Ahmad Rusdi Alumnus Ma'had Fath al-Islami Damaskus; Guru Ngaji, ASN Kementerian Agama RI

Angka 40 dalam Khazanah Keislaman

2 min read

Entah sengaja atau tidak, ternyata setiap hari Jumat, sejak  29 Mei 2020, saya selalu menulis “renungan subuh” dan hari ini adalah hari ke empat puluh saya menulisnya. Ibarat jamaah haji berarti saya sudah “arba’in”, sebuah istilah yang sangat akrab di telinga jamaah haji Indonesia. Bahkan, ada yang meyakini kalau tidak arbain hajinya tidak syah.

Keyakinan yang membuat saya senyum-senyum sendiri saat menjadi petugas haji kurang lebih 70 hari di Madinah pada tahun 2019 lalu. Terkait keutamaan shalat arbain di masjid Nabawi memang ada berdasarkan hadis Kanjeng Rasulullah yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, namun bukan merupakan bagian dari syarat dan rukun haji.

 مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِي أَرْبَعِينَ صَلاةً، لاَ يَفُوتُهُ صَلاةٌ، كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ، وَبَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ

Barang siapa shalat di masjidku empat puluh shalat tanpa ketinggalan sekalipun, dicatatkan baginya kebebasan dari neraka, keselamatan dari siksaan dan ia bebas dari kemunafikan. (HR. Ahmad).

Bilangan 40 adalah angka yang unik karena tidak sedikit ajaran agama kita yang menyebutkan bilangan ini, baik di Alquran maupun hadis. Demikian pula sejarah sejarah Islam juga cukup akrab dengan bilangan 40 ini. Selain hadis yang telah saya sebutkan di atas, berikut beberapa hal yang terkait dengan bilangan 40:

Pertama, bilangan 40 paling tidak disebutkan sebanyak empat kali dalam Alquran, lihat surah al-A’raf ayat 142, al-Baqarah ayat 51, al-Ahqaf ayat 15, dan al-Maidah ayat 26.

Kedua, bilangan 40 juga disebut beberapa kali dalam hadis, misal:

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ  الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

Baca Juga  Ramadan di Arab Saudi: Rindu Keramaian Orang Beribadah

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu beliau berkata: Rasulullah SAW menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang jujur dan terpercaya: Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya diperut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari.

Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya.

Demi Allah yang tidak ada AIlah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. 

Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga  maka masuklah dia ke dalam surga. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, kitab hadis yang sangat terkenal dan akrab di telinga kita, namanya juga 40, yaitu hadis al-Arba’in, Imam Nawawi bahkan menyebut secara khusus mengapa beliau termotivasi menyusun kitab hadis arba’in ini:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “من حفظ على أمتي أربعين حديثاً من أمر دينهابعثه الله يوم القيامة في زمرة الفقهاء والعلماء” وفي رواية: “بعثه الله فقيها عالما،” وفي رواية أبي الدرداء: “وكنت له يوم القيامة شافعا وشهيدا”. وفي رواية ابن مسعود: قيل له: “ادخل من أي أبوب الجنة شئت” وفي رواية ابن عمر “كُتِب في زمرة العلماء وحشر في زمرة الشهداء”

Baca Juga  Ramadan, wie befinden Sie sich? Pengalaman Ramadan di Freiburg, Jogja dan Palembang [Bagian 2]

Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Siapa pun di antara umatku yang menghafal empat puluh hadis terkait perkara agamanya, maka Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat bersama golongan fuqaha dan ulama.” Dalam riwayat lain: “Allah akan membangkitkannya sebagai seorang yang faqih dan ‘alim.” Dalam riwayat Abu ad-Dardâ: “Maka aku menjadi penolong dan saksi baginya pada hari kiamat nanti.” Dalam riwayat Ibnu Mas’ud: “Dikatakan kepadanya: masuklah kau ke surga melalui pintu mana saja yang kamu kehendaki.” Dalam riwayat Ibnu Umar: “Dia dicatat sebagai golongan ulama dan dikumpulkan pada golongan orang-orang yang syahid.

Kelima, ada juga hadis yang sifatnya ancaman bagi orang yang mabuk tidak akan diterima sholatnya selama 40 hari, atara lain:

عن ‏ ‏ابن عمرأن النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏قال ‏ ‏من شرب الخمر لم تقبل ‏‏ له صلاة ‏ ‏أربعين ليلة فإن تاب تاب الله عليه فإن عاد كان حقا على الله تعالى أن يسقيه من نهر ‏ ‏الخبال ‏ ‏قيل وما نهر الخبال قال صديد أهل النار ‏

Dari Ibnu Umar ra bahwa Nabi SAW bersabda, “Orang yang minum khamar, tidak diterima shalatnya 40 hari. Siapa yang bertaubat, maka Allah memberinya taubat untuknya. Namun bila kembali lagi, maka hak Allah untuk memberinya minum dari sungai Khabal.” Seseorang bertanya, “Apakah sungai Khabal itu?” Beliau menjawab, “Nanahnya penduduk neraka.” (HR Ahmad)

Keenam, dalam sejarah Islam, bilangan 40 ternyata juga terkait peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Rasulullah SAW yaitu saat beliau berusia 40 tahun. Ketujuh, dalam Mazhab Syafii, syarat minimal jamaah sholat jumat adalah 40 orang.

Selain itu, saya kira masih ada yang lain yang terkait dengan bilangan 40. Renungan yang saya buat ternyata hari ini memasuki yang ke-40. Sebuah proses yang terkadang membuat saya heran juga, kok bisa ya?

Baca Juga  Tadarus Litapdimas (3): Tutorial Membuat Hand Sanitizer Herbal Dari Batang Kecombrang

‘Ala kulli haal, ketika menyadari bahwa rutinitas menulis catatan subuh ini sudah sampai yang ke 40 kalinya, saya kemudian justru memikirkan para Ulama terdahulu dengan ke-ajeg-an dan keistiqomahan mereka yang mampu menghasilkan banyak karya-karya fenomenal. Dan, betapa beruntungnya kita saat ini yang tinggal menikmati karya dan hasil ijtihad mereka.

Terbersit sedikit rasa iri dan sebuah keinginan yang ingin menjadi seperti mereka. Namun, saya kira itu hal yang sangat berat bahkan hampir tidak mungkin mengingat ilmu dan daya hafalan yang mereka miliki. Meskipun demikian, paling tidak, kita saat ini bisa mencontoh keajegan dan keistiqomahan mereka dalam berkarya. waallahu a’lam… [AA]

Ahmad Rusdi
Ahmad Rusdi Alumnus Ma'had Fath al-Islami Damaskus; Guru Ngaji, ASN Kementerian Agama RI