// Namun memaksa diri mendidik anak.

Pitutuh luhur yang diajarakan oleh Mangkunegara dalam bait di atas terkait Qanaah. Sifat qanaah adalah sifat yang harsu dimiliki oleh setiap manusia terutama insan muda. Karena dengan memiliki sifat tersebut seseorang akan merasa dirinya tenang, tidak rakus, dan akan selalu bersyukur kepada Allah. Qanaah erat kaitannya dengan sifat wara, rida dan syukur. Sifat wara ini adalah salah satu tangga yang harus dilalui oleh setiap mahluk untuk mencapai kesempurnaan hidup.

Bagi orang Jawa seperti yang diwejangkan oleh sang raja, harus senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang diberikan pada kehidupan kita. Setiap manusia harus senantiasa percaya bahwa semua itu merupakan kehendak Allah dan tidak bisa selalu meminta sesuatu yang belum menjadi hak kita. Karena yang menurut orang baik, belum tentu dalam pandangan Tuhan juga baik (Siswanto, 2020:70). Seperti dicontohkan dalam kutipan di atas bahwa tidak baik untuk bersikap berlebihan dalam kehidupan, serta memaksakan dirinya untuk menirukan ciri hidup orang Arab yang sangat digaungkan.

Baca Juga  Nietzsche, Aku dan Kejengahan terhadap Sikap Chauvinistik Gerakan Sosial

Fenomena Arabisme ini yang sedang merebak di kaula muda. Arabisme menjadi tren bagi mereka untuk menyampaikan pesan-pesan keislaman yang bersifat syar’at. Mereka membawa ajaran Islam yang bersifat kearab-araban tanpa dilandasi sifat ahlakul karimah.

Mereka tidak melihat histori megenai islamisasi di Nusantara, padahal dulu para wali menyebarkan agama Islam tidak saja berbicara mengenai syari’at, mereka mengelaborasikan antara syari’at dengan ahlak, bahkan tidak jarang lebih mengedapankan ahlak. Dengan dakwah yag begitu maka yang ada hanya nilai-nilai toleransi tidak saling menyalahkan satu sama lain.

Kang wus pada ing patrap// mangayut ayat winawis// wusana wosing jiwangga// melok tanga aling-aling// kang ngalingi kalingking wenganing rasa tuwlawung// keksi saliring jaman// anglangut tanpa tepi// yeku aran tanpa tapaking Hyang Suksma// (KGPAA Mangkunegara IV, Sinom: 16)

Artinya: yang sudah mengetahui caranya// menghayati aturan yang bijaksana// akkhirnya inti pribadinya// terlihat nyata tanpa penghalang// yang mengahalangi tersingkir// terbukalah rasa sayup-sayup sampai terlihat segala keadaan// tampak tak terbatas// itulah yang disebut mendapatkan bimbingan Tuhan.

Dalam tahap ini manusia sudah mencapai kesempurnaan hidup dalam tasawuf dikenal dengan makrifat. Petuah yang terakhir dalam pupuh Sinom bagi kaula muda harus mencapai tangga yang terakhir berupa makrifat. Setelah kaula muda melalui kehidupan yang kompleks mulai dari mawas diri, tawakkal, dan qanaah maka akan mencapai makrifat.

Untuk mencapai makrifat ketiga tangga tadi harus dilalui satu perstau bagi kaum muda, tanpa melalui kesemunya itu, mereka tidak bisa dikatakan sebagai seroang sufi. Bagi kaum muda sebelum menyebarkan pesan-pesan Islam alangkah lebih bijaknya mendalami dulu Serat Wedhatama ini supaya tidak salah jalan. (mmsm)

Raha Bistara
Raha Bistara Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta