Rohmat Hidayatulloh Pegiat di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama

Hamba Amatiran yang Belajar Hikmah Berwudu

2 min read

Ibadah merupakan sebuah bentuk persembahan ketaatan dari seorang makhluk kepada sang khaliq. Tanpa pelaksanaan ibadah, level kehambaan kita pun juga patut untuk dipertanyakan. Berbicara mengenai level kehambaan, semua orang tentunya ingin berada pada level tertinggi. Sepakat atau tidak, sebagai seorang hamba tentunya pernah berada pada fase hamba amatiran.

Kewajiban ibadah hamba amatiran kadang masih sering ditinggalkan. Pada titik ini, seorang hamba kadang “protes” terhadap garis-garis kewajiban yang telah diatur oleh agama bagi pemeluknya. Salah satu bentuk pertanyaan protesnya adalah “saya kentut dari pantat, kok yang dibasuh wajah sama tangan, bukan pantat saya? Emangnya ada apa dengan tangan dan kaki saya?” Sebuah pertanyaan yang wajar dari seorang hamba amatiran mengenai sebuah cara “thahārah” yang menarik untuk diulas lebih dalam.

Berbicara mengenai “thahārah” sendiri, secara harfiah memiliki makna bersuci. Thahārah memiliki tingkatan yang lebih tinggi dibanding “nadlafah” atau kebersihan. Bersih belum tentu suci, namun suci sudah tentu bersih, sehingga dapat diglobalkan, ketika berbicara mengenai thahārah, maka kita juga akan berbicara mengenai kebersihan. Dalam kajian fikih di beberapa literatur klasik, thahārah selalu berada di awal pembahasan. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat perhatian terhadap pentingnya kebersihan. Thahārah sendiri memiliki cara yang beragam, salah satunya adalah dengan wudu.

Aktivitas thahārah berupa wudu merupakan kegiatan yang tentunya sering dilakukan oleh hamba amatiran, hitunglah ketika hamba amatiran tersebut akan melaksanakan salat, dan di setiap salat membutuhkan wudu, maka hamba amatiran tersebut minimal harus melakukan wudu sebanyak 5 kali. Jadi, wudu merupakan aktivitas ibadah yang juga sering kita lakukan selain salat. Selanjutnya, jika dilihat dari rukun wudu, anggota yang wajib dibasuh dalam wudu merupakan anggota yang biasa kita gunakan untuk beraktivitas sehari-hari, seperti tangan dan kaki.

Baca Juga  [Kisah Cinta Sufi] Prolog: Cinta Adalah Api dan Aku Kayu Bakarnya

Tangan, kaki, dan wajah merupakan anggota yang sangat rentan terkena kotoran yang tentunya dapat saja mengandung bakteri, atau bahkan virus, yang nantinya tentu dapat membahayakan tubuh. Oleh karena itu, Islam telah memberikan suatu warning tersendiri, sehingga mensyaratkan wudu sebelum salat.

Hal ini dapat diartikan bahwa Islam melalui wudu, mengajak umatnya untuk senantiasa menjaga kesehatan tubuh, melalui pola hidup higenis, dengan membersihkan sebagian anggota tubuh yang biasa digunakan untuk beraktivitas sehari-hari secara intens. Apalagi di masa pandemi Covid-19 seperti ini, pola hidup bersih menjadi kunci agar dapat terhindar dari virus. Hal tersebut, secara tersurat menunjukkan bahwa wudu merupakan syarat seorang hamba agar dapat melaksanakan salat, namun secara tersirat, wudu memiliki makna yang lebih dalam, yakni mengenai esensi dari pola hidup bersih.

Selain itu, jika dilihat dari aspek tasawuf, anggota-anggota yang menjadi rukun dari wudu, merupakan anggota tubuh yang memiliki potensi besar untuk melahirkan perbuatan dosa, mulai dari mulut, mata, telinga, tangan dan lain sebagainya, sehingga perlu sebuah tindakan khusus agar dapat meminimalisir perbuatan dosa dari anggota-anggota tubuh tersebut. Salah satunya adalah dengan wudu.

Berdasarkan hadis Rasulullah SAW yang dikutip dari kitab Ihyā’ ‘Ulūm al-Dīn karya Imam al-Ghazali, disebutkan bahwa apabila terdapat seorang Muslim berwudu, maka dosa-dosanya akan keluar dari anggota-anggota tubuh yang dibasuh ketika wudu tersebut. Bagi al-Ghazali, apa yang dijelaskan Rasulullah SAW mengindikasikan bahwa wudu adalah salah satu bentuk manuver seorang hamba untuk meminimalisir aktivitas ataupun perbuatan yang mengarah pada timbulnya dosa.

Berangkat dari uraian diatas, tidak berlebihan rasanya ketika dikatakan bahwa wudu memiliki makna harfiah dan filosofis yang mendalam jika dikaitkan dengan kebersihan. Wudu menjadi sebuah penegasan bahwa kebersihan menjadi pokok dalam Islam, sehingga sebelum menegakkan sebuah kewajiban, umat Islam perlu membersihkan dirinya masing-masing.

Baca Juga  Ka'bah Sepi: Mencari Ilahi dengan Menziarahi Alam dan Diri

Karenanya, hamba amatiran kini tidak perlu lagi bingung atau ragu untuk melaksanakan wudu hanya karena tidak memahami esensi dari wudu.

Andaikata pantat sejak dulu ditakdirkan menjadi sumber utama seseorang dalam melakukan perbuatan dosa, mungkin saja rukun wudu ditambah dengan membasuh pantat. [MZ]

Rohmat Hidayatulloh
Rohmat Hidayatulloh Pegiat di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama