Yulianingsih Riswan Dosen Filsafat UGM yang sedang menempuh studi doktoral di Freiburg University Jerman.

Ramadan, wie befinden Sie sich? Pengalaman Ramadan di Freiburg, Jogja dan Palembang [Bagian 1]

4 min read

sumber: www10.aeccafe.com

Wie befinden Sie sich atau how are you doing adalah salah satu ungkapan Martin Heidegger, filsuf eksistensialis Jerman ketika menjelaskan tentang konsepnya mengenai manusia dan Ada. Di sini saya tidak akan membual tentang pemikiran filsuf yang pernah menjadi rektor di universitas tempat saya belajar saat ini, melainkan bercerita tentang pengalaman menjalani Ramadan bersama keluarga di Freiburg, di mana Heidegger pernah tinggal.

Namun, sebelum saya bercerita mengenai pengalaman Ramadan di kota yang berada di provinsi Baden-Wurttemberg yang berbatasan dengan Perancis dan Austria ini, saya ingin ceritakan sedikit tentang Freiburg dan, sebagai perbandingan, pengalaman Ramadan di kampung halaman saya di Palembang dan tempat tinggal saya selanjutnya di Jogja.

Bagi yang pernah belajar tentang filsafat, Freiburg merupakan tempat di mana Edmund Husserl, Martin Heidegger dan Hannah Arendt menghabiskan waktu belajar, mengajar, dan/atau menulis karya-karyanya yang sangat berpengaruh dalam dunia filsafat. Kota kecil ini kelilingi oleh hamparan bukit dan pegunungan Black Forest, di sepanjang sungai Rhine yang alirannya melewati beberapa negara Eropa Barat, dari pegunungan Alpen hingga Laut Utara. Apartemen kami berada di sekitaran Danau Seepark dengan rimbun pepohonan dan kicau burung terdengar dari jendela. Tata kelola ruang terbuka dan efisiensi tempat tinggal, kerapian dan kebersihan lingkungan, serta pemandangan indah dari danau yang bisa kami nikmati tiap membuka pintu kamar dan jendela begitu mengesankan hingga saya katakan kepada suami, ini adalah sebuah potongan surga.

Pada masa krisis imigran sejak 2015, Baden-Wurttemberg merupakan wilayah yang banyak menerima pengungsi dari negara-negara korban perang dan konflik di Timur Tengah dan Afrika. Di banyak tempat saya bertemu dengan perempuan berjilbab, bahkan beberapa fasilitas publik sudah banyak melibatkan dan memperkerjakan perempuan berjilbab, seperti kasir supermarket, guru, dan dokter. Di sekitar kami tinggal, terdapat pusat belanja Amina, Norma, Istanbul, yang identik dengan nama Arab dan Islam, di samping puluhan toko kebab yang berdiri di hampir setiap sudut kota.

Meski Islam sebagai entitas bukan hal yang asing di kota ini, akan tetapi tidak mudah bagi kami untuk engage dengan komunitas Islam di sini, baik komunitas Muslim Turki yang merupakan mayoritas maupun muslim Arab dan Afrika. Ada perasaan kedekatan ketika kita berbicara dengan orang asing, yang kemudian kita tahu sama-sama Muslim, namun setelah itu masing-masing kembali pada kelompok bangsanya sendiri. Bisa jadi ini mekanisme pertahanan menghadapi situasi yang asing, yang belum sepenuhnya kita percaya, supaya tetap bisa hidup. Namun bisa jadi juga masyarakat termasuk para imigran sudah melebur dalam budaya individual Barat yang lebih terasa daripada kultur Islam yang lebih komunal.

Baca Juga  [Cerpen] Pengantin Surga

Ini yang saya alami misalnya dalam banyak perjumpaan di ruang publik dengan orang yang juga menggunakan simbol Islam seperti berjilbab. Sapaan salam hampir tidak pernah saya dapatkan dari sesama muslimah berjilbab di sini. Entah karena mungkin saking banyaknya hijabis atau karena tipikal masyarakat yang tidak suka basa-basi.

Terdapat dua masjid di kota ini yang menjadi pusat aktivitas ibadah umat Muslim, yaitu Masjid Islamic Center of Freiburg yang dikelola oleh masyarakat Muslim Turki dan masjid yang kita sebut Masjid Arab, meskipun yang kita sebut sebagai masjid—sebagaimana di negara lain di mana Muslim menjadi minoritas—tak lebih dari bangunan apartemen atau rumah yang ditata secara khusus sebagai pusat peribadatan. Selain plakat, tidak ada menara atau suara adzan yang keras. Masjid Turki menggunakan tiga bahasa saat mengadakan khutbah Jumat, Turki, Arab, Jerman, sedangkan masjid Arab hanya menggunakan bahasa Arab dan Jerman.

Semenjak pandemi Corona mulai mewabah, pada Jumat kedua bulan Maret, kedua masjid sudah menghentikan kegiatan jam’iyah mengikuti arahan pemerintah dewan kota sebagaimana yang terjadi di seluruh Jerman, yang tentu saja termasuk mempengaruhi bagaimana Ramadan dilaksanakan, meski jangan pernah bayangkan bahwa Ramadan di Jerman akan sama dengan di tanah air.

Ramadan di Indonesia begitu khas. Impresi tentang Ramadan yang semarak terpatri semenjak masa kecil ketika saya tumbuh di Palembang. Rumah tempat keluarga kami tinggal berhadapan persis dengan masjid, dibatasi jalan, yang dalam sepuluh tahun terakhir dijadikan masjid raya di salah satu kecamatan kota. Saking dekatnya jarak masjid dengan rumah, tak jarang kami cukup menggelar sajadah di halaman depan untuk salat Ied. Suasana masjid juga sangat kondusif yang membuat ibadah puasa kami fokus dan terjaga.

Baca Juga  Humor Singkatan Nama

Selama Ramadan, masjid menjadi sentra aktivitas kehidupan kami selama hampir 24 jam. Setiap hari, mulai jam 3 pagi sudah terdengar ayat suci Alquran dan dilanjutkan tanya jawab agama dari radio yang dipancarkan oleh pengeras suara masjid. Selesai salat subuh berjamaah dan kuliah subuh, ibu-ibu kelompok pengajian masjid melakukan tadarus Alquran hingga menjalang pukul 6 pagi. Selepas zuhur hingga asar, masjid ramai oleh kedatangan santri TPA dan Madrasah Diniyah hingga menjelang buka puasa. Saat persiapan buka puasa, dari masjid kembali terdengar alunan qasidah, gambus, atau nasyid, lalu ceramah agama dan diakhiri lantunan ayat suci Alquran hingga menjelang azan magrib. Malam hari ditutup dengan tarawih dan ceramah agama.

Begitu seterusnya setiap hari.

Tidak seperti keluarga lain, selama Ramadan kami juga mengurangi aktivitas menonton televisi yang biasanya marak pada saat sahur atau buka. Bukan kami lebih saleh dari yang lain, melainkan karena volume pengeras suara masjid begitu mendominasi hingga membuat kami harus mengecilkan suara televisi dan hanya menyaksikan gambar yang berganti di layar TV, tanpa bisa mendengar dengan jelas isi dialognya.

Demikian juga saat Ramadan mulai berakhir, meski jamaah masjid berkurang, suara petasan yang keras sesekali terdengar pada waktu tarawih dan mencapai klimaksnya saat malam lebaran. Perpaduan kembang api dan suara mirip bom molotov itu terus terdengar hingga tengah malam menemani tidur kami. Kesemarakan yang membuat sebagian kecil orang bahagia dan membuat sebagian yang lain tersiksa karena senantiasa terbangun dari tidur. Sebagaimana pempek yang menjadi menu wajib buka puasa setiap hari keluarga kami, Palembang memberi ingatan tentang kuatnya tradisi dan juga keseragaman.

Lain halnya di Palembang, di Jogja keharusan makan pempek saat buka puasa tergantikan dengan aneka jajanan dan makanan yang dijual dengan murah sepanjang jalan. Dari sekian banyak ragam takjil yang tersedia setiap hari, seseringkali itu pula saya selalu merasa ada hidangan yang kurang. Saat tersedia kolak, rasanya kurang afdol tanpa semangka. Esok harinya, rasanya kurang lengkap tanpa es degan, hari berikutnya kurang gorengan, siomay, batagor, roti bakar, es cendol, klepon, cireng, es pisang ijo, bubur sumsum dan jajan pasar, atau sekian menu tak terduga yang membuat buka puasa menjadi lebih semarak.

Baca Juga  Senja di Mina

Ibaratnya, kita “kurang Ramadan” kalau tidak jajan, meskipun acapkali menyisakan makanan yang tidak habis dan menjadi mubazir. Pasar Rejodani di dekat tempat tinggal kami tidaklah terlalu besar berada cukup jauh dari pusat kota, namun pertigaan jalan di depannya selalu macet setiap menjelang buka puasa. Bisa dibayangkan bagaimana suasana Ramadan di pusat-pusat ngabuburit di Jogja seperti di bundaran Filsafat UGM.

Jogja memberikan banyak pilihan dan pengalaman berbeda, tidak hanya soal makanan, melainkan juga keragaman dalam ibadah. Di Palembang saya tidak punya alasan untuk tidak salat tarawih di masjid. Di Jogja saya belajar untuk memilih dengan segala konsekuensi. Pernah suatu Ramadan di awal studi S2, hampir setiap hari saya mengutamakan hadir di undangan buka puasa daripada salat tarawih ke masjid.

Jogja juga mengajari tentang kemungkinan hidup bersama dalam perbedaan. Pada tahun pertama menetap di Jogja untuk studi di UGM, saya terkaget-kaget ketika pagi hari saya bersama teman dan ibu kos pergi ke lapangan untuk salat Idul Adha, kami bertemu siswa berseragam sedang berangkat sekolah di perjalanan, keadaan yang tidak akan pernah saya temui selama tinggal di Palembang. Di Jogja juga saya bisa berganti masjid untuk salat tarawih, mengikuti beberapa tradisi keagamaan yang berbeda (tradisional, modern) tanpa masalah. Meski Jogja dan Palembang memberi pengalaman yang lain, Ramadan di kedua kota tetaplah sama semaraknya. []

Yulianingsih Riswan Dosen Filsafat UGM yang sedang menempuh studi doktoral di Freiburg University Jerman.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *