Yulianingsih Riswan Dosen Filsafat UGM yang sedang menempuh studi doktoral di Freiburg University Jerman.

Ramadan, wie befinden Sie sich? Pengalaman Ramadan di Freiburg, Jogja dan Palembang [Bagian 2]

2 min read

sumber: www10.aeccafe.com

Berbeda dengan Palembang dan Yogyakarta, di Freiburg kami menjalani puasa tanpa sekalipun mendengar suara azan di ruang publik. Yang terdengar bahkan lonceng gereja yang menandakan waktu-waktu tertentu di sepanjang hari. Tidak ada panggilan sahur dari musala atau keriuhan rombongan anak-anak remaja yang berkeliling kampung membangunkan sahur. Kami harus bergantung pada alarm HP dan jam weker untuk membangunkan kami sahur, yang entah kenapa beberapa kali sempat bablas hingga membuat kami nyaris kesiangan tanpa sahur.

Tidak ada juga godaan diskon khusus selama Ramadan yang memuaskan nafsu belanja kami sebagaimana ditawarkan supermarket-supermarket di Indonesia menjelang lebaran.

Dan Ramadan kali ini, karena pandemi Corona, tidak ada lagi tarawih 20 rekaat di masjid Turki atau 8 rekaat di masjid Arab, dan takjil gratis setiap hari dengan menu istimewa di masjid Turki yang menjadi langganan para mahasiswa Indonesia. Aturan social distancing yang diberlakukan pemerintah dengan denda maksimal ribuan euro membuat harapan untuk bisa buka bersama menikmati aneka menu Indonesia bersama komunitas Muslim Indonesia di Freiburg juga tidak bisa terlaksana dan kemungkinan juga meniadakan tradisi tahunan piknik dan barbequ-an bersama di pinggir danau setelah Idul Fitri.

Bahkan mungkin saat semua kondisi normal di kota ini dan Muslim bisa melakukan aktivitas ibadah di masjid, saya tidak terlalu berharap banyak bisa menikmati suasana Ramadan sebagaimana saya menikmati Ramadan di kampung di Jogja atau di Palembang. Pertama, karena anak-anak yang masih kecil dan kedua, karena jarak masjid yang cukup jauh sehingga kami harus naik tram dua kali untuk bisa tiba di sana.

Namun yang paling berat, karena durasi puasa di siang hari yang panjang, dari jam 4 pagi hingga jam 9 malam, yang menyebabkan waktu salat tarawih terlalu malam bagi anak kami yang esoknya harus bangun sebelum subuh untuk makan sahur. Puasa di Jerman dengan durasi antara waktu buka hingga sahur yang hanya sekitar 7 jam dikurangi waktu tidur, juga membuat kami belajar mengukur kebutuhan daripada keinginan. Misalnya, saat buka puasa atau saat sahur.

Baca Juga  Sajak Tahun Gajah

Tanpa Pasar kaget Ramadan, kami menikmati menu sahur dan buka dengan tidak merasa ada yang kurang, semua hidangan terasa cukup. Salat tarawih yang sulit kami lakukan dengan formasi lengkap satu keluarga karena sudah terlalu malam, akhirnya menjadi ibadah sunah yang dilakukan benar-benar sendiri. Agama yang biasanya kami jalani sebagai ritual bersama komunitas di sini terasa begitu terlalu privat. Negara tidak melarang tapi juga tidak banyak menfasilitasi. Kultur masyarakat yang individual, ditambah suasana pandemik yang membuat orang semakin membatasi diri.

Meskipun demikian, kami menikmati kebersamaan ibadah dalam keluarga kecil kami, menyimak anak mengaji dan juga mengeksplorasi kreativitas menu buka puasa dengan ragam pilihan bahan baru dari seluruh dunia. Selain itu, Ramadan kali ini juga terasa istimewa bagi umat Islam di Jerman setelah beberapa wilayah, Duisburg, Hamburg, Hannover dan Bremen, mengijinkan memperdengarkan suara azan keluar masjid sehingga bisa didengar publik.

Hal ini diinisiasi oleh komunitas interfaith atas nama solidaritas antar umat beragama, yang mengajak komunitas Muslim untuk menggalang spiritualitas bersama menghadapi Covid-19 dengan cara umat Kristian membunyikan lonceng di gereja setiap pukul tujuh malam dan umat Islam mengumandangkan suara azan dari masjid. Meski masjid di Freiburg belum memperdengarkannya, kabar ini yang cukup membahagiakan selama Ramadan.

Kondisi-kondisi di atas membuat saya mulai memahami bagaimana perasaan menjadi Muslim minoritas. Kultur masyarakat yang individual tidak mempedulikan soal mayoritas atau minoritas sekaligus membuat kontrol sosial masyarakat tidak terlalu kuat. Berbeda dengan kondisi di Indonesia dengan model masyarakat komunal yang membuat situasi menjadi minoritas mungkin akan terasa lebih berat. Saya berharap Ramadan selama pandemik ini akan membuat orang Islam menjalani ibadah dan hidup yang lebih esensial, termasuk di Indonesia dengan umat Islam sebagai mayoritas.

Baca Juga  [Resensi] Kitab Kimia Kebahagiaan Abu Hamid al-Ghazali [Bag 1]

Menjadi mayoritas atau minoritas adalah situasi thrownness—dalam bahasa Heidegger, yang kadang tidak bisa kita pilih mana yang lebih kita suka semenjak kita lahir. Kita “terlempar” dalam ruang sejarah tanpa kuasa. Merasakan suasana Ramadan di negeri lain, di mana kita menjadi minoritas dan dalam suasana di mana segala sesuatunya tidak lagi normal seperti di masa pandemi, semoga memberi pelajaran tentang bagaimana bisa saling memahami dengan yang lain dan menikmati apa yang terbatas yang menjadi bagian esensial dari kehidupan. Dari Ramadan yang hening ini semoga lahir kebeningan jiwa, hati dan pikiran untuk menjadi manusia yang lebih bertakwa. Amin. []

Yulianingsih Riswan Dosen Filsafat UGM yang sedang menempuh studi doktoral di Freiburg University Jerman.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *