Ahmad Rusdi Alumnus Ma'had Fath al-Islami Damaskus; Guru Ngaji, ASN Kementerian Agama RI

Menjadi Muslim yang Disenangi Tuhan dan Banyak Orang, Why Not?

2 min read

Semenjak masa pandemi, hampir setiap hari saya diminta untuk mengisi pengajian di rumah seseorang secara ekonomi terbilang sangat mampu. Keluarga ini termasuk tipe keluarga yang sangat memperhatikan perosoalan pendidikan karena memang pasangan suami istri ini sama-sama alumni Universitas.

Selama mengaji bersama mereka, saya menemukan suasana yang “cair” dan menyenangkan. Pola komunkasi yang terbangun pun bukan monolog, tapi dialog yang kadang disertai dengan candaan. Dialognya pun sebenarnya asik-asik saja, hanya terkadang muncul juga pertanyaan kritis yang membuat saya harus hati-hati dalam menjawab.

Pada satu kesempatan, si suami bercerita tentang likeability, istilah yang baru saya dengar.  Lalu saya bertanya tentang maksud dari istilah tersebut. Setelah dijelaskan saya baru paham dan istilah itu. Intinya sitilah ini diartikan sebagai kemampuan untuk mewujudkan diri kita agar memiliki perilaku-perilaku positif melalui saluran emosi dan kelebihan fisik yang kita miliki. Hasil positif dari likeability adalah kemampuan untuk tampil sebagai pribadi yang likeable (menyenangkan, disukai dan sebagainya).

Saya kira, seorang muslim sejatinya seharusnya memiliki pribadi ini karena tidak sedikit doktrin kesilaman yang memerintahkan untuk menjadi pribadi yang demikian. Bahkan, perintah untuk menjadi pribadi likeable dalam Islam tidak hanya bagi hubungan dengan sesama manusia saja, namun juga hubungan dengan Tuhan. Untuk menjadi pribadi yang menyenangkan tentu kita juga harus memiliki sikap atau prilaku yang membuat Tuhan dan orang lain senang kepada kita, dengan membuat orang lain maka kita pun akan disenangi.

Dalam kitab Nashaihul ‘Ibad dikisahkan Imam Suhrowardi pernah mengelilingi salah satu masjid Khoif di Mina, wajah beliau selalu berseri-seri. Lalu ia ditanya mengenai hal itu. Imam Suhrowardi menjawab:

Baca Juga  Puisi Rindu Ziarah Gus Dur

إِنَّ لِلَّهِ عِبَادًا إِذَا نَظَرُوا إِلَى شَخْصٍ اَكْسَبُوْهُ سَعَادَةً فَأَنَا أَطْلُبُ ذَلٍكَ

“ Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang apabila mereka melihat seseorang, mereka berusaha agar terlihat bahagia, maka saya sedang berupaya untuk bisa seperti itu.”

Apa yang dilakukan oleh Imam Suhrowardi sejalan dengan perintah Rasul SAW:

لا تَحقِرَنَّ مِنَ المَعْرُوف شَيْئًا، وَلَو أنْ تَلقَى أخَاكَ بوجهٍ طليقٍ قَالَ  : قَالَ لي رسولُ الله ﷺ عن أَبي ذرٍّ

 

“Dari Abi Dzarrin ra, Rasulullah saw bersabda: Janganlah memandang rendah/remeh perbuatan baik skecil apapun, walau hanya sekedar memberikan wajah yang ceria ke saudara kamu.” (HR. Muslim).

Saya kira, itu lah istilah yang disebut dengan “menebarkan aura positif” kepada orang lain. Hal ini seyogjanya kita lakukan. Misalnya, menyapa dan menebarkan salam (afsyus salam), dan memberian senyum karena tesenyum saja bisa dihitung sebagai ibadah, (tabassumuka fi wajhi akhika shodaqoh–senyumanmu kepada saudaramu adalah sedekah)

Dalam kitab Shohih Shifati Sholatn Nabi Muhammad saw minal Takbir ila Taslim Ka annaka Tanzhuru Ilaiha yang disusun oleh Syaikh Hasan Bin Ali al-Tsaqqaf al-Qurosyiyyi al-Hasyimi al-Husaini dijelaskan hal-hal yang sepatutnya dimiliki oleh seorang muslim yang mampu menjdikannya sebagai pribadi yang menyenangkan (likeability).

يجب أن يكونالمسلمالمصلي من أحسن الناس خلقا يعامل الناس باللين والسماحة ونبيل الخصال الحميدة فيكون بين الناس كالزهرة النضرة طيبا  و رفقا وتواضعا لأن الألفة والقول الحسن السديد ثمرة حسن الخلق والهجر والسباب ثمرة سوء الخلق, فحسن الخلق يوجب التحاب والتآلف والتوافق, وسوء الخلق يثمر التباغض والتحاسد والتدابر.

 “Wajib bagi seorang muslim–yang menegakkan sholat–menjadi manusia yang berakhlak baik, bergaul dan bermuamalah dengan santun, toleran, dan seluruh aktivitasnya adalah aktivitas yang terpuji. Dengan demikian ditengah masyarakat ia bagaikan bunga yang harum semerbak mewangi, lembut/penyayang dan rendah hati. Karena kelembutan dan perkataan yang baik dan benar itu  terlahir dari akhlak yang baik. Sementara perkataan dan perbuatan yang kasar itu muncul dari akhlak yang buruk. Oleh karena itu akhlak yang baik akan mendatangkan–masyarakat yang–saling mencintai, menyayangi dan harmonis. Sedangkan akhlak yang buruk akan melahirkan kebencian, kedengkian dan disharmoni.”

 

Baca Juga  Hukum Childfree dalam Islam

Supaya likeablity ini tidak semata-mata bersifat keduniaan namun juga bernilai ukhrowiyah, maka  bagi seorang muslim perbuatan yang menyenangkan tersebut hendaknya benar-benar lahir dari hati yang tulus, bukan dibuat-buat.

Ketulusan hati itu lahir ketika ada keikhlasan dalam beramal dan jauh dari sifat riya serta tidak melangggar perintah Allah dan rasul-Nya. Mereka yang beramal dengan landasan tulus dan  nisacaya tidak akan kecewa jika, misalnya, apa dilakukannya mendapatkan sambutan yang kurang baik. Karena, mereka hanya mengharap rida Allah semata. Wallahu a’lam… [AA]

Ahmad Rusdi Alumnus Ma'had Fath al-Islami Damaskus; Guru Ngaji, ASN Kementerian Agama RI