Wahidah Zein Br Siregar Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Sunan Ampel Surabaya

Pandemi dan Tantangan Integritas Kerja Kita

2 min read

Source: techgig.com

Jika anda adalah seorang pekerja, bekerja dalam sebuah tim, pernahkah anda merasa jenuh dan kesal? Jenuh karena derap langkah yang tidak sama dengan anggota tim? Anda ingin bergerak cepat, tetapi lebih banyak yang suka lambat; lebih suka bekerja biasa-biasa saja, sedangkan anda ingin yang luar biasa. Atau, justru sebaliknya.

Rasa kesal juga terjadi karena kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat ternyata tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Mungkin, anda termasuk orang yang ingin selalu tepat waktu, tetapi yang lain selo-selo saja. “Kalau bisa memilih santai mengapa harus terburu-buru” begitulah kira-kira dalihnya.

Mungkin banyak orang yang merasakan hal sama. Sejatinya saya ingin mengajak berefleksi; mengapa kita memilih bekerja lambat, jika kita bisa melakukannya dengan lebih cepat. Mengapa kita memilih membuang waktu daripada memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya? Mengapa kita memilih malas jika kita bisa memilih menjadi rajin?

Padahal, memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya sesungguhnya akan membuat kita merasa lebih tenang. Tanpa terasa, ternyata banyak jumlah pekerjaan yang bisa kita selesaikan pada rentang waktu tertentu. Padahal, jika kita tidak melakukan apa-apa, hanya bermalas-malasan, rentang waktu yang sama akan juga berlalu begitu saja.

Marilah kita refleksikan bersama-sama, apakah jika terlalu banyak tidur kita akan merasa enak dan sehat? Apakah jika terlalu banyak nonton TV, kita merasa enak dan sehat? Apakah jika terlalu banyak ngobrol, kita merasa enak dan sehat?

Tak kalah sering yang terjadi adalah kita menghabiskan waktu untuk bercerita dengan orang lain tentang kekesalan-kekesalan yang kita alami. Tentang perasaan-perasaan kita terhadap rekan kerja kita, meskipun sebenarnya sudah lelah bercerita. Pun, keadaan tetap tidak berubah. Yang bekerja dengan ritme lambat, ya tenang-tenang saja. Sebaliknya yang bekerja dengan lebih cepat, merasa kesal melihat yang bekerja lambat. Tidak berani mengingatkan. Takut akan dibenci atau bahkan dimusuhi.

Baca Juga  Bagaimana Ekstremisme di Negara Mayoritas Muslim?

Keadaan seperti ini tentu tidak boleh dibiarkan berlama-lama. Sebab akan merusak kinerja organisasi. Yang lebih parah, jika yang biasa bekerja cepat kemudian terpaksa harus mengubah gaya kerjanya, bekerja dengan lambat. Karena, toh tidak ada hukuman apa-apa bagi yang bekerja lambat. Sebaliknya, tak ada reward apa pun juga bagi yang bekerja dengan cepat dan tepat.

Sikap sungkan untuk menegakkan disiplin, mengatakan dan melaksanakan yang benar, masih kalah dibandingkan dengan perasaan tidak enak, jika harus menegur rekan kerja yang malas dan suka lambat tersebut. Kita belum berani untuk dibenci, apalagi sampai dimusuhi. Katakanlah yang benar walaupun akibatnya bisa menyakitkan. Kita belum berani melaksanakannya secara nyata.

Kalau dipikir-pikir secara lebih mendalam, pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini sebenarnya juga memberikan hikmah yang besar dalam konteks mengukur kinerja dan integritas seorang pekerja. Tinggi rendahnya kesetiaannya pada lembaga di mana dia bekerja, keinginan yang sungguh untuk melaksanakan tugas, kecepatan atau kelambanan dalam merespon berbagai permasalahan, bisa dilihat dari kerja yang dilakukan di masa pandemi ini.

Bayangkan saja, atasan mana yang bisa mengetahui jika seorang pekerja benar-benar melakukan pekerjaannya, jika ia bekerja dari rumah, Work From Home (WFH), atau jika mereka melakukan Work From Office (WFO), dua istilah yang menjadi sangat populer pada masa pandemi ini. Sebab, baik dengan WFH maupun WFO, para pekerja bisa mengisi daftra hadir secara daring, melalui aplikasi online misalnya.

Sejatinya, bagi mereka yang memang rajin bekerja, cepat merespon berbagai masalah yang berkaitan dengan pekerjaannya, mereka memiliki integritas yang baik, WFH menjadi model kerja yang bisa dikatakan memakan waktu 24 jam. Para pekerja dituntut untuk lebih lebih kreatif dan inovatif. Tidak boleh ada kata menyerah dalam memberikan pelayanan terhadap publik.

Baca Juga  Meneladani Empat Nilai Kehidupan Sufistik Dari Semar

Sebaliknya, bagi mereka yang malas, lamban, dan tidak memiliki integritas, maka WFH bisa jadi dianggap sebagai libur atau cuti. Pun demikian dengan WFO, sebab bisa jadi tak ada yang mengawasi ara pekerja ketika berada di kantor. Pergi ke kantor menjadi alasan untuk menghindari berbagai permintaan anggota keluarga di rumah.

Pandemi Covid-19 ini sebenarnya juga menjadi cara Tuhan untuk menunjukkan kinerja, loyalitas, dan integritas para pekerja. Pandemi Covid-19 ini menjadi alat ukur bagi pribadi pekerja, apakah mereka sudah menerapkan ihsan di dalam melakukan pekerjaannya atau belum. Apakah dia menyertakan Tuhan di dalam melakukan pekerjaannya. Bahwa ada Allah yang menyaksikan perbuatannya walaupun atasannya tidak melihat apa yang dilakukannya.

Pandemi Covid-19 ini memang memberikan tantangan yang luar biasa bagi kita para pekerja, karena kita bekerja tidak dalam suasana normal, seperti yang selama ini kita alami. Kita dituntut untuk bekerja lebih sungguh-sungguh lagi. Kita adalah pekerja yang bekerja dalam suasana yang penuh dengan pembaharuan. Pekerjaan yang tak selalu bisa dipastikan ritmenya.

Tetapi satu yang kita tahu pasti, kita bisa mengukur dengan sendirinya, bagaimana kesungguhan kita dalam melakukan pekerjaan kita. Apakah kita termasuk pekerja yang memiliki integritas yang baik atau tidak.

Sekali lagi, pandemi ini membantu kita mengenali jati diri kita yang sesungguhnya dalam hal melakukan pekerjaan kita. [AA]

Wahidah Zein Br Siregar Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Sunan Ampel Surabaya