Peran Strategis Media Islam dalam Menguatkan Narasi Islam Rahmatan Lil ‘ Alamin di Indonesia, Pakistan, Tunisia, dan Malaysia

Seminar Internasional “Membangun Kerjasama Internasional untuk Menguatkan Komitmen dan Praktik Islam Rahmatan Lil ‘Alamin” dilaksanakan oleh INFID (International NGO Forum on Indonesian Development), bekerjasama dengan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan KBRI di Pakistan, Tunisia, dan Malaysia. Seminar dilaksanakan pada tanggal 25-27 Januari 2022.

Pada hari kedua, seminar dilaksanakan secara paralel mengangkat 3 tema: 1) Peran Strategis Muslimah dalam Menguatkan dan Meluaskan Praktik Islam Rahmatan Lil ‘Alamin di Indonesia, Pakistan, Tunisia, dan Malaysia; 2) Peran Strategis Media Islam dalam Menguatkan Narasi Islam Rahmatan Lil ‘ Alamin di Indonesia, Pakistan, Tunisia, dan Malaysia; dan 3) Islam dan Kebudayaan: Strategi Dakwah yang Inklusif, Pengalaman Indonesia, Pakistan, Tunisia, dan Malaysia.

Di sesi tema kedua “Peran Strategis Media Islam dalam Menguatkan Narasi Islam Rahmatan Lil ‘ Alamin di Indonesia, Pakistan, Tunisia, dan Malaysia, diawali pidato kunci dari Dr. AS Hikam (Menteri Riset dan Teknologi 1999-2001, Penasehat INFID). Panelis yang hadir adalah Alissa Qotrunnada Wahid (Ketua PBNU), Dr. Siti Syamsiatun (PP Aisyiyah Muhammadiyah), Dr. Fawzia ben Ghali (Universitas Sousse Tunisia), Dr. Asim Naeem (Institute of Islamic Studies, Lahore Pakistan) dan Prof. Dr. Moh Rashidi (Lestari Hikmah Malaysia).

Berikut adalah gagasan-gagasan penting yang disampaikan dalam pidato kunci dan forum diskusi para panelis.

Dr. Muhammad Atho’illah Shohibul Hikam, M.A., A.P.U. 

Dalam pidato sambutannya, Dr. Muhammad Atho’illah Shohibul Hikam, M.A. menegaskan bahwa tajuk acara hari ini mengajak kita untuk saling bekerjasama membangun solidaritas internasional. Ini menjadi penting dalam rangka penguatan komitmen dan penyebaran pesan Islam rahmatan lil ‘alamin di dunia.

“Bagi saya, konferensi ini adalah urgen, tidak saja untuk kepentingan umat Muslim, tetapi juga melampaui itu, yaitu untuk kepentingan perdamaian dunia di tengah aksi kekerasan ektremisme atas nama agama,” kata Hikam. 

Menurut Menteri Negara Riset dan Teknologi Indonesia (1999 – 2001) ini, ekstremisme menghasilkan daya destruktif dan korban lebih besar daripada pandemi covid-19.

“Ekstremisme tidak saja membawa kehancuran citra Islam dan kemanusiaan, tetapi juga merusak properti. Salah satu konsekuensinya adalah Islam dan Muslim di seluruh dunia telah menjadi pihak yang tertuduh. Mereka dipaksa menanggung semua tuduhan, seakan-akan umat Muslim adalah sumber kejadian-kejadian negatif.”

Untuk itu, kata Hikam, peran media dalam hal ini menjadi sangat penting dalam menyebarkan informasi dan narasi Islam damai.

Real time information sharing menjadi kunci untuk memitigasi informasi yang terdistorsi dalam bentuk hoax, ujaran kebencian, dan lain sebagainya. Saya kira dalam dua dekade terakhir ini komitmen untuk melawan ekstremisme telah ada, meskipun fakta di lapangan sangatlah sulit karena kelompok ekstremis memanfaatkan betul peran media sebagai alat pendengung propaganda kebencian mereka.”

Alissa Qotrunnada Munawwaroh Wahid

Ketua PBNU, Alissa Wahid, menyebut bahwa sosial media menjadi hal yang sangat penting di era digital. Di Indonesia, jumlah smartphone lebih banyak daripada jumlah penduduk itu sendiri.

Di sisi lain, pada tahun 2020, Indonesia mengalami penumbuhan 30 juta generasi muslim baru dengan karakteristik milenial. Kelompok baru tersebut lebih melek digital, lebih urban, dan mayoritas lahir dari kelas menengah.

“Generasi milenial Indonesia ini menganggap bahwa agama adalah hal yang sangat penting. Maka, karena agama adalah hal yang penting, terkadang ada narasi ekstrim yang diterima begitu saja,” ujarnya.

Salah satu narasi terbesar yang ada di kalangan milenial, imbuh Alissa, adalah bahwa dunia terbagi menjadi dua bagian., yaitu dunia muslim dan non muslim. Kelompok yang termakan oleh narasi tersebut menganggap bahwa demokrasi adalah buatan non muslim untuk menghancurkan Islam. Selain itu, kelompok tersebut juga menganggap ada dua kelompok Islam, yaitu Islam murni dan Islam Indonesia yang tidak murni. 

Maka, Alissa mengajak kepada masyarakat agar memproduksi konten-konten digital yang menawarkan Islam rahmatan lil ‘alamin.

“Kita harus membangun narasi yang efektif di media sosial. Tidak cukup dengan membanjiri pesan-pesan yang moderat, tapi juga harus berdampak,” imbuhnya. 

