

Kita semua terlahir dengan naluri untuk berharap, bukan sekedar keinginan-keinginan kecil yang muncul sesaat. Lebih dari itu, harapan hadir sebagai wujud dari keinginan, cita-cita, dan doa yang sering kita bisikkan dalam diam.
Harapan itulah yang membuat kita yakin bahwa tujuan yang kita kejar bukanlah sesuatu yang sia-sia. Berulang kali tangan ini terangkat memohon, meyakini bahwa segala hal yang berada di luar kemampuan kita sepenuhnya berada dalam genggaman Allah yang Maha Mengabulkan. Namun tetap saja, rasa kecewa kadang muncul ketika apa yang diinginkan belum juga menjadi kenyataan.
Di era serba cepat ini, kita terbiasa melihat segala sesuatu datang tanpa perlu menunggu lama. Informasi hadir dalam hitungan detik, dan barang yang kita pesan bisa sampai di rumah hanya dalam beberapa jam kemudian.
Tanpa disadari, kebiasaan ini ikut memengaruhi cara kita memandang doa dan harapan. Kita mulai membayangkan bahwa jawaban dari Tuhan pun secepat arus hidup yang kita jalani. Dari sinilah kita keliru menempatkan keinginan sebagai kepastian.
Membiarkan keinginan yang belum kita upayakan berubah menjadi sekedar angan, lalu dengan tergesa-gesa menafsirkannya seolah itu janji yang pasti dikabulkan Tuhan. Maka ketika permohonan itu tidak terwujud, kita pun merasa dikecewakan, seakan Tuhan tidak mengindahkan doa-doa yang kita panjatkan.
Dalam banyak hal, doa sesungguhnya bukan hanya permintaan, ia adalah bentuk penyerahan diri. Doa mengajarkan kita bahwa hidup tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Ada batasan yang melekat pada diri kita, dan batasan itu bukan kelemahan, melainkan penanda bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar mengatur segala sesuatu yakni Allah SWT.
Keyakinan bahwa Allah memiliki sifat Al-Mujib, tidak berarti bahwa setiap yang kita inginkan harus terjadi persis seperti bayangan kita. Pengabulan bukan selalu berbentuk pemberian, terkadang ia hadir dalam bentuk penundaan, penggantian, bahkan perlindungan dari sesuatu yang sebenarnya tidak baik bagi kita.
Oleh karena itu, ketika doa belum berwujud nyata, sikap tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan hanya akan memperdalam luka. Menyalahkan Allah atas doa yang belum terjawab sama saja seperti menilai sebuah buku hanya dari sampulnya saja. Kita terlalu cepat untuk memahami makna yang sebenarnya.
Yang sering kita lupakan adalah bahwa harapan yang kita titipkan kepada Tuhan tidak pernah sia-sia. Mungkin bentuknya berbeda, mungkin waktunya belum tepat, atau mungkin Allah sedang menyelamatkan kita dari sesuatu yang hanya Ia yang tahu. Justru dalam ketidaktahuan itulah letak keimanan kita diuji.
Bukankah sering kita hanya mengingat Tuhan saat ada permintaan mendesak? kita datang dengan sekantong penuh harapan, tetapi lupa meninggalkan rasa syukur. Jika kegagalan harapan membuat kita menyalahkan-Nya, itu menunjukkan bahwa dasar hubungan kita masih berupa transaksi. Seolah-olah ”beri aku, maka aku akan patuh”. Kekecewaan seharusnya bukan menjadi alasan untuk kita berhenti berusaha dan berharap kepada-Nya.
Belajar membedakan antara harapan dan angan berarti belajar jujur pada diri sendiri. Harapan sejati adalah permintaan yang dimulai dengan doa dan harus kita perjuangkan dengan segala potensi kita dengan dibarengi tawakal, penyerahan total yang baru muncul setelah ikhtiar maksimal.
Ketika pilar ikhtiar ini roboh karena kemalasan. Doa kita memang sudah dipanjatkan tetapi jika tidak ditopang dengan usaha hanyalah bayangan yang lahir dari keinginan sesaat tanpa pijakan. Dan ketika kita mampu mengenali batasnya, kita tidak lagi mudah menyalahkan takdir ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan.
Pada akhirnya, tidak ada doa yang sia-sia selama ia dipanjatkan dengan hati yang tulus. Tidak ada harapan yang hilang selama kita memahami bahwa Allah SWT mengabulkan dengan cara yang lebih luas dari imajinasi kita. Menghadapi hidup dengan harapan adalah keberanian, tetapi menerima hasilnya dengan keikhlasan adalah kebijaksanaan.
Mungkin di situlah letak kedewasaan dalam beriman, dengan memahami bahwa Allah bukan sekadar pemberi harapan, dialah Al-’Alim yang mengetahui kapan waktu terbaik bagi setiap permintaan kita. [AA]
Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya