Muhammad Akbar Darojat Restu Putra Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Islam Mengajarkan Untuk Menjaga Alam

1 min read

Tanpa perlu menerangkan lebih jelas lagi, kita paham bahwa sekarang bumi tengah berada di ambang kehancuran. Kerusakan yang tengah menggerogoti bumi sudah pada tahap kronis. Salah satu penyebabnya adalah hilangnya keanekaragaman hayati. Semua ini adalah sikap eksploitasi manusia terhadap alam sehingga menyebabkan ketidakteraturan alam dan pemanasan global.

Dalam sebuah laporan yang bertajuk Global Assessment Report on Biodiversity and Ecosystem Services 2019 oleh IPBES [The Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services] dijelaskan bagaimana kondisi kenekaragaman hayati yang kian hari kian mengkhawatirkan.

Dengan mengumpulkan 15.000 kajian di seluruh dunia oleh 145 ilmuwan dari 50 negara dalam kurun waktu terakhir, laporan itu menunjukkan bahwa 50 persen perluasan sektor pertanian maupun perkebunan telah mengakibatkan lenyapnya hutan, tak terkecuali budidaya monokultur. Pembukaan sektor pertanian dan perkebunan itu dilakukan demi menaikkan produksi pangan hingga 300 persen sejak 1970.

Laporan itu juga menunjukkan bagaimana penggunaan pertisida secara berlebihan telah berkontribusi pada punahnya satu dari sepuluh jenis serangga. Selain burung dan kelelawar, serangga berperan krusial dalam penyerbukan tanaman, termasuk tanaman yang memproduksi pangan bagi manusia. Ironinya, untuk memenuhi kebutuhan pangan kita malah mendestruksi sistem alami yang berperan penting di dalamnya.

Ekosistem laut pun mengalami hal yang sama. Dalam konteks ini, hanya 7 persen sumber daya laut yang masih bisa dimanfaatkan secara optimal. 93 persen lainnya sudah tak bisa dimanfaatkan akibat eksploitasi berlebih, sampah, dan perikanan industrial.

 Pada dasarnya keragaman yang ada di alam juga merupakan sunnatullah. Allah tak hanya mencipkan manusia dengan berbagai latar belakang yang berbeda-beda, melainkan juga menciptakan spesies yang ada di alam dengan berbeda-beda. Hal ini sebagaimana difirmankan dalam Surat Al-An’am ayat 141 yang artinya:

Dialah yang menumbuhkan tanaman-tanaman yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, serta zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya). Makanlah buahnya apabila ia berbuah dan berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memetik hasilnya. Akan tetapi, janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Dalam Tafsir Al-Misbah, Quraisy Shihab mencatat bahwa ayat tersebut menjelaskan bagaimana kekuasaan Allah yang bisa menciptakan pohon kurma, zaitu, delima, dan tanaman lain dalam keadaan yang beragam rasa dan aromanya, meski bentuk dan warnanya memiliki kesamaan. Dengan ini, semua tanaman sejatinya berbeda-beda walau secara empiris memiliki keserupaan.

Baca Juga  Antara Konsep dan Realitas: Refleksi tentang Moderasi Beragama di Lingkungan Kampus

Secara implisit, ayat itu ingin menekankan pada manusia untuk menjaga keseimbangan alam. Di sini keragaman yang ada di alam diciptakan oleh Allah bukan tanpa tujuan. Selain sebagai fungsi estetik, keragaman tersebut menunjukkan bahwa satu spesies dengan spesies yang lain sejatinya saling melengkapi.

Semisal dalam hutan, ada pohon pinus yang berfungsi sebagai untuk menjaga kestabilan tanah; rusa yang berfungsi untuk mengontrol pertumbuhan vegetasi; harimau yang berfungsi untuk mengontrol populasi hewan pemangsanya dsb. Setiap spesies memiliki kontribusi masing-masing untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Ketika salah satu dari spesies itu hilang, maka ekosistem hutan akan terganggu.

Ayat tersebut juga menjelaskan bahwa keragaman itu bukan hanya dijaga, melainkan juga dimanfaatkan secara proporsional dan tidak berlebihan. Dengan lain kata, manusia mesti bisa memanfaatkan spisies yang ada di alam secara bijaksana sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhannya.

Melalui kontekstualisasi gagasan seperti itulah, umat Islam dapat turut menjaga bumi ini dari kerusakan. Melalui itu pula, Islam dapat merealisasikan proyek Rahmatal lil Alamin dalam arti paripurna, yang mana tak hanya memberikan kesejahteraan pada manusia, melainkan juga alam semesta.

Muhammad Akbar Darojat Restu Putra Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya