Dr. H. Syarif Thayib S. Ag, M. Si Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

Khutbah Jumat: Hebatnya Indonesia

2 min read

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، اَلَّذِى خَلَقَ اْلإِنْسَانَ خَلِيْفَةً فِي اْلأَرْضِ وَالَّذِى جَعَلَ كُلَّ شَيْئٍ إِعْتِبَارًا لِّلْمُتَّقِيْنَ وَجَعَلَ فِى قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ بَهْجَةً وَّسُرُوْرًا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَعَلَى كُلِّ شَيْئ ٍقَدِيْرٌ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَنَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمـَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَأَفْضلِ اْلأَنْبِيَاءِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبه أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا . وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Judul khutbah ini terinspirasi dari ceramahnya Menkopolhukam RI Mahfud MD di depan Civitas Akademika STKIP PGRI Sumenep Rabu (5/7/2023), bahwa satu-satunya negara di muka bumi ini yang merdekanya karena sukses mengusir penjajah adalah Indonesia.

Berbeda dengan negara tetangga Malaysia, Brunei Darussalam, ataupun India. Mereka merdeka karena hadiah dari penjajahnya, yaitu Inggris.

Amerika yang dikenal dengan negara adidaya, termasuk Australia yang beberapa kali “merendahkan” pemerintah Indonesia ternyata merdekanya karena mengusir penduduk asli atau pribumi. Amerika mengusir suku Indian, sedangkan Australia mengusir suku Aborijin.

Vietnam dan Aljazair yang katanya merdeka karena mengusir penjajah juga kalah hebat dengan Indonesia. Mereka merdeka tidak dari nol. Sebelumnya sudah berdiri negara Vietnam, termasuk Aljazair. Kemudian datang invasi militer dari negara luar. Mereka menang dalam pertempuran, dan merdeka.

Sedangkan penjajah Belanda datang ke bumi nusantara jauh sebelum ada negara bernama Indonesia. Berkat perjuangan panjang leluhur yang didominasi oleh para ulama akhirnya negara kita bisa merdeka dengan nama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tanggal 17 Agustus 1945.

Itulah hebatnya Indonesia. Negara yang diyakini oleh banyak tokoh dunia sebagai miniatur Syurga karena tongkat dan batu (bisa) jadi tanaman. Di bawahnya banyak mengalir sungai-sungai. Bahkan di kedalaman perut bumi Indonesia terdapat tambang emas, mutiara, permata, dan lain-lain. Termasuk pohonnya bisa diolah menjadi kain sutera dan seterusnya.

Baca Juga  [Khutbah Idul Adha] Selembar Kisah Abadi: Pengorbanan Suci dan Cinta Sejati

إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖ وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, serta pakaian mereka adalah sutera.” (QS. Alhajj: 23).

Hadirin Rahimakumullah..
Beberapa hari ke depan kita akan memperingati hari kemerdekaan Indonesia yang ke 78. Dirgahayu kemerdekaan kali ini tentu lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya. Bukan hanya tiap kampung atau dusun yang merayakannya, tetapi di setiap rumah bersuka-cita memasang bendera dan umbul-umbul merah putih sebagai ekspresi syukur yang mendalam kepada Allah SWT, berharap kenikmatan berikutnya datang silih berganti menghampiri negeri yang kita cintai ini.

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian. Tetapi jika kalian mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat” (QS Ibrahim: 7).

Selain ekspresi syukur, memperingati hari kemerdekaan juga untuk menumbuhkan rasa cinta kepada tanah air. Bukankah cinta tanah air merupakan tuntunan yang diberikan Rasullullah SAW kepada kita?

«أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ المَدِينَةِ، أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا»

“Ketika Rasulullah hendak datang dari bepergian, beliau mempercepat jalannya kendaraan yang ditunggangi setelah melihat dinding kota Madinah. Bahkan beliau sampai menggerak-gerakan binatang yang dikendarainya tersebut. Semua itu dilakukan sebagai bentuk kecintaan beliau terhadap tanah airnya.” (HR Bukhari).

Bahkan Sayyidina Umar menegaskan bahwa “Seandainya tidak ada cinta tanah air, hancurlah negara yang terpuruk. Dengan cinta tanah air, negara akan Berjaya.”

Baca Juga  [Khutbah Jumat] Halal Bi Halal: Rahmat Allah di Balik Pandemi

ﻟَﻮْلَا ﺣُﺐُّ ﺍﻟْﻮَﻃَﻦِ ﻟَﺨَﺮُﺏَ ﺑَﻠَﺪُ ﺍﻟﺴُّﻮْﺀ ﻓَﺒِﺤُﺐِّ ﺍﻟْﺎَﻭْﻃَﺎﻥِ ﻋُﻤِﺮَﺕِ ﺍْﻟﺒُﻠْﺪَﺍﻥُ

Dari sinilah lahir jargon:

حُبُّ اْلوَطَنِ مِنَ اْلإِيْمَانِ

“Cinta tanah air adalah sebagian dari iman.”

Jargon tersebut di Indonesia pertama kali digelorakan oleh Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari dalam perang mempertahankan kemerdekaan Oktober-Nopember 1945 terbukti sangat efektif menumbuhkan semangat patriotisme dan nasionalisme hingga sekarang.

Apalagi Indonesia memiliki bahasa pemersatu, yaitu bahasa Indonesia. Ribuan suku dan bahasa ibu orang Indonesia melebur jadi satu: bahasa Indonesia.

Negara tetangga Malaysia yang hanya memiliki 3 bahasa, yaitu Melayu, Mandarin, dan English sampai hari ini sulit dipersatukan dalam satu bahasa. Tidak sedikit dari mereka yang tidak menguasai bahasa Melayu sebagai bahasa utama. Berbeda dengan Indonesia, seluruh anak bangsa yang hari ini berjumlah kurang lebih 300 juta jiwa bisa berbahasa Indonesia.

Saya terharu ketika menyaksikan tayangan viral di Tik Tok, dimana beberapa orang Chinese berada di sebuah pertunjukan, kemudian mereka disapa oleh sang penyanyi sebagai orang China, tetapi mereka serentak meneriakkan “I am Indonesia..!! We’re Indonesia..!!” (saya orang Indonesia, kami orang Indonesia).

Mereka yang keturunan Arab juga lebih bangga menyebut dirinya sebagai orang Indonesia ketimbang orang Arab. Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan beberapa kali menegaskan bahwa beliau adalah orang Indonesia keturunan Arab, bukan orang Arab yang berdomisili di Indonesia.

Dua contoh ekspresi kebanggaan terhadap Indonesia dari orang keturunan China dan Arab di atas menunjukkan bahwa ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan sesama anak bangsa Indonesia begitu kuatnya, sehingga kita semua yakin bahwa Allah SWT ridha dengan kemerdekaan Indonesia dan seluruh ikhtiar anak bangsa mengisi kemerdekaannya dengan mengekspresikan syukur dan cinta tanah air. Merdeka..!!

Baca Juga  [Jumat] Tiga Hikmah Hidup di Balik Musibah Covid-19

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Dr. H. Syarif Thayib S. Ag, M. Si Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya