Yoga Putra Perdana Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Kehendak Tuhan dan Kehendak Manusia dalam Eksistensialisme Muhammad Iqbal

2 min read

Filsafat eksistensialisme adalah suatu aliran filsafat yang berkembang pada era modern, tepatnya pada abad ke-19 dengan diprakarsai oleh Sören Kierkegaard sebagai bapak eksistensialisme dunia. Ia merupakan pencipta gagasan tentang makna sebuah eksistensi atau keberadaan diri manusia.

Keberadaan diri manusia dipahami ketika manusia dapat menyatakan dirinya sehingga keberadaan diri manusia secara pribadi dapat dirasakan. Diri pribadi ini biasa disebut sebagai keakuan manusia yang mana menegaskan suatu perasaan terhadap adanya diri sendiri.

Untuk mencapai suatu keakuan, para eksistensialis sering kali menyatakan bahwa kebebasan adalah suatu syarat dimana manusia dapat bereksistensi. Hal ini juga menegaskan bahwa kebebasan dapat menjadikan manusia merasakan keakuannya. Penggagas konsep eksistensialisme menyatakan bahwa kebebasan manusia ini adalah sebuah kehendak untuk menjadi apa pun tanpa dikendalikan oleh yang lain.

Oleh karena itu, konsep eksistensialisme pada mulanya merupakan sebuah bentuk antitesis dari penganut aliran esensialisme yang menganggap adanya sesuatu yang menjadi hakikat dari segala sesuatu di mana hakikat tersebut adalah sesuatu yang sudah ditentukan dan bersifat statis. Hal inilah yang tidak disetujui oleh para eksistensialis dan mereka menganggap bahwa tidak ada yang statis di kehidupan ini; segalanya senantiasa “menjadi” secara terus menerus.

Aliran filsafat ini terus berkembang tetapi tetap berlandaskan konsep yang sama, yaitu mengenai kebebasan manusia dalam menjalani kehidupan. Pemikiran ini perlahan-lahann menuju pada suatu gagasan tentang peniadaan Tuhan. Bagi eksistensialis, Tuhan hanya akan membatasi kebebasan manusia untuk menjadi apa pun. Karena Tuhan membatasi kebebasan, akhirnya manusia akan gagal untuk bereksistensi lantaran diganggu oleh kehadiran Tuhan

Dapat disimpulkan bahwa dalam sejarah eksistensialisme, terdapat sekelompok filsuf yang terjurus pada pandangan ateisme dengan meniadakan Tuhan karena mereka menganggap eksistensi Tuhan ternyata dapat mengganggu bahkan menghilangkan eksistensi manusia.

Baca Juga  Syekh Yusuf al-Makassari dan Jaringan Tarekat Syattariyah di Nusantara

Tuhan, bagi Muhammad Iqbal, salah seorang filsuf cum penyair Pakistan, adalah khuda, yang pahami sebagai ego kreatif nan mutlak. Tuhan adalah entitas yang bertindak kreatif dalam penciptaan alam semesta. Alam semesta menurut pandangan Iqbal adalah sesuatu yang terus “menjadi” dan diperbarui. Oleh karenanya, ia memiliki konsepsi eksistensialisme yang memandang bahwa dunia terus “menjadi” dengan tetap mempertahankan adanya eksistensi Tuhan.

Pandangan Iqbal berbeda dengan pandangan para eksistensialis yang lain bahwa adanya Tuhan dapat menyebabkan munculnya pemikiran bahwa dunia adalah entitas yang statis dengan takdir yang sudah ditetapkan. Tuhan bukan hanya sebagai penetap takdir, tetapi juga terus berkehendak untuk mengubah takdir maupun menetapkannya. Iqbal menyatakan bahwa Tuhan tidaklah bertindak dengan selalu mengikuti takdir yang telah Dia tetapkan, tetapi Dia juga bertindak pada perubahan maupun penetapan takdir secara kreatif.

Anggapan bahwa penciptaan alam semesta adalah sesuatu yang telah selesai dengan takdir yang sudah disediakan secara tidak langsung hanya akan terjerumus pada pikiran membatasi kehendak Tuhan: bahwa Tuhan sudah tidak lagi mengintervensi penciptaan secara penuh. Atas dasar inilah, maka Tuhan dipandang sebagai khuda atau ego mutlak yang senantiasa bertindak bebas tanpa ada yang membatasi-Nya.

Tuhan sebagai khuda, yang memiliki kebebasan absolut dan tertinggi, memberikan kebebasan-Nya kepada segala ciptaan sehingga menjadikan segala ciptaan juga memiliki ego, tetapi lebih rendah dan bersifat partikular; yaitu khudi. Karena ego inilah, maka segala ciptaan masing-masing memiliki kehendak bebas.

Karena memiliki kebebasan, maka mereka menjadi tidak terkekang. Karena tidak terkekang, maka mereka mendapatkan keberadaan diri dan bisa merasakan eksistensi atau adanya diri masing-masing di mana hal ini bertolak belakang dari paham panteisme yang menekankan peniadaan diri dengan cara meleburkan dan menghilangkan kehendak maupun kebebasan ego.

Baca Juga  Syeikh Hasan Ma'shum dari Sumatera: Figur Penting Organisasi al-Jam‘iyyah al-Washliyah

Oleh karena adanya ego ini, maka segalanya memiliki “keberadaan” yang berada dalam liputan “keberadaan” Tuhan. Mereka bereksistensi dalam eksistensi Tuhan. Ini seperti konsep panenteisme di mana alam semesta berada di dalam Tuhan. Alam semesta bertindak kreatif melalui ego partikular (khudi) dalam tindakan kreatif Tuhan sebagai ego universal yang absolut. Hal ini juga senada dengan manusia yang memiliki ego (khudi) dalam dirinya sebagai sumber keakuan.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu ketika manusia menghadapi realita kehidupan, keakuan manusia perlahan mulai hilang akibat dideterminasi oleh tuntutan-tuntutan di luar dirinya. Oleh karena itu, hendaknya manusia melakukan pencarian jati diri dengan menjalani berbagai tahapan eksistensi. Manusia yang telah melalui berbagai tahapan eksistensi dengan membebaskan diri dari segala bentuk ketergantungan pada yang lain dapat menggapai ego partikular (khudi) sehingga menemukan keakuan dalam dirinya.

Dengan itu, manusia juga dapat tersambung dengan ego mutlak sebagai sumber dari ego partikular itu sendiri. Oleh karenanya, ego partikular manusia dapat berjalan sebagaimana ego mutlak Tuhan. Di sini manusia dapat disebut sebagai wakil Tuhan (khalīfah) yang merupakan puncak tertinggi dalam eksistensi diri.

Manusia telah hidup melalui kesadaran atas ego (khudi) sebagai keakuan diri yang berjalan terarah sesuai dengan kesadaran keakuan tertinggi (khuda), yaitu Tuhan. Di sinilah kesadaran manusia adalah kesadaran Tuhan, kebebasan manusia adalah kebebasan Tuhan, dan kehendak manusia adalah kehendak Tuhan. [AR]

 

Yoga Putra Perdana Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya