Akhmad Faozi Sundoyo Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tren Program Tahfidz di Sekolah dan Maklumat Nyanyian Bebas (2)

1 min read

Sebelumnya: Tren Program Tahfidz …(1)

Al-Fatihah Dulu

Supaya kesalahan yang dikaprahkan ini tidak terus-terusan dijaga, diawetkan, apalagi dibanggakan—atau bila masih kukuh untuk terus melangsungkan program tahfidz—setidaknya harus disiapkan kelas ‘tata baca’ Alquran dasar: saya menyebutnya “kelas Al-Fatihah”. Kelas ini bisa diperjuangkan sebagai kurikulum inti atau ekstra. Intinya, dalam kelas ini memiliki beberapa sendi berikut:

Pertama, Ada bobot satu mata pelajaran Al-Fatihah. Mata pelajaran ini dimaksudkan untuk minimalnya membereskan ‘bacaan’. Sehingga walaupun tidak atau belum bisa membaca Alquran secara lancar, peserta didik bisa membaca Al Fatihah dengan benar dan baik. Ini ukuran minimal.

Kenapa Al-Fatihah? Karena surat inilah yang paling sering digunakan di dalam praktik beribadah (khususnya dalam sholat) dan bertradisi-budaya secara sosial keislaman. Selain itu, bacaannya yang familiar akan lebih memudahkan pembelajar dan pelajar secara bersamaan, dalam praktik KBM (Kegiatan Belajar Mengajar).

Al-Fatihah dulu, baru seterusnya. Al Fatihah benar-benar harus dijadikan pijakan terhadap keberlangsungan pembelajaran Alquran. Saya katakan ‘pembelajaran’ bukan ‘hafalan’. Selanjutnya, seturut perkembangan hasil KBM, bila memang kompetensi peserta didik memungkinkan untuk menghafal, baru dipersilakan menghafal. Menurut saya ini efektif dan tepat guna.

Kedua, Penyeleksian ketat terhadap pengajar Alquran, terkait kompetensi tajwid dan makhraj bacaannya. Lebih baik menghapus mata pelajaran ini, bila tidak mampu menghadirkan guru yang kompeten terhadap bacaan Alquran. Minimalnya bacaan Al-Fatihah-nya.

Ketiga, Kejelasan dan ketegasan kontrol kelulusan. Dalam masalah kemampuan membaca Alquran harus tegas, tidak memberikan peluang sekecil apapun untuk “katrol nilai” atau manipulasi hasil pencapaian pembelajaran.

Keempat, apresiasi yang cukup dan sepadan terhadap pencapaian kelulusan kelas Al-Fatihah ini. Apresiasi bisa dalam bentuk reward hadiah atau hal-hal lain yang sifatnya “memberikan pengakuan” terhadap pencapaian peserta kelas. Dari sini, peserta didik akan memiliki motivasi besar untuk serius belajar—walaupun sambil berdiri, jalan-jalan, atau berlari sekalipun.

Baca Juga  Islam Ramah Perempuan: Mendekonstruksi Pemikiran Bias Gender di Masyarakat

Ketika masih kecil, saya mengalami satu ujaran penting dari satu guru sepuh: pendidikan berbeda dengan pengajaran. Pendidikan adalah tentang membentuk dan mempersiapkan siswa menjadi manusia yang berbudi luhur. Soal pintar, cerdas dan sukses jabatan itu urusan ‘jamban’. Jadi, bila di dalam kelas, cuma dilangsungkan hafalan dan soal-soal ujian saja, itu bukan pendidikan, namun pengajaran belaka.

Belakangan ketika saya membaca Paideia: Filsafat Pendidikan Politik Platon (A. Setyo Wibowo, 2017), saya menemukan bahwa guru sepuh itu sepandangan dengan para pendidik Yunani kuno. “Bagi Socrates dan Plato, tujuan pendidikan adalah membuat jiwa manusia lebih baik. Bagi Plato pendidikan adalah a moulding of soul atau proses pembentukan jiwa. Pendidikan anak usia dini bagi Plato sangat penting terutama untuk menata aspek pra-rasional (nafsu dan emosi) agar disposisi anak ketika dewasa nanti siap merengkuh cara berpikir rasional yang berorientasi kepada kebaikan.”

Sedemikian, tulisan ini tersuarakan supaya kita bisa bersama-sama mewujudkan praktik pendidikan yang terus-menerus memperkembangkan ‘sisi dalam’ (kualitas). Bukan sebatas tukar kebanggaan prestasi ‘luar’ yang justru seringkali malah jadi boomerang bagi tiap dan lintas generasi.

Adalah sangat baik, membanggakan dan membuat hati bungah-gumbregah, bila generasi kita dapat memiliki hafalan Alquran secara memadai. Namun, sekali lagi, bila yang terjadi justru “nyanyian bebas” tanpa marja’ tata baca yang baik, sebaliknya kita malah miris dan ketar-ketir. Matur nuwun. (mmsm)

Akhmad Faozi Sundoyo
Akhmad Faozi Sundoyo Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta