Rijal Mumazziq Z Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assuniyyah Kencong Jember

Mencerna Makna Foto Ulama di Kedai Kopi

3 min read

Hari ini saya menuju Tuban untuk menghadiri bedah buku ‘Dualisme Sistem Pendidikan di Indonesia’ karya Rektor Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban, Akhmad Zaini.

Sebelumnya, saya mampir di Depot Asih Jaya, salah satu sentral soto di Lamongan. Saya suka menunya, selain tentu saja respek melihat deretan foto di dinding kedai. Selain berpose dengan beberapa pejabat tinggi, dari Masyfuk hingga SBY; Haji Ali Mahfudz, pemilik warung ini, juga berfoto dengan budayawan Emha Ainun Nadjib, dan para tokoh agama seperti KH. Maimoen Zubair, Habib Syekh bin Abdul Qadir Assegaf, Mama Dedeh, sampai Ustadz Mansur.

Ada juga foto KH Miftahul Lutfi Muhammad, Surabaya dan yang spesial foto Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dicetak dengan ukuran besar dan dibingkai warna keemasan di atas lorong menuju mushala.

Parade foto para ulama di Depot Asih Jaya Lamongan ini mengingatkan saya pada pemandangan yang sama, yang saya jumpai di Warung Barokah jalan Wahidin Sudirohusodo Gresik.

Foto dua ulama Surabaya, KH Asrory al-Ishaqi dan ayah beliau, KH Utsman al-Al Ishaqi, ini menempel di dinding warung tersebut. Saya menjepretnya saat akhir Desember 2017 silam.

Selain foto beliau berdua, masih ada foto ulama lain, seperti Habib Abdur Qadir Assegaf, Jeddah; dan Abuya Sayyid Muhammad bin Alawy al-Maliki. Bagi saya ini keren. Sebab, foto di dinding lebih dari sekedar gambar. Ia menunjukkan kesukaan, karakter dan ideologi penempel foto. Saya menduga, pemilik warung Barokah ini adalah salah satu anggota Jamaah Al-Khidmah sekaligus berbaiat Thariqah Qadiriyah Wan Naqsyabandiyah.

Di Jakarta, saya beberapa kali menjumpai foto para Habaib, dari Habib Luthfi bin Yahya, Habib Rizieq Shihab, Habib Mundzir bin Fuad al-Musawa hingga dua bersaudara Habib Jindan dan Habib Ahmad bin Novel Jindan, maupun generasi sepuh seperti Habib Ali al-Habsyi, Habib Ali Alatas bungur, maupun Habib UTsman bin Yahya. Di sisi lain, foto para ulama Betawi, dari Muallim Syafi’I Hadzami, Muallim Abdullah Syafi’I, dan lain sebagainya. Semua menempel di dinding beberapa kedai.

Baca Juga  Generasi Millenial, Industri 4.0 dan Ilmu Hadis [1]: Menerawang Problematika “Kita”

Di warung Padang, biasanya juga kita temua foto pria sepuh berpeci hitam. Namanya Ungku Saliah. Beliau merupakan ulama yang berasal dari Kabupatan Padang Pariaman khususnya Kecamatan VII Koto Sei Sarik. Beliau bermadzah Syafi’I dan wafat pada 1974, dan masyhur sebagai seorang waliyullah.Foto Ungku Saliah biasanya banyak bertebaran di Warung Padang yang dikelola perantau asal Pariaman. Sebagian ingin tabarukan, sebagian ingin sekedar menunjukkan identitasnnya sebagai bagian dari pecinta wali, juga menuntas rasa rindu pada kampung halaman.

Di daerah Klojen Lumajang, ada tukang tambal ban yang buka 24 jam. Ia menjadi harapan mobil yang menjelang tengah malam tiba-tiba bannya gembos maupun langganan truk-truk besar yang ingin tambah angin ban. Di salah satu tiang kayu tertempel poster ukuran besar bergambar almaghfurlah KH. Hasan Saifurrizal, pengasuh PP. Zainul Hasan Genggong Probolinggo, yang juga ayah dari KH. Hasan Mutawakkil Allallah.

Saya tak bertanya kaitan secara langsung antara tukang tambal ban dan sosok yang tertera di poster itu. Mungkin santrinya atau sekedar pengagum saja.

Saya percaya, poster-foto mewakili hubungan spesial antara sosok yang tertera di poster dengan mereka yang memasangnya. Jika berkunjung ke Situbondo dan Bondowoso, bisa dipastikan mayoritas rumah memiliki foto-poster almaghfurlah KH. As’ad Syamsul Arifin disertai dua putra beliau; Kiai Fawaid dan Kiai Kholil. Di wilayah Matraman, foto tiga Muassis Lirboyo (Mbah Manaf, Mbah Marzuqi dan Mbah Mahrus), KH. Djazuli Usman, Gus Miek, serta KH. Abdul Jalil Mustaqim banyak menghiasi dinding rumah penduduk.

Di komunitas santri Madura yang memiliki usaha warung makan, misalnya, acapkali ditemui foto ulama Madura di tembok warungnya. Biasanya hal ini menandakan hubungan santri-kiai. Di Jetis Ponorogo, tukang potong rambut asal Bangkalan masih memasang stiker-foto KH. Amin Imro dan KH. Cholil AG, dua kiai terpandang di Madura era 90-an.

Baca Juga  Hijrah Itu Mempersatukan dan Mendamaikan, Bukan Sebaliknya

Di masyarakat Banjar, kabarnya, foto Guru Ijai dan gambar Syaikh Arsyad Banjar masih banyak dijumpai di rumah penduduk. Di Lombok, foto Tuan Guru Zainuddin Abdul Majid banyak dijumpai di rumah penduduk. Lebih luas lagi, dalam komunitas terekat, misalnya, foto mursyid yang terpasang di dinding ruang tamu menjadi salah satu ciri khas. Dalam komunitas yang lebih cair, foto pendiri NU bisa menjadi penanda ideologis pemilik rumah.

Fenomena foto-poster ulama di masyarakat ini mengingatkan saya pada tulisan Mas Hairus Salim HS. Dalam salah satu artikel yang termuat di Jurnal Taswirul Afkar, peneliti LKiS ini menyoroti kecintaan masyarakat Banjar terhadap para ulama yang, antara lain, ditandai dengan pemasangan foto ulama Banjar di ruang tamunya. Ada banyak alasan sosiologis, ideologis dan kultural yang melatarbelakanginya. Yang pasti, bukan semata tabaruukan saja.

Bagi saya, penempatan foto para ulama di kedai makan, bukan rumah pribadi, menunjukkan semacam promosi terselubung ikatan primordial, ideologis, hingga sambungan ruhaniah para pemiliknya dengan sosok yang dimuliakan.

Juga melampuai mekanisme ‘sertifikasi halal’ di alam bawah sadar pengunjungnya. Tamu tak perlu bertanya status kehalalan menu karena terselip keyakinan kesalehan para pengelola warung.

Sebagaiman asebelumnya, para pemilik warung yang sudah pernah ke Baitullah menyertakan identitas Haji di depan namanya. Depot Sate Gule Haji Faqih Cukir, ayam goring Haji Soleh Pandaan, Warung Haji Roni Denpasar, Warung Haji Ridwan Pasar Besar Malang, Coto Makassar Haji Hassan dan sebagainya. Penyematan gelar haji, selain menunjukkan reputasi kesuksesan pemiliknya yang bisa ke Baitullah, juga menjadi sarana kunci trademarknya. Seperti identitas colonel di depan nama Harland Sanders, pemilik KFC yang tersohor itu.

Baca Juga  Wajah Intoleransi di Tengah Wabah

Fakta lain, beberapa kedai yang memampang foto ulama di dindingnya, memiliki musala yang bersih dan terjaga kesuciannya, juga toilet yang memadai. Ini yang saya sukai.

Singkat kata, foto-poster lebih dari sekedar gambar. Ia menjadi menjadi penanda relasi emosional-patronalistik, watak ideologis, dan relasi spiritual. Maka nyaris mustahil menemui foto ulama dan walisongo di rumah seorang Wahhabi, misalnya. Sebab, sebagaian dari emreka masih mengharamkan foto/gambar walaupun seringkali inkonsisten dengan pendapatnya sendiri.

Lagi pula, foto-poster ulama bisa menjadi medium komunikasi non-verbal, penyuaraan ideologis dan identifikasi personal dalam kajian interaksionisme simbolik ala Herbert Blumer. Wallahualam. (mmsm)

Rijal Mumazziq Z
Rijal Mumazziq Z Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assuniyyah Kencong Jember