Wahidah Zein Br Siregar Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Sunan Ampel Surabaya

Keberlanjutan Pandemi dan Akselerasi “Kecuekan” Sosial

3 min read

Bagi sebagian orang, lamanya masa pandemi Covid-19 yang sudah kita lalui telah menimbulkan kejenuhan yang luar biasa. Sehingga tingkah laku yang kita tunjukkan juga tidak lagi seperti biasanya, seperti ketika masa sebelum pandemi ini melanda. Kita mungkin menjadi lebih mudah marah, lebih mudah stress, dan lebih mudah menjadi malas.

Menurut penulis, keadaan ini merupakan suatu hal yang wajar. Manusia adalah makhluk sosial. Keinginan untuk bertemu dan berinteraksi satu sama lainnya begitu kuat. Sehingga, ketika lama tidak bertemu dengan orang lain atau seseorang yang disayangi, rasa kebahagiaan di dalam hati bisa sedikit demi sedikit memudar.

Cukup banyak teman yang mengirimkan pesan kepada penulis melalui WhatsApp, “jangan lupa bahagia ya…”. Tak terlalu jelas bagi penulis mengapa mereka berpesan seperti itu. Bisa jadi mereka melihat penulis seperti orang yang tidak berbahagia.

Tentu saja tidak ada orang yang tidak ingin bahagia. Walaupun ketika ditanyakan apa definisi bahagia tersebut, akan banyak variasi jawabannya. Bahagia adalah terminologi yang definisinya bersifat abstrak, bukan konkret.

Kebahagiaan ada di dalam hati, di dalam jiwa. Mungkin bisa terefleksikan secara lahir akan tetapi bisa juga tidak. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa seseorang tertawa pasti karena bahagia. Sebab ada juga orang yang tertawa karena refleksi kesedihannya, ketakmasukakalannya terhadap sesuatu yang terjadi di hadapannya.

Ada orang yang tertawa walau sejatinya hatinya menangis. Yang jelas kebahagiaan yang ada di dalam diri seseorang akan berpengaruh pada kesehatan raganya. Seperti kita mengenal terminologi psikosomatis, penyakit fisik yang disebabkan oleh gangguan pikiran.

Sebagai makhluk sosial, maka kita memahami bahwa tidak ada satupun manusia yang mampu bertahan hidup tanpa bantuan orang lain. Dari lahir sampai pada saat kematiannya, hidup manusia harus ditopang oleh orang lain. Sehingga, sebenarnya, sikap yang ditunjukkan orang lain kepada kita dapat menjadi salah satu sumber kebahagiaan, pun demikian sebaliknya.

Baca Juga  Keselarasannya Pendidikan Paulo Freire dan Islam

Dengan kata lain, seorang manusia dapat menjadi sumber kebahagiaan bagi manusia lainnya. Sangat beruntung seseorang yang dapat membawa kebahagiaan bagi orang lain. Dalam bahasa agama, orang yang paling beruntung adalah orang yang bisa bermanfaat bagi orang lain.  

Akan tetapi, bagaimana pada masa pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung lebih kurang sepuluh bulan dalam kawasan dunia dan enam bulan dalam Kawasan Indonesia ini? Dapatkah kita menjadi orang yang selalu berbahagia? Dapatkah kita menjadi orang yang mampu membahagiakan orang lain? Bisakah kita menjadi sumber kebahagiaan bagi orang lain dan bukan sebaliknya? Dapatkah kita menjadi orang yang berkontribusi pada penurunan penyebaran virus Covid-19? Mari kita coba lihat bersama, kita renungkan bersama bagaimana keadaan kita.

Sejauh pengamatan penulis, mulai dari awal kehadiran Covid-19 di Indonesia sampai dengan saat ini, terjadi fase-fase perubahan tingkah laku yang cukup penting untuk dicatat. Secara sederhana penulis membagi masa enam bulan ini menjadi tiga fase. Dua bulan setiap fasenya. Fase pertama adalah bulan Maret sampai April. Fase kedua bulan Mei sampai Juni, dan fase ketiga bulan Juli sampai Agustus.

Pada fase awal kemunculannya, sebagian masyarakat Indonesia masih bertanya-tanya apa sebenarnya virus ini, benarkah sebegitu parah akibatnya bagi masyarakat. Benarkah penyebarannya bisa begitu cepat? Sehingga, masyarakat masih sedikit cuek. Perdebatan demi perdebatan banyak terjadi. Sebagian percaya dan berusaha mengikuti apa yang disarankan oleh pemerintah. Sebagian lagi tetap berperilaku seolah-olah tidak terjadi pandemi.

