Redaksi Redaksi Arrahim.ID

Islam dan Kebudayaan: Strategi Dakwah yang Inklusif, Pengalaman Indonesia, Pakistan, Tunisia, dan Malaysia

3 min read

Seminar Internasional “Membangun Kerjasama Internasional untuk Menguatkan Komitmen dan Praktik Islam Rahmatan Lil ‘Alamin” dilaksanakan oleh INFID (International NGO Forum on Indonesian Development), bekerjasama dengan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan KBRI di Pakistan, Tunisia, dan Malaysia. Seminar dilaksanakan pada tanggal 25-27 Januari 2022.

Pada hari kedua, seminar dilaksanakan secara paralel mengangkat 3 tema: 1) Peran Strategis Muslimah dalam Menguatkan dan Meluaskan Praktik Islam Rahmatan Lil ‘Alamin di Indonesia, Pakistan, Tunisia, dan Malaysia; 2) Peran Strategis Media Islam dalam Menguatkan Narasi Islam Rahmatan Lil ‘ Alamin di Indonesia, Pakistan, Tunisia, dan Malaysia; dan 3) Islam dan Kebudayaan: Strategi Dakwah yang Inklusif, Pengalaman Indonesia, Pakistan, Tunisia, dan Malaysia.

Di sesi tema ketiga “Islam dan Kebudayaan: Strategi Dakwah yang Inklusif, Pengalaman Indonesia, Pakistan, Tunisia, dan Malaysia”, menghadirkan Dr. Muhammad Naqzrul Azraf (Atase Agama Kedutaan Besar Malaysia untuk Indonesia) yang menyampaikan pidato kunci. Hadir pula beberapa panelis, terdiri dari Prof. Dr. Akhmad Muzakki (Sekretaris Umum PWNU Jawa Timur), Dr. Pradana Boy (Universitas Muhammadiyah Malang), Dr. Syeik Sholahuddin Al-Mustawai (Universitas Ezzitouna Tunisia), Dr. Hafiz Taher Memood Ashrafi (Perwakilan Khusus Perdana Menteri Bidang Harmoni, Pakistan) dan Prof. Dr. Ahmad Sahidah (Assosiate Peneliti ITS UMM Malaysia)

Berikut adalah gagasan-gagasan penting yang disampaikan dalam pidato kunci dan forum diskusi para panelis.

Syekh Sholahuddin al-Mustawi, Ezzitouna University Tunisia

Syekh Sholahuddin al-Mustawi menjelaskan tentang bagaimana paradigma dakwah inklusif dalam Islam.Akademisi dari Ez-Zitouna University Tunisia tersebut mengutip QS. al-Anbiya: 107 ketika menggarisbawahi esensi dakwah Islam inklusifitas itu. 

“Islam adalah agama yang sempurna, disampaikan oleh Muhammad sebagai Nabi terakhir dan penutup para Rasul. Oleh karena itu, ajaran Islam hendaknya disampaikan kepada seluruh manusia tanpa kecuali.” papar Syekh al-Mustawi.

Al-Mustawi juga mengutip QS. al-Hujurat: 13 dalam rangka menjustifikasi bahwa semua manusia adalah sama. Barangkali sekarang, manusia menjadi sangat beragam, namun pada dasarnya mereka berasal dari satu bapak yang sama, Nabi Adam. Oleh karenanya, mereka memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan dakwah Islam melalui lisan-lisan para ulama.

Baca Juga  Pengungsi Syiah Sampang di Rusunawa Sidoarjo Minta Dibaiat Jadi Muslim Sunni

Selain sebagai agama universal, Syekh al-Mustawi juga mengajak umat Islam untuk tidak membeda-bedakan para Nabi dan Rasul. Ia mengatakan bahwa semua utusan Allah datang dengan prinsip ajaran yang sama. Larangan membeda-bedakan para Nabi tersebut dibarengi dengan kesadaran untuk tidak menghina agama atau keyakinan lain.

Alih-alih mencela berbagai syariat agama lain, Syekh al-Mustawi mempromosikan diskusi yang cair antar umat beragama. Ia berkata, “jikapun kita harus berdebat dengan para ahli agama, maka hendaknya kita lakukan dengan cara yang baik dan bijaksana. Kita lakukan itu dalam rangka berdialog dan bertukar pikiran.”

Sembari menegaskan universalitas Islam sebagai agama dakwah, al-Mustawi turut mempromosikan tafsir Islam yang fleksibel dan kontekstual.

“Di satu sisi, dua pedoman utama Islam, al-Qur’an dan hadis, memiliki redaksi yang stagnan, namun di sisi lain, kehidupan manusia sangat dinamis. Oleh karena itu, pemahaman terhadap al-Qur’an dan sunnah harus relevan dengan perkembangan zaman.” jelas Syekh al-Mustawi.

Menyangkut hal itu, Nabi pernah bertanya kepada Muadz bin Jabal mengenai bagaimana jika Muadz hendak mengadili sesuatu tapi dalilnya tidak ditemukan dalam al-Qur’an dan Hadis. Jawaban Muadz sangat memuaskan Rasulullah. Ia berkata, ” Saya pergunakan pikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia.”

“Fleksibilitas dan universalitas dakwah Islam tersebut akan menciptakan maslahat bersama dalam kehidupan umat manusia. Karena di mana ada maslahat, artinya di situlah syariat Allah telah sempurna.”

“Indikasi lain dari fleksibilitas dan universalitas dakwah Islam adalah keramahan Islam terhadap budaya lokal bahkan menggunakannya untuk menyampaikan nilai-nilai Islam. Kita boleh mengakui dan berkolaborasi dengan lokalitas asal tidak bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri.” pungkas al-Mustawi.

Hafiz Tahir Mehmood Ashrafi, The Special Representative to the Prime Minister on Religious Harmony, Pakistan

Baca Juga  Selain Pesantren, Lembaga Pendidikan Islam Juga Dapat Bantuan Dana Kemenag

Hafiz Tahir Mehmood Ashrafi, tokoh Pakistan yang pernah mendapatkan penghargaan Award for Peace and Human Rights, OIC Award for Peace & Harmony and Hafiz-e-Quran tersebut menerangkan tentang fungsi Islam sebagai agama semesta alam.

Mengacu pada QS. al-Anbiya’: 107 dan Q.S al-Maidah: 3, Hafiz Tahir Mehmood menjelaskan bahwa khittoh ajaran Islam adalah untuk semesta alam, bukan hanya untuk umat Islam saja.

Lebih lanjut, Tahir Mehmood menjelaskan, “sejak zaman tradisi Islam klasik, para khulafaur rasyidin telah memberikan kita contoh tentang bagaimana dakwah yang universal dan inklusif.”

Tahir Mahmood juga memperingatkan umat Islam terkait masifnya arus informasi di era media baru. Ia menggarisbawahi peran new media dalam mengakomodasi dakwah-dakwah Islam sehingga dapat terdistribusi secara lebih luas. Hal ini tentu akan membantu visi Islam untuk menyebarkan ajaran Islam secara global, universal, dan inklusif.

Prof. Dr. Akh. Muzakki (Sekretaris Umum PWNU Jawa Timur)

Sekretaris Umum PWNU Jawa Timur Prof. Akh Muzakki menyebut bahwa umat Islam dewasa ini menghadapi beberapa tantangan. Pertama, generation gap. Kedua, consumer culture. Ketiga, realitas ganda.

Untuk mengatasi ketiga tantangan tersebut, umat Islam perlu ekosistem dakwah. Maka, Nahdlatul Ulama mengembangkan empat pilar dakwah. Yaitu komunitas sistemik, pendidikan, personal exposure, dan sumber pengetahuan.

“Komunitas sistemik berarti hubungan antara kiai dan santri harus terkoneksi secara kuat dan intensif,”ujarnya.

Nahdlatul Ulama juga berusaha untuk mengembangkan pendidikan, baik pendidikan formal maupun pendidikan majelis-majelis taklim. Pesantren, sekolah, dan madrasah adalah pilar penting untuk menjawab berbagai tantangan zaman.

Muzakki menekankan bahwa pendidikan harus memiliki sumber yang jelas. Maka, NU selalu berusaha untuk mengembangkan pendidikan dengan berdasarkan pada kitab kuning atau kitab klasik Islam dan sejarah Islam di Indonesia. Hal tersebut penting dilakukan agar umat Islam tidak terjebak pada realitas ganda di era modern.

Baca Juga  Beasiswa S3 Kaderisasi 1000 Ulama Program Kerjasama MUI - Baznas, Berikut Pilihan Kampusnya

Pradana Boy, Ph, D, Universitas Muhammadiyah Malang dan Majelis Tarjih dan Tajdid PW Muhammadiyah Jawa Timur

Kepala Pusat Studi Islam dan Filsafat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Pradana Boy mengungkapkan tiga konsepsi Islam moderat, meliputi konsep dasar agama, budaya, dan terminologi.

Ketiga konsep tersebut, kata Pradana, mengandung ajaran-ajaran Tuhan yang disampaikan kepada manusia lewat media kewahyuan.

“Tiga konsep itu mengandung juga tiga unsur utama: Tuhan, wahyu dan Nabi sebagai pembawa pesan,” katanya.

Mengenai hubungannya dengan ajaran moderat, menurut dia, tampak dari hubungan agama dengan kebudayaan yang beragam di Indonesia. Hal itu, diperkuat juga lewat perkembangan teknologi dan pertumbuhan para cendekiawan muslim.

“Hubungan budaya dan agama, ada pertumbuhan cendekiawan muslim. Budaya dan agama bisa berdampingan dan bisa membangun sintesis karena merupakan supremasi dari agama itu sendiri,” terang Pradana.

Diakuinya, Muhammadiyah kini tengah mencoba mengakomodir kedua hal tersebut. Agama dan budaya. “Selama 15 tahun terakhir, Muhammadiyah punya dakwah budaya. Kuntowijoyo mengatakan Muhammadiyah beralih dari agama lama ke agama baru. Bahwa Muhammadiyah telah mengimplementasikan teks dari budaya,” ujar dia melanjutkan.

Ini, menurutnya, bisa dilihat dari gerakan sukarela untuk kemanusiaan, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Ada etika welas asih yang paling penting yang ditawarkan Muhammadiyah dalam melayani kemanusiaan. Seperti etika kebudayaan dan etika guru-murid.

“Ini sudah terbukti dari praktik yang sudah dilakukan kurang lebih 100 tahun keberadaan Muhammadiyah,” ungkapnya. (AA)

Redaksi Redaksi Arrahim.ID