NU dan Perjuangan Kelas
Sulit membayangkan NU bisa maju, membawa warganya yang sebagian besar berada di kelas bawah, jika tidak ada pembicaraan mengenai perjuangan kelas di dalamnya.
Sulit membayangkan NU bisa maju, membawa warganya yang sebagian besar berada di kelas bawah, jika tidak ada pembicaraan mengenai perjuangan kelas di dalamnya.


Prof Masdar Hilmy membahas soal sejarah dan karakteristik Islam di Indonesia.
![[Podcast] Gak Ada NU, Gak Ada Islam (di) Indonesia // Prof Masdar Hilmy, MA, Ph.D](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2021/10/masdar.png)
![[Podcast] Gak Ada NU, Gak Ada Islam (di) Indonesia // Prof Masdar Hilmy, MA, Ph.D](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2021/10/masdar.png)
Kiai Said: Saat ini kita lebih membutuhkan tasawuf. Dengan tasawuf kita sadar bahwa kita adalah tajalli Allah. Manusia yang sadar sebagai tajalli Allah, tidak akan gentar dengan cacian dan gertakan manusia lain.


NU memiliki sikap oposisi yang tegas kontra-radikalisme yang itu tercermin secara jelas dalam keputusan-keputusan resmi lembaga, Muhammadiyah lebih menunjukkan karakter yang lebih soft.
![[Review Buku] NU dan Muhammadiyah Pionir Moderatisme Islam di Indonesia](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/09/Untitled-design-3-6-825x510.png)
![[Review Buku] NU dan Muhammadiyah Pionir Moderatisme Islam di Indonesia](https://arrahim.id/wp-content/uploads/2020/09/Untitled-design-3-6-825x510.png)
Perjalanan Yon Machmudi, PhD (Dosen Universitas Indonesia kelahiran Jombang) yang Akhirnya Keluar dari PKS




Buku-buku yang Menghakimi Ritual Nahdliyyin. Buku ini terbit di Surabaya. Berikut daftar dan sinopsisnya.


Toleransi itu penting untuk diterapkan. Namun, masalah aqidah dan masalah sosial adalah dua hal yang berbeda, sehingga tentu ada batasan-batasan dalam menerapkan sikap toleransi. Sebelumnya, harus diketahui lebih dahulu antara agama dan keberagamaan.


Kiai Abd Salam Mujib, pengasuh PP al-Khoziny Buduran, merespons bagaimana seharusnya pemaknaan kafir diberlakukan di Indonesia dengan tetap menjaga NKRI. Beliau mengatakan “Toleransi dalam beribadah tidak ada. Toleransi antar-umat beragama memang harus.


Klaim bahwa pluralisme di tubuh NU adalah sebuah “mitos” dibangun di atas data. Jika hendak meruntuhkan “mitos” ini, tidak ada cara ilmiah lain kecuali dengan adu data atau kritik pendekatan/metodologi surveinya.