Namun, pemerintah telah melarang sekolah-sekolah untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar secara luring. Karyawan kantor, khususnya kantor-kantor milik pemerintah mulai diminta untuk bekerja dari rumah, work from home (WFH). Istilah ini kemudian menjadi yang sangat populer, begitu juga dengan work from office (WFO).

Baca Juga  Peran Orang Tua dalam Menumbuhkan Gemar Membaca Anak Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19

Pada fase kedua, masyarakat mulai memahami bahwa virus ini memang sangat berbahaya. Keinginan memakai masker dan APD lainnya nampak semakin meningkat. Jumlah orang yang terkena Covid-19 semakin banyak. Namun, tidak sedikit juga mereka yang tetap “cuek”, menganggap Covid-19 tidak eksis.

Bahkan, ada yang dengan lantang mengatakan ingin mencari dan berkenalan dengan virus Corona ini. Padahal jumlah korban yang meninggal termasuk tenaga kesehatan terus bertambah. Pada fase ini, pemerintah mulai memperkenalkan istilah tatanan normal baru (TNB)–new normal–kepada masyarakat (Kompas.com, 26 Mei 2020).

Istilah new normal ini dimaksudkan agar masyarakat menjaga perilaku hidup sehat dan dapat berdampingan hidup dengan virus Corona. Akan tetapi, sebagian masyarakat menganggap bahwa mereka sudah bisa hidup normal seperti biasanya. Kehidupan sudah menjadi normal. Apalagi tempat-tempat belanja seperti mall atau plaza sudah dibuka kembali, sesuai dengan jam operasional sebelum Covid-19 melanda. Begitu juga dengan rumah-rumah makan.

Memasuki fase ketiga, ketakutan masyarakat dengan Covid-19 sudah semakin menipis. Masyarakat sudah lebih berani untuk bepergian keluar kota, menerima pendatang dari luar kota. Pesta-pesta pernikahan mulai dilakukan. Ada yang melakukannya dengan undangan terbatas, tetapi ada juga yang sudah berani mengundang orang dalam jumlah yang banyak. Bahkan mendatangkan mereka yang berasal dari luar kota.

Kantor-kantor pemerintah sudah mulai melakukan aktifitas seperti sebelum kehadiran virus Corona. Pemerintah bahkan mendorong kantor-kantor tersebut untuk berkegiatan agar anggaran yang ada pada kantor-kantor tersebut bisa diluncurkan. Ini akan berakibat pada dorongan pertumbuhan ekonomi masyarakat yang hampir terhenti.

Yang penting, masyarakat dan para pegawai kantor memakai masker atau face shield, atau keduanya. Tidak lupa membawa hand sanitizer. Bermunculan iklan di mana-mana, masker adalah obat terampuh untuk menanggulangi Covid-19. Semua akan baik-baik saja. Mereka yang melarang orang banyak untuk berkumpul adalah orang-orang yang fobia terhadap virus Corona.

Baca Juga  Jangan Menjadi Ustaz Palsu

Namun, yang terjadi secara nyata adalah virus ini masih terus berkembang. Jumlah korbannya semakin banyak. Bahkan, pada tanggal 31 Agustus 2020, Kompas memberitakan bahwa jumlah dokter yang meninggal mencapai 100 orang.

Karenanya, bisa dikatakan bahwa kenaikan jumlah korban terus beranjak naik dari waktu ke waktu. Sedangkan tingkah laku masyarakat dalam mensikapinya semakin berani untuk tidak waspada dari hari ke hari. Akselerasi jumlah korban dengan demikian diiringi dengan akselerasi “kecuekan” dalam perilaku awas terhadap perkembangan Covid-19 ini.

Lalu apakah yang akan terjadi selanjutnya, jika hal ini berlangsung terus menerus? Apalagi jika obat dan vaksin belum juga ditemukan. Kematian massal tentu dapat saja terjadi. Tentu kita semua tidak berharap hal ini akan terjadi.

Mari kita coba untuk waspada tingkat tinggi agar dapat mencegah hal yang lebih buruk terjadi di negeri ini. Mari kita coba terapkan kembali bahwa kita dapat menjadi sumber kebahagiaan bagi orang lainnya. Kita atur tingkah laku kita sebaik mungkin untuk mengurangi perkembangan virus Corona. Dengan begitu kita dapat membahagiakan orang lainnya.  [AA]

Wahidah Zein Br Siregar Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Sunan Ampel Surabaya