Tiga Pesan Gus Awis Kepada Para Santri

Sebagai seorang santri, kita seringkali takut untuk menapaki dunia luar, yang lebih luas, yang lebih bebas. Terlebih ketika melihat kejahatan terjadi dimana-mana, maksiat menggenang lepas, dan pengaruh buruk tak ada sungkannya memberi kabar. 

Tak kurang dari sebagian besar lulusan pondok pesantren tergerus. Mengubah 180 derajat alur kehidupannya. Yang harusnya ketika keluar pondok bisa membawa syiar Islam, atau seminimalnya bisa menjaga diri dan mengamalkan ilmu-ilmu yang telah diembannya, sayang yang terjadi sebaliknya.

Kesalehan tergerus, ritual ibadah tertinggal, pakaian yang menutup aurat tertanggal. Masjid semakin dijauhi, namun dunia malam satu persatu dijelajahi.

Hal ini kemudian menjadi perhatian dari KH Afifudin Dimyathi, pengasuh Pondok Pesantren Ribath Hidayatul Qur’an. Dalam sebuah acara wisuda santri di Mojokerto, Seorang ulama kontemporer yang kerap kali dipanggil Gus Awis ini memberikan tiga pesan penting kepada para wisudawan agar menghilangkan rasa malas dan memudahkan beramal saleh ketika sudah keluar dari pondok pesantren.

Mengingat Kebaikan Allah Melalui Orang Tua

    Gus Awis menceritakan salah satu sahabat yang dianggap sukses memiliki keluarga beriman dan beramal saleh, yakni Sayyidina Abu Bakar Ash Shiddiq. Orang tuanya masuk Islam, begitupun anak-anaknya. Berbeda dengan sahabat lain yang mana ada di antara keluarganya tidak masuk Islam. Dalam Di dalam Al-Quran surat Al Ahqaf ada sebuah doa yang dinisbatkan kepada Sayyidina Umar sebagai berikut:

    اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةًۙ قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ

    Apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku.

    Melalui ini, Gus Awis menekankan para wisudawan untuk senantiasa mengingat kebaikan orang tua, jasa orang tua. Dengan mengingatnya, maka وان اعمل صالحا ترضاه, lanjutan potongan ayat di atas, yakni kita akan dimudahkan beramal saleh yang diridai oleh Allah. Bahkan lanjutannya lagi وَأَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْ. Ketika kita melakukan amal saleh, maka anak kita juga akan menjadi orang yang saleh juga.

    Salah satu cara untuk mengingat kebaikan orang tua adalah dengan membelikan uang yang diberikan orang tua untuk membeli hal-hal yang bermanfaat. Tidak menyalurkan kepada hal-hal yang tidak bermanfaat. Bisa juga dengan merasa kasihan kepada orang tua yang sudah susah mencari uang, sehingga tidak akan menyia-nyiakan diri untuk berbuat buruk atau menghabiskan rezeki yang diberikan untuk hal-hal yang bersifat mubazir.

    Mengkonsumsi Makanan yang halal dan baik

    Allah SWT berfirman dalam QS Al-Mu’minun ayat 51 yang berbunyi

    يٰٓاَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبٰتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحًاۗ  

    Wahai para rasul, makanlah yang baik-baik dan beramallah yang saleh.

    Di sini Gus Awis menekankan larangan mengkonsumsi makanan-makanan yang tidak halal dan tidak baik. Beliau berpendapat bahwa makanan-makanan yang tidak halal atau haram akan menyebabkan mudah berbuat jahat.  Hal ini didasarkan pada ayat di atas. Beliau mencoba mengkaji melalui pandangan para mufasir ketika menganalisis ayat tersebut, yang mana mendahulukan makan yang baik-baik dulu baru beramal saleh. 

    Ternyata ketika seseorang makan makanan yang baik, mama amal saleh akan mudah dilakukan. Beliau mengatakan الأكل من الطيبات يعين على العمل الصالح, yang mana artinya adalah makan yang baik dan berkualitas akan membantu kita beramal yang saleh.

    Kemudian Gus Awis mulai menjelaskan, salah satu cara untuk menjaga makanan adalah dengan membatasi membatasi diri dari makanan yang tidak baik. Seperti halnya makanan yang penuh pewarna, micin, pengawet, dan lain sebagainya. Pada surah al-baqarah ayat 168 telah dikatakan bahwa

    يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ 

    Wahai manusia, makanlah yang halal dan baik (baik), dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. 

    Ia berkesimpulan dari ayat ini bahwa jika seseorang tidak makan makanan-makanan yang baik, makanan-makanan yang halal, berarti ia telah ikut langkah setan. Langkah setan sendiri dijelaskan di ayat setelahnya, yakni QS Al Baqarah ayat 169 yang berbunyi ,

    اِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوْۤءِ وَالْفَحْشَاۤءِ وَاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ 

    Sesungguhnya (setan) menyuruh kamu untuk berbuat dosa-dosa kecil dan dosa-dosa besar serta syirik, ngomong sembarangan, yang mengatasnamakan Allah.

    keyakinan Gus Awis atas pentingnya menjaga konsumsi makanan yang halal dan baik semakin diperkuat oleh pengalaman pribadinya ketika membaca surat kabar. “Ada surat kabar berbahasa arab saya baca. Nutrisi yang tidak baik berpengaruh pada perilaku seseorang. Itu diterapkan di penjara di amerika. Ada penjara yang khusus makanan-makanan junkfood, fastfood, siap saji. Penjara yang lain itu sayur mayur, segala makanan sehat. Setelah dijadikan uji coba, nampak perbedaannya. Narapidana yang makan makanan tidak sehat itu kata kata dan perilakunya semakin beringas. Sedangkan narapidana yang makanannya sehat-sehat itu perilakunya semakin tenang semakin kalem.”

    Membiasakan berkata jujur dan baik

    Mengawali poin ini, beliau merujuk pada salah satu ayat di Alquran, tepatnya di surat Al Ahzab ayat 70 yang berbunyi:

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ 

    Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.

    Gus Awis mencoba untuk menggarisbawahi lafaz qoulun sadida sebagai bahasa Alquran dari perkataan yang benar. Sebagai sebuah nasihat, sebagai pesan penting yang disampaikan melalui firman Allah. Terlebih balasan yang diberikan oleh Allah jika seseorang bisa mengatakan sesuatu dengan benar, terdapat pada ayat selanjutnya,

    يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ

    Allah akan menjadikan amalmu saleh dan mengampuni dosa-dosamu.

    Secara tidak langsung, Gus Awis menyampaikan bahwa salah satu cara untuk menjaga diri untuk tetap beramal saleh adalah dengan mengucapkan perkataan yang benar. 

    Mengapa demikian?

    Karena, jika seseorang mengawali jalannya melalui perkataan yang tidak benar, tidak jujur, tidak sesuai dengan realita yang ada, maka yang terjadi adalah keburukan yang tertumpuk-tumpuk, kebohongan tiada akhir, sehingga amal saleh terkikis olehnya.

    Sedangkan jika seseorang memulai jalannya dengan kata-kata yang jujur, terbuka, memegang kebenaran dalam ucapannya, maka amal-amal yang ia lakukan akan terkontrol dengan sendirinya, menjadi lebih baik.

    Di sinilah kemudian Gus Awis berpesan pada para santri, bahwa qoulun sadida sangat bagus diterapkan sejak muda. Selain perkataan maupun ucapan yang harus disampaikan secara jujur dan terbuka, qoulun sadida juga bisa diterapkan melalui zikir, mengaji Alquran, maupun istighosah. Melalui sarana inilah para santri bisa menjaga amal-amalnya sebagai orang yang saleh meskipun sudah melalang buana setelah keluar dari pondok pesantren.

    1
    Post Lainnya

    Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.