Wahidah Zein Br Siregar Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Sunan Ampel Surabaya

Tukang Pijat, Tukang Pangkas Rambut, dan Dokter Gigi di Masa Pandemic COVID-19

4 min read

sumber: kompasiana.com

Dalam kehidupan sehari-hari, saya banyak berinteraksi dengan tiga jenis orang pada kelompok profesi ini: tukang pijat, tukang pangkas rambut, dan dokter gigi. Tukang pijat membantu suami saya menjaga kesehatan urat-urat syarafnya, menghilangkan rasa pegal di badan akibat letih bekerja. Tukang pangkas rambut membantu memotong dan merapikan rambutnya. Sedangkan dokter gigi membantu mengobati gigi yang bermasalah, termasuk mengontrol kesehatan giginya.

Di usia yang lebih dari setengah abad, memang masalah kesehatan menjadi hal yang harus lebih serius diperhatikan. Organ-organ tubuh yang diberikan Allah mulai lelah karena bekerja terus menerus. Akan tetapi, rambut adalah bagian dari tubuh yang tetap mengalami pertumbuhan, sehingga perlu untuk digunting dan dirapikan. Bisa dibayangkan bagaimana rupa seseorang yang tidak memperdulikan kebersihan dan kerapian rambutnya, atau membiarkannya tumbuh tanpa merawatnya dengan baik. Persoalan gigi juga tak kalah pelik. Selain sudah lebih rapuh dilanda usia, ia juga sudah mulai meninggalkan teman dekatnya, gusi.

Karena seringnya saya meminta pertolongan pada mereka yang berasal dari ketiga jenis profesi ini, dan suami saya sudah menjadi pelanggan setia mereka, kami menjadi teman akrab, bahkan seperti saudara. Setiap suami saya membutuhkan mereka, saya sampaikan kebutuhan tersebut, mereka dengan segera siap membantu. Dalam konteks tukang pijat, beliau akan segera meluncur ke rumah jika saya katakan suami saya membutuhkan beliau untuk memulihkan tenaganya. Bapak tukang pangkas siap menunggu suami saya datang ke barber-nya. Sang dokter gigi dengan sukarela menambah jam prakteknya jika memang dibutuhkan. Mereka memang orang-orang yang memiliki dedikasi tinggi. Selalu bersedia membantu orang-orang yang membutuhkan.

Di masa pandemi COVID-19 ini, ketiga profesi di atas menurut saya adalah termasuk profesi yang terdampak secara langsung. Betapa tidak, pekerjaan mereka dilaksanakan melalui sentuhan fisik. Padahal protokol COVID-19 menghendaki masyarakat melakukan physical distancing (menjaga jarak secara fisik). Sebab virus Corona yang menyebabkan COVID-19 ini berkembang melalui media apa saja yang telah disentuh oleh mereka yang sudah terjangkit virus tersebut. Mata manusia yang terbatas daya penglihatannya tidak mampu melihat virus yang teramat kecil ini. Panjang diameter virus Corona kurang lebih 125 nanometer atau 0,125 mikrometer (Antaranews.com, 15 Maret 2020).

Baca Juga  Membaca Ulang Identitas Kita di Tengah Himpitan Pascakolonialisme

Sungguh, terasa sedih memikirkan keadaan ekonomi mereka saat ini. Secara khusus bapak yang berprofesi sebagai tukang pijat dan tukang pangkas. Apa yang mereka lakukan untuk memperoleh pendapatan? Bapak tukang pijat bercerita kepada saya bahwa beliau tidak lagi memberikan pelayanan sebab pelanggannya merasa takut. Beliau sendiri juga merasa takut. Tidak ada yang tahu apakah yang memijat atau yang dipijat sudah terkena virus Corona atau tidak. Keduanya tidak melakukan tes untuk itu. Dari berita-berita dapat diketahui bahwa alat tes ini jumlahnya masih terbatas. Sementara itu, bapak tukang pangkas sudah benar-benar menutup barber-nya. Saya ketahui ini dari pesan WhatsApp-nya kepada saya.

Untuk bapak dokter gigi, saya pikir saya tidak perlu terlalu khawatir. Saya menduga beliau punya banyak tabungan, akan bisa mengatasi masa-masa yang sulit ini. Akan tetapi, dugaan saya tak juga benar seluruhnya. Tabungan tentu berangsur-angsur akan berkurang dan habis jika dipergunakan terus-menerus tanpa ditambah. Beliau terdengar cukup sedih ketika saya kontak lewat telephon. Sedih bukan memikirkan dirinya, tetapi beberapa perawat gigi yang membantunya bekerja. Mereka terpaksa harus diberhentikan sementara tanpa batas waktu yang jelas kapan akan dipanggil lagi untuk bekerja.

Apa yang terjadi pada ketiga orang profesional yang selalu membantu suami saya ini tentu juga terjadi pada mereka yang bekerja di profesi serupa. Saya tidak punya data statistik tentang berapa orang jumlah tukang pijat di Sidoarjo tempat saya bermukim. Begitu juga dengan jumlah tukang pangkas. Akan tetapi, dalam keadaan sebelum COVID-19 melanda, saya amati paling tidak ada sepuluh barber yang saya lintasi dalam perjalanan menuju kampus, baik yang sederhana maupun yang mewah dengan fasilitas air conditioner dan kursi-kursi yang mahal. Sama halnya dengan para dokter gigi. Belum pernah saya telusuri berapa jumlah mereka. Akan tetapi, di lingkungan perumahan saya ada empat praktek dokter gigi yang saya ketahui. Bagaimana keadaan para tukang pijat, tukang pangkas, dan dokter gigi pada saat pandemi ini?

Baca Juga  Film Jejak Khilafah di Nusantara: Sebuah Framing dan Manipulasi Sejarah?

Jelas sekali bahwa musibah COVID-19 ini dengan tiba-tiba merenggut ketahanan ekonomi masyarakat. Mereka yang biasanya memperoleh rezeki dari para pelanggan, tiba-tiba saja kehilangan rezeki tersebut. Padahal, menjajagi profesi baru tentu juga tidak mudah. Pembatasan aktifitas masyarakat di luar rumah tentu menjadi kendala yang besar. Mungkin ada beberapa profesi yang tetap bisa dijalankan dengan cara mengalihkannya dari sistem offline menjadi online, seperti guru dan dosen yang mengajar menggunakan internet. Ada pula model berjualan yang tadinya dijual langsung di toko kemudian beralih menuju berjualan dengan cara delivery order. Akan tetapi bagaimana dengan para tukang pijat, tukang pangkas, dan dokter gigi ini? Pekerjaan mereka dilaksanakan melalui sentuhan lansung secara fisik dengan pelanggannya. Dapatkah mereka memberikan pelayanan secara online?

Dalam konteks dokter gigi, saya mendapat kabar dari internet bahwa ada dokter gigi yang melakukan praktek dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Mereka tetap berusaha membantu mereka yang memerlukan bantuan (jatim.sindonews.com, 11 Mei 2020). Akan tetapi cukup banyak dari mereka yang memilih tidak membuka prakteknya. Dokter gigi yang biasa membantu suami saya adalah salah satunya. Ketika ditanya mengapa beliau memilih tidak membuka prakteknya, beliau mengatakan khawatir terhadap persentuhan fisik secara langsung. Sekali lagi tidak ada yang tahu apakah sang dokter gigi atau sang pasien terkena virus corona atau tidak. Bagaimanapun mencegah penyebaran virus Corona ini adalah tindakan yang lebih baik. Sehingga apa yang dilakukannya adalah memberi resep obat anti nyeri yang bisa sedikit membantu atau menyarankan agar segera menyikat gigi ketika selesai makan. Jika memang terlalu sulit segera menuju rumah sakit yang masih memberikan pelayanan poli gigi.

Baca Juga  Sejarah Awal Berdirinya Pesantren di Jawa

Selain aspek ekonomi, dampak dari COVID-19 ini juga sangat terasa dari sisi interaksi sosial. Biasanya, ketika tukang pijat datang ke rumah, banyak hal yang bisa diobrolkan bersama. Cerita-cerita tentang keluarga beliau, cita-citanya di masa depan, dan lain-lain. Begitu juga dengan bapak tukang pangkas. Sambil memangkas beliau akan bercerita tentang berbagai pengalamannya, termasuk cerita tentang berbagai jenis bentuk kepala mereka yang pernah mendapatkan pelayanan darinya. Saya yang menemani suami saya terkadang ikut tergelak mendengar kisah-kisahnya. Bapak dokter gigi juga orang yang sangat humoris. Terkadang dia meledek suami saya, “Apa saja yang dikunyah pak, hingga tambalan giginya rusak”. Pada masa berdiam diri di rumah ini, obrolan-obrolan dengan bapak-bapak profesional pada ketiga bidang ini menjadi hilang.

COVID-19 ini menjadi saksi bahwa banyak sekali orang yang kita butuhkan di dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita adalah makhluk yang lemah sehingga tak pantas untuk menyombongkan diri. Kita adalah orang-orang yang selalu merindukan obrolan ringan perekat persaudaraan. Saat ini tampaknya menjadi masa ujian bagi kita untuk melihat seberapa tinggi rekat persaudaraan antara kita. Seberapa besar rasa perduli kita pada mereka yang selalu membantu kita.

Saya coba untuk memangkas suami saya, membayangkan apa yang dilakukan bapak tukang pangkas ketika melakukan pekerjaannya. Ternyata pekerjaan memangkas itu tidak semudah seperti yang saya lihat. Saya katakan pada suami saya, “Pakai kopiah saja yah agar bocel-bocel di kepalanya tidak terlihat ketika mengajar online”. Semoga pandemi COVID-19 ini segera berlalu. Bapak tukang pijat, tukang pangkas, dan dokter gigi segera bisa melaksanakan tugasnya. Saya tak lagi menjadi penyebab bocelnya rambut suami saya.[]

Wahidah Zein Br Siregar Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Sunan Ampel Surabaya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *