Ulil Abshar Abdalla Pegiat Ngaji Ihya Ulum al-Din dan al-Munqidh min al-Dalal Online

Tentang Korelasionisme: Catatan Kecil untuk Goenawan Mohamad

2 min read

Percakapan tentang filsafat dan sains masih berlanjut, dan saya menikmatinya. Dalam catatannya yang terakhir yang baru dirilis beberapa jam lalu di laman Facebook-nya, Mas Goen—sapaan akrab Goenawan Mohamad—menyinggung nama filsuf Perancis Quentin Meillassoux yang menulis buku After Finitude.

Salah satu gagasan penting Meillassoux adalah kritiknya atas apa yang ia sebut “korelasionisme“, yaitu cara berfilsafat setelah Immanuel Kant [1724-1804] yang membayangkan manusia tak mungkin ada tanpa dunia, atau dunia tak mungkin ada tanpa manusia.

Meillassoux berpandangan bahwa dunia bisa ada dan memiliki qualities pada dirinya sebelum ada manusia. Sebab, dalam sejarah alam raya yang berumur 13,8 milyar tahun ini, umur manusia barulah beberapa detik saja. Sesuatu pada dirinya sendiri (disebut oleh Kant sebagai das Ding an sich) jelas ada sebelum manusia muncul. Itulah yang disebut Meillassoux sebagai “ancestrality” (judul bab pertama dalam bukunya).

Jalan untuk mengetahui qualities segala sesuatu pada dirinya sendiri, ada atau tak ada manusia, menurut Meillassoux, adalah melalui matematika. Baginya, matematika adalah sejenis realitas sesuatu pada dirinya sendiri yang independen dari manusia (filsuf Muslim biasa menyebutnya: al-‘ālam al-khārijī).

Saya melihat, langkah Meillassoux ini adalah bagian dari trend besar dalam pemikiran filsafat di Barat yang hendak “membunuh manusia” (setelah sebelumnya membunuh Tuhan!). Ini adalah “the latest attempt at the killing of God and, by its default, human“.

Saya tak cocok sama sekali dengan gaya berpikir seperti ini. Bagi saya, manusia adalah pusat dari seluruh pekerjaan pengetahuan. Seluruh bangunan sains modern hanya mungkin tegak dengan mengandaikan adanya agen penting: yaitu manusia.

Tanpa manusia, seluruh “struktur komprehensibilitas” (ingat perkataan Einstein: the most incomprehensoble thing about the universe is that it is comprehensible) yang kita jumpai dalam alam raya ini, menjadi tak berguna sama sekali.

Baca Juga  Kontribusi Alquran dalam Mengarusutamakan Budaya Literasi

Tragedi filsafat Barat, menurut saya, adalah adanya the will to homocide, kehendak untuk “membunuh manusia”, dengan satu dan lain cara. Apa yang dilakukan oleh Meillassoux ini adalah bagian dari tren homosidal ini. Sebab, selama manusia belum dibunuh, kemungkinan Tuhan akan balik lagi ke panggung sejarah, akan muncul lagi. Filsafat Barat tampaknya memiliki trauma terhadap Tuhan.

Kritik sederhana pada Meillassoux (saya tak bisa menghindar dari nama Ari Lasso), menurut saya, adalah: bahkan kritik atas “metafisika” (saya menyebutnya demikian) korelasionisme itu hanya mungkin dilakukan oleh subjek yang sadar, yaitu seorang filsuf bernama Meillassoux.

Atau lebih jauh lagi: apa yang disebut “matematika” (oleh Meillassoux dianggap sebagai jalan untuk menembus realitas sesuatu pada dirinya, irrespective of the beholding subject) adalah hasil kerja subjek juga, yaitu manusia. Saya bertanya: Apakah mungkin lari dan menghindar dari manusia dalam seluruh “knowledge formation“?

Rasasanya mustahil. Pada akhirnya, pembentukan pengetahuan adalah a humanist undertaking, pekerjaan manusia dengan seluruh struktur “finitude” yang mengepungnya dari segala sisi. Itu pendapat saya.

Kembali kepada soal korelasionisme: pada akhirnya, “das Ding an sich,” sebagaimana dikatakan Kant, tidak mungkin ditembus. Tetapi saya lebih menyukai istilah para sufi (biar tidak pinjam bahasa orang Eropa terus) “sirr al-asrār,” rahasinya rahasia.

Sains hanya mengungkap satu lapis “rahasia natural” dengan metode tertentu, dan dengan mengandaikan bahwa rahasia ini terungkap dalam relasi antara objek dan subjek (=manusia).

Tetapi ada lapis rahasia yang lain, yaitu sesuatu pada dirinya sendiri. Lapis inilah yang tidak bisa ditembus. Meskipun saya bertanya-tanya pula: apakah tak bisa ditembus sama sekali, atau tidak bisa ditembus melalui metode sains?

Baca Juga  Pelajar Indonesia Memperkenalkan Islam Damai di Australia

Belum lagi memperhitungkan pertanyaan lain: apakah “properties” dari “das Ding” itu hanya sebatas “natural properties”? Tidak mungkinkah ada “properties” lain (tentu tak ada sangkut-pautnya dengan bisnis properti)?

Anyway, terima kasih untuk GM yang telah membawa kita pada percakapan yang menarik tentang sains, tidak semata-mata dengan “sikap berkhidmat”, tetapi juga curiga. Jika terhadap agama dan metafisika berlaku “tatapan kritis”, kenapa tidak berlaku tatapan yang sama terhadap sains?

Dan, seperti kata GM, tatapan ini tidak harus dimaknai sebagai “dakwaan” atas sains, atau apalagi mewakili sikap regresif ke dalam metafisika tradisional yang dianggap akan mengganggu kemajuan sains. [MZ]

Ulil Abshar Abdalla Pegiat Ngaji Ihya Ulum al-Din dan al-Munqidh min al-Dalal Online