Redaksi Redaksi Arrahim.ID

[Review Buku] NU dan Muhammadiyah Pionir Moderatisme Islam di Indonesia

4 min read

Penulis: Ahmad Zainul Hamdi, Moh. Shofan, dan Agus Muhammad

Judul Buku: Peran Organisasi Islam Moderat dalam Menangkal Ekstremisme Kekerasan: Studi Kasus NU dan Muhammadiyah

Penerbit: Infid, Jakarta, 2019.

Banyak sarjana berpendapat bahwa Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia yang mampu mempertahankan dan melestarikan gagasan dan praktik kebinekaan.

Realitas kebinekaan yang ada di negara ini telah menjadi perhatian banyak kalangan dan membuat mereka mengakui Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim yang mampu menjadikan dirinya terjauhkan dari segala bentuk konflik keagamaan yang merusak dan teror.

Kemampuan ini diyakini buah dari karakter keislaman moderat yang dianut sebagian besar Muslim Indonesia. Membicarakan tentang Islam moderat (wasathiyah) Muslim Indonesia tidak bisa dilepaskan dari dua ormas keislaman besar di negeri ini: Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

NU mendasarkan moderatismenya pada gagasan tradisional Ahlus Sunnah wal Jama’ah serta sejarah dakwah Walisongo di Nusantara. Islam tradisional yang berjalan beriringan dengan tradisi lokal membuat NU dengan mudah mengapresiasi kebinekaan bangsa Indonesia hingga pengakuan bulat atas Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berasaskan Pancasila.

Sementara itu, Muhammadiyah mendasarkan moderatisme pada gagasan dan semangat kemodernan Muhammadiyah. Semangat kemodernan dan pencerahan Muhammadiyah membuatnya selalu terbuka dengan gagasan baru tanpa kehilangan jati diri keislamannya.

Jika moderasi keislaman NU dan Muhammadiyah mampu mewarnai kehidupan keagamaan (keislaman) di Indonesia, maka bisa dipastikan intoleransi dan kekerasan agama hanya menjadi kasus pinggiran dalam kehidupan keagamaan di Indonesia.

Sekalipun, NU dan Muhammadiyah memiliki sikap yang jelas dalam menentang kekerasan agama, namun sikap tersebut tak selalu menjadi kata putus bagi problem-problem keumatan di bawah.

Bagaimanapun juga, NU dan Muhammadiyah adalah organisasi keislaman yang tidak mungkin menerapkan sanksi organisasi kepada anggotanya menyangkut perbedaan pandangan keislaman, terutama dalam isu-isu tertentu.

Dinamika keumatan di bawah seringkali lebih kompleks dibanding dengan keputusan organisasi, terutama jika dikaitkan dengan cara-cara berkomunikasi dan bagaimana umat Islam mendapatkan asupan informasi tentang masalah-masalah sosial-keagamaan.

Terlebih wajah keagamaan (keislaman) di Indonesia pasca-Reformasi menunjukkan realitas yang sedikit paradoks. Hal ini terkait dengan tingginya angka intoleransi dan kekerasan berbasis agama. Dianggap paradoks karena sebagian besar kasus-kasus ini melibatkan umat Islam di dalamnya.

Baca Juga  Tadarus Litapdimas (19): Birokratisasi Zakat dan Wakaf Di Indonesia, Bukan Agenda Syariatisasi

Berangkat dari berbagai pertimbangan di atas, buku hasil riset ini mencoba melihat peran Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sebagai pilar utama Islam moderat di Indonesia dalam menangkal radikalisme keagamaan yang menguat di Indonesia sejak pasca-Reformasi.

Penelitian ini berangkat dari realitas kehidupan keagamaan di Indonesia saat ini di mana angka intoleransi dan kekerasan agama tergolong tinggi, padahal dua organisasi keislaman yang di studi di sini memiliki jumlah anggota yang jika ditotal lebih dari separuh populasi Muslim di Indonesia.

Lokasi penelitian ini adalah wilayah basis NU dan Muhammadiyah yang dipilih berdasarkan penilaian subjektif kedua organisasi tersebut. Baik Muhammadiyah maupun NU menjadikan Jawa Tengah (dan Yogyakarta) dan Jawa Timur sebagai provinsi yang menjadi basisnya.

Sekalipun bersifat subjektif, namun pemilihan kedua provinsi tersebut memiliki beberapa alasan. Tokoh-tokoh penting kedua organisasi ini banyak berasal dari wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah.

NU dan Muhammadiyah memiliki pengikut yang cukup banyak di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Pesatnya perkembangan NU dan Muhammadiyah di kedua wilayah ini juga bisa dilihat dari banyaknya lembaga pendidikan yang dimiliki oleh kedua organisasi ini.

Jawa Timur dan Jawa Tengah dipenuhi oleh ratusan pesantren yang berafiliasi ke NU. Sementara, sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah juga berkembang pesat di dua provinsi ini.

Di Jawa Timur, kota yang dipilih merepresentasikan Muhammadiyah adalah Surabaya, Malang dan Lamongan. Ketiga kota tersebut dipilih sebagai lokus penelitian berdasarkan pada pertimbangan bahwa ketiga kota tersebut merupakan basis struktural, intelektual dan kultural Muhammadiyah. Sedangkan di Jawa Tengah, kota yang dipilih sebagai lokus penelitian Muhammadiyah adalah Surakarta dan Sukoharjo.

Sementara, wilayah penelitian NU di Jawa Timur adalah Kabupaten Situbondo, dengan pertimbangan besarnya massa NU. Diperkirakan, massa NU Situbondo di atas 90% dari seluruh penduduk di wilayah tersebut. Tentu saja Surabaya juga menjadi wilayah penelitian dengan mempertimbangkan keberadaan pengurus wilayah NU Jawa Timur.

Sedangkan lokus penelitian NU di Jawa Tengah adalah Kabupaten Sragen karena dianggap sebagai cabang NU yang cukup baik pengorganisasiannya.

Dikatakan di muka, bahwa sejak awal, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah mendaku dirinya sebagai representasi Islam moderat di Indonesia. Jika moderasi keislaman NU dan Muhammadiyah mampu mewarnai kehidupan keagamaan (keislaman) di Indonesia, maka bisa dipastikan intoleransi dan kekerasan agama hanya menjadi kasus pinggiran dalam kehidupan keagamaan di Indonesia.

Baca Juga  Serat Wulangreh Pupuh Gambuh Sebagai Manifestasi Ajaran Islam [1]

Namun, angka intoleransi dan kekerasan keagamaan terbilang tinggi. Mengingat bahwa NU dan Muhammadiyah adalah organisasi keislaman dengan jumlah anggota yang sangat besar, tingginya angka kekerasan dengan sentimen agama di Indonesia saat ini bisa dikatakan adalah sebuah ironi.

Pertanyaan besarnya adalah, apakah NU dan Muhamadiyah sebagai representasi ormas Islam moderat masih konsisten atau sudah mengalami pergeseran? Temuan hasil riset tentang Peran Organisasi Islam Moderat dalam Menangkal Ekstremisme Kekerasan: Studi Kasus Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah (2019) yang dilakukan dari April hingga Juni 2019 menunjukkan bahwa, baik NU maupun Muhammadiyah mengklaim dirinya sebagai garda depan Islam wasathiyah (moderat).

Moderatisme NU dan Muhammadiyah membawa kedua ormas ini memiliki sikap yang tegas dalam menghadapi radikalisme keagamaan. Tidak mengherankan jika secara umum ditemukan bahwa Muhammadiyah dan NU memiliki daya tahan yang baik dalam menghadapi ideologi Islam radikal.

Para pengurus dan kader inti NU dan Muhammadiyah nyaris tidak bisa tertembus oleh infiltrasi ideologi Islam radikal.
Sekalipun kedua organisasi ini memiliki sikap yang jelas dalam menentang radikalisme, bukan berarti sikap tersebut selalu linear dengan struktur organisasi di bawah maupun umatnya.

Muhammadiyah dan NU bukanlah satu wajah yang sepenuhnya solid. Di dalamnya terdapat fragmentasi baik karena keragaman pemikiran keagamaan, perbedaan posisi sosial, maupun preferensi politik.

Penelitian ini menemukan bahwa sekalipun secara umum Muhammadiyah dan NU masih sangat kuat menunjukkan watak wasathiyah-nya, namun dalam kasus-kasus tertentu, ditemukan perbedaan pandangan di antara sesama pengurus maupun antara pimpinan dengan jamaah.

Keputusan resmi organisasi tidak selalu bisa menjadi keputusan akhir yang sepenuhnya mengikat, terutama jika menyangkut isu-isu keagamaan kontroversial maupun yang bersinggungan dengan isu-isu politik elektoral (amar ma’ruf nahi munkar, kepemimpinan non-Muslim, ucapan selamat Natal, dsb).

Sekalipun pengurus NU sangat percaya diri dengan sterilnya pengurus NU dari pengaruh ideologi radikal, namun mereka tidak bisa menjamin sanggup mengamankan warganya. Bahkan, di wilayah perkotaan pengaruh NU kalah kuat dibanding kelompok-kelompok lain. Sedang di Muhammadiyah, fenomena ini bisa dilihat dari adanya “migrasi” warga Muhammadiyah ke ideologi dan kelompok lain, di mana hal ini sudah sampai pada tahap menggelisahkan pengurus.

Baca Juga  Syekh Yusuf al-Makassari dan Jaringan Tarekat Syattariyah di Nusantara

Kesamaan slogan antara Muhammadiyah dengan kelompok salafi, ditambah dengan krisis dai Muhammadiyah, menyebabkan banyaknya warga Muhammadiyah yang masuk ke dalam kelompok-kelompok salafi, di mana tidak jarang yang ditemukan adalah doktrin-doktrin keislaman yang secara diametral berlawanan dengan moderatisme keislaman Muhammadiyah.

Ketika umat banyak dibuat terpukau dengan pesona para dai kontemporer, Muhammadiyah tetap bergerak secara institusional tanpa dibarengi dengan ketersediaan muballigh-muballigh “wow” yang bisa menjadi pujaan umat. Muhammadiyaditengarai tidak cukup intens dalam merawat keislaman jamaahnya.

Di sisi lain, sekalipun NU memiliki kekayaan dalam forum-forum pengajian, baik yang digagas oleh organisasi maupun inisiatif dari bawah, namun umat NU juga tidak sepenuhnya bisa dijaga. Narasi keislaman NU kurang mendapat sambutan di generasi muda Muslim urban.

Problem penting lainnya adalah modus komunikasi saat ini. Ketika NU terlalu mengandalkan komunikasi tradisional (tatap muka antara kiai dengan jamaah), kelompok-kelompok intoleran-radikal sangat gencar memanfaatkan media sosial untuk memasarkan ideologinya.

Kedua ormas ini memiliki cara yang berbeda dalam menghadapi radikalisme. Jika NU memiliki sikap oposisi yang tegas terhadap radikalisme yang itu tercermin secara jelas dalam keputusan-keputusan resmi lembaga, Muhammadiyah lebih menunjukkan karakter yang lebih soft.

Bagi Muhammadiyah, peneguhan moderatisme keislaman Muhammadiyah dianggap sebagai cara yang lebih pas dalam menangkal radikalisme keagamaan. Karena itu, tidak ditemukan adanya program khusus yang digagas Muhammadiyah dalam melawan radikalisme.

Apapun kisah dari kedua organisasi ini, keduanya mengakui bahwa mereka tidak bisa menghadapi radikalisme sendirian. Mereka memerlukan dukungan dari kelompok lain, baik dari pemerintah maupun sesama organisasi moderat.

Keduanya juga mengaku lemah di media sosial. Kebutuhan mendasar dari dua organisasi Islam moderat ini dalam menghadapi menguatnya radikalisme adalah akses terhadap media sosial. SDM memang selalu muncul sebagai salah satu kebutuhan penting dalam menghadapi kelompok intoleran-radikal.

Namun SDM di sini lebih memperlihatkan sebagai minimnya individu-individu yang memiliki kecapakapan dalam memproduksi narasi Islam moderat di saat sekarang, di mana narasi-narasi keagamaan banyak diproduksi dan disebarluaskan melalui media sosial. [MZ]

Redaksi
Redaksi Redaksi Arrahim.ID