Redaksi Redaksi Arrahim.ID

Vatikan Terbitkan “Pesan Menyambut Datangnya Ramadhan dan Idul Fitri”

3 min read

Source: ANTARA FOTO/Osservatore Romano/Handout via ReutersBaca selengkapnya di artikel “Vatikan Klarifikasi Laporan Paus Fransiskus Anggap Neraka Tak Ada”, https://tirto.id/cG3U

Ramadhan menjadi salah satu bulan istimewa dalam Islam yang selalu disambut dengan kemeriahan dan semangat meningkatkan ibadah oleh umat Muslim. Berbagai keistimewaan disebutkan dalam literatur keislaman tentang kemulyaan bulan ini, baik dalam Alquran, hadis maupun literatur lainnya, kiranya menjadikan bulan Ramadhan mempunyai tempat tersendiri dalam setiap hati orang Islam.

Melihat kedudukannya yang begitu istimewa dan ekspresi kegembiraan setiap tahunnya dalam menyambut Ramadhan, tidak jarang umat agama lain, paling tidak, ikut mengucapkan selamat dan berbahagia atas kebahagiaan umat Islam dalam menyambut kedatangan Ramadhan. Tidak terkecuali umat Katholik yang secra resmi mengeluarkan pesan khusus bagi umat Islam yang sedang menyambut Ramadhan dan Idul Fitri.

Berikut surat resmi yang dikeluarkan oleh Dewan Kapausan untuk Dialog Antar Umat Beragama, Vatikan.

Pesan Menyambut Datangnya Ramadhan Dan Idul Fitri 1442 H. / 2021 A.D.

Saudara dan saudari Umat Muslim yang terkasih,

Kami di Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama dengan penuh suka cita menyampaikan salam persaudaraan kami untuk bulan yang kaya akan berkah Ilahi dan meningkatnya pendalaman spiritual. Puasa, bersama dengan doa, sedekah serta praktik kesalehan yang lain, membawa kita lebih dekat dengan Tuhan Sang Pencipta kita dan juga pada semua orang di sekitar kita dimana kita hidup dan bekerja, dan membantu kita untuk terus berjalan bersama di jalan persaudaraan.

Selama dalam bulan-bulan penderitaan, kesesakan dan kesedihan yang panjang ini, terutama selama periode penguncian (lockdown), kami sungguh merasakan kebutuhan akan adanya bantuan Ilahi, namun juga muncul kebutuhan untuk mengekspresikan perhatian dan gerakan solidaritas persaudaraan: sebuah panggilan telepon, sebuah perhatian dalam bentuk pesan yang mendukung, penghiburan, doa, pertolongan untuk membeli obat atau makanan, nasihat, atau apapun, yang secara sederhana, membuat kita merasa aman karena mengetahui bahwa seseorang selalu ada untuk kita pada saat dibutuhkan.

Bantuan Ilahi yang kita butuhkan dan kita cari, khususnya dalam situasi pandemi saat ini, menjadi berlipat ganda: belas kasih, pengampunan, pemeliharaan, karunia spiritual dan material lainnya. Namun, yang paling kita butuhkan sekarang ini, adalah harapan. Maka, pada saat ini, kami pikir pantas kiranya untuk berbagi dengan anda beberapa refleksi tentang kebajikan ini.

Seperti kita sadari, harapan, tentunya termasuk optimisme, adalah melampaui segala hal. Sementara optimisme adalah sikap manusia, maka pengharapan memiliki dasar pada sesuatu yang religius: Tuhan mencintai kita, dan karena itu memelihara kita melalui penyelenggaraan-Nya. Ia melakukan ini dengan cara-Nya sendiri yang misterius, yang tidak selalu dapat kita pahami. Dalam situasi ini, kita seperti anak-anak yang yakin akan perhatian penuh kasih orang tuanya, tetapi belum dapat memahami sepenuhnya.

Baca Juga  Salah Satu Dosen Meninggal Dunia Diduga Covid19

Harapan muncul dari keyakinan kita bahwa semua masalah dan pencobaan kita memiliki arti, nilai dan tujuan, betapapun sulit atau tidak mungkinnya bagi kita untuk memahami alasannya atau untuk menemukan jalan keluarnya.

