



Sejarah Kemunculan AI
Teknologi melaju semakin canggih, merupakan fakta yang tidak terbantahkan. Dan, manusia menerima kecanggihan itu dengan tangan terbuka. Ia yang membuat semakin canggihnya teknologi, ia pula yang menikmatinya. Salah satu produk kecanggihan teknologi itu adalah Artificial Intelligence (AI), yang sekarang sedang popular dipakai sebagai perangkat kehidupan.
Munculnya kecerdasan buatan bernama AI digadang-gadang akan bisa menyamai kecerdasan alami yang dimiliki manusia. Bahkan dengan segala perangkat canggihnya itu, setelah melalui penelitian dan analisis mendalam, AI bisa saja malah mengungguli kecerdasan alami milik manusia.
Diantara keunggulan AI dibanding kecerdasan alami milik manusia menurut Sri Kusumadewi dalam bukunya Artificial Intelligence: Teknik dan Aplikasinya (2003): AI lebih bersifat permanen dibanding kecerdasan alami manusia, sebab kecerdasan milik manusia tersebut bisa hilang karena lupa ingatan dan pikun; AI bisa diduplikasi dan disebar dengan lebih mudah dibanding hasil pikir manusia yang kadang disembunyikan; AI harganya lebih murah karena mengaksesnya cukup dengan handphone; AI bisa bekerja lebih cepat sebab ia tidak punya rasa malas; AI dapat didokumentasikan secara mudah dan murah.
Sebagai produk teknologi paling memukau, kemunculan AI sebenarnya telah diprediksi sejak dulu. Adalah seorang matematikawan dari Inggris bernama Alan Turing, di tahun 1950-an, pernah mengusulkan supaya diadakan sebuah test pada mesin tertentu. Jika mesin yang diproses sedemikian rupa bisa menjawab beberapa soal-soal test tersebut, maka mesin itu bisa dianggap punya kecerdasan. Layaknya manusia yang duduk di sebuah kursi bintang tamu pada acara-acara Q&A.
Ide itu pun menggelinding jauh, hingga pada tahun 1956 Prof. John McCarthy dari Massachusetts Institute of Technology menginisiasi pertemuan para pakar AI. Dan di pertemuan itulah gaung AI semakin nyata untuk direalisasikan. Embrio AI bahkan lebih dikerucutkan lagi tujuannya, bahwa AI dimunculkan bukan hanya menjawab soal-soal test, tapi ia juga hadir untuk mengetahui dan memodelkan proses-proses berfikir manusia dan mendesain mesin agar dapat menirukan kelakuan manusia. Maka, apa yang sekarang kita dapatkan dari Chatgpt dan DeepSeek, misalnya, merupakan hasil nyata dari cita-cita besar tersebut.
AI Adalah Rejeki Nomplok
Bagi peradaban manusia paling mutakhir, seperti diuraikan sebelumnya, AI adalah anugerah besar yang sulit dipungkiri. Kecerdasan AI, dengan segala sistematika yang tertata, telah menjadi salah satu alat kehidupan bagi banyak manusia di era sekarang. AI bahkan telah menjadi asisten super cerdas bagi manusia dalam berkarya. Bagaimana tidak menjadi asisten cerdas, AI mampu membuat laporan keuangan yang jlimet, melukis obyek dengan sangat indah, mengarang cerita memukau, dan bahkan mampu menyelesaikan soal-soal rumit fisika dan matematika.
Manusia memposting konten-konten di media sosial, kini banyak pula yang meminta bantuan AI. Manusia ingin memasarkan barang, juga banyak memanfaatkan AI untuk membuatkan konsep pemasarannya. Bahkan ketika orang ingin menyusun rencana-rencana kerja di masa yang akan datang, juga banyak meminta bantuan AI. Kemudian diperolehlah satu susunan rencana kerja yang tersistem secara rapi. Memudahkan manusia yang hanya butuh menerapkannya tahap demi tahap.
Maka pada pokoknya, AI mampu membuatkan apapun yang diminta manusia selama tidak keluar dari cara kerjanya. Sebab sebegitu canggihnya AI, ia bukan tidak punya kekurangan sama sekali. Dan salah satu kekurangan AI dibanding kecerdasan alami milik manusia, AI tidak bisa berpikir di luar jangkauan pemikiran manusia. Artinya, kecerdasan alami milik manusia akan sanggup menerawang hal-hal yang lebih jauh “jarak” atau spektrumnya dibanding AI yang terbatas hanya menyerap dari informasi yang diterimanya.
Jebakan Batman AI
Oleh karena AI murni hasil kemajuan teknologi yang dibuat dan dimanfaatkan pula oleh manusia, maka tidak bisa dihindari akan munculnya paradok. Seperti yang diutarakan ahli sejarah teknologi bernama Lewis Mumford, seperti diungkap David Gosling dalam buku yang disunting Supardan berjudul Ilmu, Teknologi dan Etika (1991), bahwa awalnya setiap teknologi tidak mengajukan tuntutan dan menjadikan sesuatu pun bagi manusia secara sadar. Artinya teknologi, dalam hal ini mesin, selalu bernilai netral, sebab teknologi itu sekedar karya dari manusia.
Namun setelah ia mengutarakan itu, Lewis Mumford menganulirnya di beberapa tahun kemudian, dengan menyatakan bahwa sebenarnya teknologi itu merupakan paksaan dan ancaman terhadap nilai-nilai kemanusiaa. Yakni jika teknologi tersebut disalahgunakan oleh manusia untuk kegiatan-kegiatan yang kontraproduktif dengan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Itulah yang dimaksud jika teknologi selalu memunculkan paradoks bagi manusia. Satu sisi teknologi punya nilai positif, dan di sisi yang lain terkandung pula nilai negatif.
Salah satu paradoks teknologi, seperti yang dicontohkan Alexis Carrel dalam buku Murtadha Muthahhari berjudul Menguak Masa Depan Umat Manusia: Suatu Pendekatan Filsafat Sejarah (1991), terjadi pula dalam kemajuan ilmu kedokteran yang semakin canggih. Yakni tentang kemampuannya memperpanjang usia manusia yang terjangkit penyakit mematikan. Sehingga hal demikian pasti membuat regenerasi manusia unggul menjadi tersendat!
Dulu sebelum ilmu kedokteran ditemukan, umat manusia bertahan dan melawan segala penyakit dan bencana dengan ketahanan tubuh dan segala daya upayanya. Sehingga yang tubuhnya kuat akan terus hidup, sedang yang tubuhnya lemah akan mati.
Namun ketika ilmu kedokteran ditemukan, apalagi dengan kecanggihannya seperti sekarang, lambat laun ditemukanlah obat pemanjang usia. Manusia yang sakit kronis pun kini bisa hidup lebih lama. Tidak tergerus siklus alamiah seperti di zaman dulu.
Itulah yang kemudian menjadi alat prediksi, bahwa di tahun-tahun mendatang mayoritas manusia yang eksis di bumi adalah manusia-manusia yang lemah dan berpenyakitan. Bukan manusia-manusia super, yang dengan ketahanan dirinya bisa keluar dari kemelut sakit dan bencana alam.
Maka demikian juga dengan AI, pasti memunculkan efek samping berupa paradok bernama jebakan batman bagi umat manusia. Memang dengan AI manusia dimudahkan hidupnya. Namun dengan AI pula, nama baik manusia bisa hancur. Tentu saja nama baik dari aspek etika dan moral yang harus dijaga betul oleh setiap manusia.
Hancurnya nama baik manusia dari sisi etika terjadi ketika dalam kakaryaan, manusia bukan menjadi produsernya secara mandiri. Mengapa? Sebab banyak dari manusia kini meminta AI memproduk karyanya itu. Contohnya, tidak sedikit mahasiswa atau dosen atau seniman meminta AI membuatkan makalah atau artikel ilmiah atau karya seni, lalu diklaim sebagai karyanya. Jadi AI yang bekerja, tapi kemudian diklaim sebagai hasil kerja keras dari manusia yang menjadi juragannya itu. Inilah yang disebut ketidakjujuran yang dinormalisasi.
Jika ini terus dijalankan, pasti akan berdampak besar bagi manusia: menumpulkan otaknya. Mengapa otaknya tumpul? Karena sering tidak digunakan. Apa akibatnya? Otak manusia yang tumpul tidak akan bisa memunculkan nalar sehat, waras dan cerdas. Apa akibat lanjutannya? Manusia yang malas itu tak akan mampu lagi berpikir kritis, kreatif dan inovatif, sebab seluruh kerja otaknya telah diambil alih AI. Wallahu a’lam bisshawab
Dosen STAIMABA Mojokerto