Redaksi Redaksi Arrahim.ID

Strategi Membangun Jejaring Organisasi Islam dalam Menguatkan Komitmen dan Praktik Islam Rahmatan Lil ‘Alamin di Dunia

3 min read

Seminar Internasional “Membangun Kerjasama Internasional untuk Menguatkan Komitmen dan Praktik Islam Rahmatan Lil ‘Alamin” dilaksanakan oleh INFID (International NGO Forum on Indonesian Development), bekerjasama dengan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan KBRI di Pakistan, Tunisia, dan Malaysia. Seminar dilaksanakan pada tanggal 25-27 Januari 2022.

Pada hari ketiga, tema diskusi yang diusung adalah “Strategi Membangun Jejaring Organisasi Islam dalam Menguatkan Komitmen dan Praktik Islam Rahmatan Lil ‘Alamin di Dunia”. Forum diskusi ini diisi oleh para cendikiawan dari berbagai negara, seperti Prof. Ahmad Najib Burhani (PP Muhammadiyah, Indonesia), Dr. Ahmad Suaedy (Universitas NU Indonesia), Prof. Dr. Abdellatif Bouazizi (Rector of Ezzitouna University, Tunisia), Dr. Usman Ahmad (University of the Punjab, Pakistan), dan Prof. Mohd Roslan Mohd Nor (Universiti Malaya, Malaysia).

Dalam penyampaiannya, Prof. Najib Burhani menekankan pentingnya kerjasama antar negara-negara muslim. Ia menyatakan bahwa organisasi yang ada seperti Organisasi Kerjasama Islam (OKI/OIC) merupakan aset yang perlu untuk dikembangkan.

“OIC berkomitmen untuk kemajuan solidaritas antar anggota,” ungkapnya.

Menurutnya, peran OKI dapat meningkatkan kesadaran atas isu-isu Islam di negara-negara mayoritas muslim. Bentuk kepedulian ini selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan, misalnya, membuat aksi solidaritas, audiensi antar negara, maupun aksi lainnya.

Meski demikian, peranan organisasi OKI perlu untuk ditingkatkan. Hal ini karena organisasi ini memiliki kemampuan jangkauan yang luas ke negara-negara muslim lainnya. Salah satu bentuk penguatannya bisa melalui jalur akademisi meskipun hingga saat ini masih minim.

Selain dalam bentuk ilmiah, penguatan itu juga dapat dilakukan dalam bentuk penyadaran bahwa Islam tidak identik dengan Timur Tengah. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir adanya anggapan, terutama dari Barat, bahwa Islam di Timur Tengah adalah agama teroris.

Baca Juga  Penghapusan Mapel PAI dan Bahasa Arab di Madrasah, Hoax Lagi?

“Kita harus desentralisasi Islam dari Timur Tengah. Ini akan membuat dunia Barat mengerti bahwa Islam tidak identik dengan Timur Tengah”. Penjelasan Prof. Ahmad Najib Burhani dalam Sesi 3 Seminar Internasional Islam yang diselenggarakan oleh INFID dan bekerjasama dengan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah Kamis (27/1).

Sedangkan, Dr. Ahmad Suaedy pada kesempatan tersebut menegaskan bahwa komitmen Islam terhadap perdamaian dunia tidak boleh hanya berhenti pada tataran konsep semata.

“Perbincangan mengenai komitmen Islam terhadap perdamaian dunia tidak boleh hanya dalam tataran konsep saja. Kita harus membawa topik ini ke dalam realitas yang ada.” tegas Ahmad Suaedy, Dekan Fakultas Islam Nusantara (UNUSIA), Jakarta.

Lebih lanjut, Suaedy menekankan pada bagaimana umat Islam mengimplemetasikan rahmatan lil ‘alamin secara konkrit. Menurutnya, salah  satu cara untuk merealisasikannya adalah dengan bersikap adil  dan tidak melakukan paksaan dalam beragama.

Sikap adil, menurutnya, sangat niscaya dalam merealisasikan praktik Islam rahmatan lil alamin, tidak membeda-bedakan suku, ras, dan agama, dan yang paling penting tidak melakukan opresi dalam beragama.

“Tidak ada perdamaian jika terdapat pemaksaan di dalamnya,” tegasnya.

Dalam pengertian ini, adil memiliki makna yang luas. Bukan hanya tentang bagaimana kita bersikap dengan orang “selain” kita. Namun juga keadilan dalam aspek-aspek lain, ekonomi misalnya.

Menurutnya, keharmonisan antar manusia sukar terjadi jika masih ada ketidaksetaraan di dalamnya. Konsep keadilan, menurut Suadey, juga tercermin dari komitmen kita untuk peduli tidak hanya kepada Muslim di negara-negara Islam, namun juga Muslim di negara-negara di mana Islam bukanlah agama mayoritas.