Harapan juga disertai dengan keyakinan akan kebaikan yang ada di hati setiap orang. Seringkali, dalam situasi kesulitan dan keputusasaan, bantuan, dan harapan yang ditimbulkannya, dapat datang dari orang-orang yang paling tidak kita harapkan.

Persaudaraan manusia, dalam berbagai manifestasinya, menjadi sumber harapan bagi semua, terutama bagi mereka yang membutuhkan. Syukur kepada Tuhan Pencipta kita, dan kepada sesama kita, baik laki maupun perempuan, atas tanggapan yang cepat serta solidaritas yang penuh kemurahan hati, yang ditunjukkan oleh orang-orang beriman dan juga orang-orang yang berkehendak baik tanpa afiliasi agama di saat bencana, baik alami maupun buatan manusia, seperti konflik dan perang.

Semua pribadi ini dan kebaikan mereka mengingatkan kita sebagai rang-orang yang percaya, bahwa semangat persaudaraan adalah universal, dan melampaui semua batasan: etnis, agama, sosial dan ekonomi. Dalam mengadopsi roh ini, kita meniru Tuhan, yang memandang dengan penuh kebajikan pada umat manusia yang Ia ciptakan, pada semua makhluk lain dan pada seluruh alam semesta. Inilah sebabnya mengapa kasih dan kepedulian yang tumbuh di planet ini, “rumah bersama” kita, menurut Paus Fransiskus, merupakan bentuk lain untuk tanda harapan.

Kami juga menyadari bahwa harapan memiliki musuh seperti: kurang percayanya pada kasih dan perhatian Tuhan; kehilangan kepercayaan pada saudara dan saudari kita; pesimisme; keputusasaan dan seterusnya, generalisasi yang tidak adil berdasarkan pengalaman negatif seseorang, dan sebagainya. Pikiran, sikap, dan reaksi yang berbahaya ini harus dilawan secara efektif, untuk memperkuat harapan kepada Tuhan dan kepercayaan kepada semua saudara dan saudari kita.

Dalam Surat Ensiklik Fratelli Tutti baru-baru ini, Paus Fransiskus sering berbicara tentang harapan. Di sana ia memberi tahu kita: “Saya mengundang semua orang untuk memperbarui harapan, ‘karena harapan berbicara kepada kita tentang sesuatu yang berakar dalam di setiap hati manusia, terlepas dari keadaan dan kondisi historis kita.

Harapan berbicara kepada kita tentang kehausan, aspirasi, kerinduan akan kehidupan yang terpenuhi, keinginan untuk mencapai hal-hal besar, hal-hal yang memenuhi hati kita dan mengangkat semangat kita ke realitas luhur seperti kebenaran, kebaikan dan keindahan, keadilan dan cinta… dan itu bisa membuka kita pada cita-cita besar yang membuat hidup lebih indah dan berharga’ (lih. Gaudium et Spes, 1). Maka, marilah kita terus maju di sepanjang jalan pengharapan” (no. 55).

Kita, umat Kristiani dan Muslim, terpanggil menjadi pembawa harapan, untuk kehidupan sekarang dan kehidupan yang akan datang, dan menjadi saksi, pemulih dan pembangun harapan ini, terutama bagi mereka yang mengalami kesulitan dan keputusasaan.

Sebagai tanda persaudaraan spiritual kami, kami membawa anda dalam doa kami, dan kami mengirimkan harapan terbaik untuk Ramadhan yang damai dan berbuah, dan untuk Idul Fitri yang penuh kebahagiaan.

Dari Vatikan, 29 Maret 2021.

*Terjemahan dalam Bahasa Indonesia ini dibuat oleh: Komisi HAK KWI 

Baca Juga  Tadarus Litabdimas ke-24: Paradigma Moderasi Beragama dan Kontribusi Penelitian di PTKI
Redaksi
Redaksi Redaksi Arrahim.ID