Siti Syamsiyatun, Ahli Media LPPA PP Aisyiyah

Ahli Media Lembaga Pengembangan dan Penelitian Aisyiyah (LPPA) Pengurus Pusat (PP) Aisyiyah Muhammadiyah, Siti Syamsiyatun menyampaikan urgensi penyuaraan literasi digital untuk perangi paham ekstremisme. Pasalnya, di era pandemi saat ini tak jarang ditemukan berbagai konten yang menstereotipkan perempuan. 

“Pada era pandemi ada banyak konten-konten yang menstereotipkan perempuan. Itu meningkat secara signifikan. Membuat pemahaman literasi digital menjadi penting terlebih di masa pandemi ini,” kata Siti.

Ia mengaku heran, lantaran konten-konten ektremis itu lebih banyak pengunjungnya dibandingkan website milik ormas-ormas besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

“Padahal kita banyak anggota, tapi justru website konservatif malah mendapat kunjungan banyak daripada yang moderat, seperti NU dan Muhammadiyah,” ujar dia.

Mohd Rashidi – Lestari Hikmah Malaysia

Mohd Rashidi menyebut bahwa media merupakan hal yang penting. Dalam Al-Quran surat Ibrahim ayat 4, Allah menjelaskan bahwa para nabi diturunkan dengan bahasa kaumnya. Hal itu berarti bahwa menyampaikan sesuatu dengan bahasa yang mudah dipahami itu penting.

Media adalah salah satu sarana untuk menyampaikan sesuatu dengan bahasa yang mudah dipahami. Menurutnya, hal-hal yang mempengaruhi seorang individu secara berurutan adalah keluarga, media, pendidikan, dan lingkungan.

“Media lebih berpengaruh terhadap diri kita daripada sekolah, guru, dan lingkungan,” ujarnya.

Ia menyebut bahwa ada enam komponen yang harus ada dalam media Islam. Antara lain toleransi, universal atau inklusif, komunikasi yang baik, kreatif, kritis, dan solutif.

Rashidi mengutip Ahmet Kuru yang menyebut bahwa salah satu masalah umat Islam di Malaysia adalah negara yang terlalu mengontrol kehidupan agama. Untuk mengatasi hal tersebut, ia menyerukan penguatan media Islam melalui produksi konten-konten digital. Selain itu, umat Islam juga perlu diedukasi dengan film, musik, dan lain-lain.

Dr. Asim Naeem, Associate Professor at Institute of Islamic Studies, Lahore, Pakistan

Dr. Asim Naeem dari Institute of Islamic Studies, Lahore, Pakistan menjelaskan situasi pluralitas kebudayaan di Pakistan. Menurut dia, peradaban Hindu-Muslim di Pakistan merupakan sebuah kombinasi kebudayaan dari dua kutub yang berbeda.

“Budaya Pakistan adalah keberlanjutan dari tradisi masyarakat Hindu masa lalu. Hari ini, kendati telah berpisah diri sejak 70 tahun lalu, karakter kebudayaan di Pakistan masih tetap sama dengan apa yang terjadi di India.” Kata Asim.

Meski begitu, beberapa perbedaan antara kedua negara tersebut memang tetap ada karena mayoritas penduduk Pakistan adalah beragama Islam.

“Mayoritas penduduk Pakistan beragama Islam. Dan, Muslim di Pakistan kebanyakan adalah komunitas sunni.’

Bagi Asim, itu bisa terjadi karena asimilasi budaya. Asimilasi budaya adalah sebuah proses sosial di mana terdapat dua atau lebih individu atau kelompok yang berbeda dari kebudayaan yang berbeda pula. Namun, mereka saling berinteraksi dan pada akhirnya menerima dalam sebuah identitas sosial.

“Perubahan sosial terjadi di setiap masyarakat, demikian halnya di Pakistan. Dengan asimilasi budaya, kita bisa memahami perbedaan budaya satu sama lain.”

Asim mengatakan jika Pakistan terdiri dari beragam etnis, bahasa daerah, dan penganut agama yang berbeda pula. 

Dr. Fawzia ben Ghali Sausse University, Tunisia

Doktor perempuan asal Tunisia ini menggambarkan dunia muslim saat ini hidup dalam keberagaman. Di tengah keberagaman saat ini media memiliki peranan yang sangat penting, tidak hanya sebagai alat komunikasi melainkan juga sebagai media untuk menyebarkan gagasan Islam rahmat maupun Islam ekstremis.

Dr. Fawzia mengatakan bahwa ajaran Islam rahmat telah dijelaskan dalam firman Allah yang salah satunya terangkum dalam QS. Ali Imran, Al Kahfi, dan Al Anbiya’. Selain itu, peranan Nabi di muka bumi merupakan rahmat bagi alam semesta. Dr. Fawzia berkata bahwa ketika Nabi dilempari atau dicaci maki oleh penduduk sekitar, Nabi malah disuruh mendoakan mereka. 

Berbagai bentuk ajaran Islam rahmat, baik dalam Al-Qur’an maupun Nabi Muhammad, belum tentu dapat diimplementasikan dengan baik oleh negara-negara muslim. 

“Selama empat belas abad kondisi sosial-politik dunia Islam belum stabil. Kekerasan, kemiskinan, ketidakadilan masih banyak ditemukan di dunia muslim”. Jelasnya.

Kondisi demikian diperparah ketika dunia memasuki era digitalisasi dan media sosial. Dunia Islam yang masih berkonflik dicitrakan negatif dalam media sosial. Akibatnya, fenomena islamophobia terjadi di negara-negara non-muslim. 

Oleh karena itu, Dr. Fawzia menjelaskan pentingnya menggunakan media baru sebagai alat kampanye ajaran Islam rahmat lil alamin.

“Membangun dan menyusun strategi yang ampuh dalam menyampaikan risalah Islam rahmat melalui media sosial”. Tambahnya. (AA)

0

Redaksi Arrahim.ID

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.