Lebih lanjut, Suaedy menegaskan bahwa Islam Nusantara yang melekat pada Indonesia mampu menjadi role model karena mencerminkan Islam yang sangat membumi. Konsep ini bisa menjadi contoh negara-negara lain dalam mengimplementasikan Islam rahmatan lil alamin. 

Baca Juga  Peringatan Haul Gus Dur Ke-11 Dirayakan Secara Online dari Tiga Kota

Di sisi lain, Prof. Abdel Latif Bouazizi selaku Rektor Ezzitouna University (Tunisia) yang turut hadir pada Sesi 3 ini, menyampaikan bahwa ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam rangka memajukan kerja sama global dunia Islam, salah satunya adalah ‘moral’.

Menurutnya, nilai welas asih merupakan pondasi dari kerja sama global. Maka, jika tujuan kerja sama global adalah untuk mencapai pembangunan yang komprehensif, maka kesadaran akan nilai welas asih harus ditanamkan dengan baik. 

“Kita juga harus fokus pada sarana komunikasi yang paling berpengaruh di tingkat global, yaitu internet. Kelimpahan informasi dan kekurangan informasi sama-sama hal yang buruk. Maka informasi harus dibuat agar seimbang,” ujar Bouazizi. 

Media sosial, imbuhnya, adalah alat yang paling efektif untuk meningkatkan kesadaran, memobilisasi kelompok, dan mempengaruhi opini publik. 

Dr Hafiz Usman Ahmad (University of the Punjab, Lahore Pakistan) yang dalam konferensi ini berkesempatan untuk menyampaikan gagasan dan pemikirannya memaparkan terkait strategi untuk membangun jejaring Islam rahmatan lil alamin di antara organisasi Islam.

“Berjejaring harus berdasarkan rahmat dan adanya ketidaksepakatan. Kita tidak boleh memaksakan opini/pendapat,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa dalam membangun jejaring juga diperlukan adanya dimensi praktis yang menebarkan kemaslahatan. Itu perlu dilakukan sebagai cerminan organisasi bisa menjadi wadah penyeru dan penebar rahmat.

“Tiap organisasi harus menjadi rahmat. Mengembangkan instrumen untuk menerima segala perbedaan karena tiap organisasi memiliki tujuan yang berbeda. Menerima organisasi Islam asal mereka tidak menyebarkan kebencian,” ujar Usman.

Prof. Mohd Roslan Mohd  Nor (Universiti Malaya, Malaysia), sebagai narasumber terakhir pada Sesi 3 dari rangkaian kegiatan konferensi, menekankan bahwa kekuatan Islam rahmatan lil alamin sebagai basis pemersatu umat. Kekuatan konsep tersebut dapat dilihat dari sosok Nabi Muhammad yang berhasil menyatukan seluruh umat yang ada pada saat itu.

Baca Juga  Islam dan Kebudayaan: Strategi Dakwah yang Inklusif, Pengalaman Indonesia, Pakistan, Tunisia, dan Malaysia

“Konsep Rahmatan lil ‘Alamin dikirim ke bumi berhasil mempersatukan orang-orang yang memiliki masalah dari berbagai latar belakang agama yang berbeda, misalnya kaum Muhajirin dan Ansor”. Tambahnya.

Ia mencontohkan bahwa di Malaysia terdapat payung besar di bawah negara untuk mengakomodir organisasi Islam. Berbeda halnya dengan Indonesia yang, pemerintah/negara, tidak memiliki kendali atas organisasi Islam.

“Keberadaan lembaga ini memberikan keuntungan bagi pemerintah untuk melihat hal-hal yang baik/dampak dari organisasi keagamaan”. Imbuhnya dalam Seminar Internasional Islam yang diselenggarakan oleh INFID dan bekerjasama dengan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah pada Kamis (27/1).

Melalui pengalaman dari Malaysia beliau menginginkan adanya kerjasama antar organisasi Islam di seluruh dunia. Tujuannya adalah untuk meningkatkan persatuan antar umat Islam di seluruh dunia.

“Kerjasama ini dapat menghapus ekstremisme beragama dan membangun jaringan Islam moderat (Islam wasatiyyah)”. Ungkap Profesor asal Malaysia.

Selanjutnya, Mohd Roslan Mohd  Nor menjelaskan agenda yang dapat dilaksanakan yaitu menyaring organisasi Islam yang mau diajak bekerjasama. Melalui kerjasama ini tujuan-tujuan moderatisme Islam, menolak pertikaian antar muslim, dan menghapus ekstremisme beragama dapat tercapai. (AA)

Redaksi Redaksi Arrahim.ID