Flexing Keilmuan: Mengembalikan Gengsi kepada Ilmu

Ilustrasi flexing keilmuan sebagai upaya menggeser gengsi dari kemewahan menuju ilmu, karya, dan pengabdian.

Ada zaman ketika kewibawaan seorang kiai dibangun oleh kedalaman ilmu, ketajaman nalar, kesederhanaan laku, dan keberanian menyampaikan kebenaran. Masyarakat datang kepadanya bukan karena atribut materi yang melekat padanya-seperti kendaraan yang ditumpangi atau pakaian yang dikenakan­-namun, karena ilmu yang ia miliki, atau bahkan sekedar untuk mendapat ketenangan sejenak dari riuhnya problematika kehidupan melalui petuah-petuahnya.

Cara masyarakat memandang dan mengenali tokoh agama tentu tidak berhenti pada pola semacam itu. Kini, zaman berubah, demikian pula ruang tempat kewibawaan keagamaan dibentuk dan dipertontonkan.  Jika dulu, seorang kiai dikenal melalui pengajian, pesantren, atau majlis-majlis lain yang mempertemukan langsung antara ia dan jamaah, kini ia  juga hadir di ruang digital yang dapat menjangkau jutaan orang.

Kiai, Gus, Ning, ustaz, atau sebutan apapun yang disematkan pada tokoh agama, turut hadir di ruang digital tidak hanya menyampaikan ilmu dan nasihat keagamaan, tetapi pada saat yang sama juga tampil sebagai figur publik yang citranya dapat dilihat, diikuti, dan dinilai oleh khalayak luas

Perubahan ruang tersebut tentu membawa banyak manfaat bagi kegiatan dakwah karena dapat dengan mudah menjangkau khalayak yang lebih luas luas, tetapi bersamaan dengan itu, godaan popularitas bagi mereka juga semakin terbuka. Di antara konten kajian dan nasihat agama yang disampaikan, berseliweran pula citra kemewahan serta gaya hidup yang terkadang lebih menyerupai pertunjukan status daripada pesan pencerahan.

Tentu, tidak setiap kemewahan adalah dosa. Tidak setiap tokoh yang memiliki kekayaan sedang menyombongkan diri. Persoalannya bukan terletak pada ada atau tidaknya kemewahan, melainkan pada apa yang kemudian menjadi dasar kewibawaan seorang tokoh agama di mata umat.

Ketika simbol-simbol materi semakin sering hadir dalam representasi seorang tokoh, pertanyaan yang patut diajukan adalah: ketika simbol kemewahan semakin dominan dalam citra tokoh agama, ke mana arah otoritas keilmuan dan keteladanannya?

Pertanyaan itu penting bukan untuk menghakimi kehidupan pribadi seorang tokoh agama, melainkan untuk mengingat kembali hakikat kewibawaan keagamaan. Sebab, dakwah adalah tentang seberapa jauh ilmu dan keteladanan mampu memberi arah bagi kehidupan umat, bukan sekadar tentang seberapa banyak orang yang melihat, mengikuti, atau mengenal seorang tokoh.

Masyarakat memang membutuhkan tokoh yang dikenal. Tetapi lebih dari itu, umat membutuhkan tokoh yang berilmu, memberi teladan, dan mencerahkan.

Di sisi lain, media sosial bekerja dengan logika perhatian sehingga apa yang dianggap menarik mata, mengundang rasa ingin tahu, dan memancing interaksi akan lebih mudah beredar. Dalam ekosistem semacam ini, kemewahan dapat berubah menjadi komoditas visual.

Bagaimanapun, seorang tokoh agama tentu tidak berada di luar mekanisme tersebut. Mereka juga manusia yang hidup dalam masyarakat, memiliki kebutuhan, jaringan, dan pilihan gaya komunikasi. Akan tetapi, ketokohan dalam bidang agama di sisi lain juga membawa tanggung jawab tambahan.

Ketika seorang tokoh agama menampilkan gaya hidup tertentu, publik tidak selalu melihatnya sebagai pilihan personal semata. Sebagian orang bisa jadi membacanya sebagai representasi nilai agama dan keberhasilan komunitasnya.

Di sinilah persoalannya menjadi lebih rumit. Jika dakwah terlalu larut dalam apa yang disebut sebagai ‘ekonomi perhatian’, ilmu berisiko berubah menjadi ornamen, sedangkan popularitas menjadi tolak ukur utama kewibawaan. Padahal, jumlah pengikut, misalnya, bukan ukuran kedalaman ilmu dan kemuliaan akhlak.

Flexing Keilmuan: Mengembalikan Gengsi kepada Ilmu

Jika budaya flexing tidak dapat dihapus dari budaya manusia, saya kira  orientasinya yang perlu digeser ke arah keilmuan. Maksudnya, menggeser kebanggaan seseorang pada  kedalaman ilmu, ketajaman berpikir, banyaknya karya, dan kontribusi nyata kepada masyarakat, bukan lagi memamerkan kemewahan.

Bayangkan jika media sosial para tokoh agama dipenuhi diskusi kitab yang argumentatif, penelitian tentang kemiskinan, kajian ekonomi umat, pengembangan pesantren, pemberdayaan zakat, pendidikan anak muda, serta dialog lintas disiplin yang mencerdaskan.

Inilah flexing yang memiliki daya transformasi. Tentu hal ini tidak semata-mata berpijak pada sudut pandang bahwa  ilmu harus dipamerkan, tetapi lebih pada aspek bahwa masyarakat perlu melihat bahwa belajar, berpikir, meneliti, dan mengabdi juga layak menjadi simbol prestise.

Kiranya, generasi muda kita membutuhkan figur yang membuat mereka bangga menjadi seorang yang hobi membaca atau pembelajar sepanjang hayat.

Bagaimanapun, flexing keilmuan pun bukan tanpa jebakan. Bisa jadi mereka yang fasih menyampaikan dalil belum tentu mampu menghayati penderitaan masyarakat atau mereka memamerkan gelar dapat pula terperangkap dalam kesombongan intelektual.

Karena itu, flexing keilmuan harus dituntun oleh adab al-‘ilm: kejujuran, kerendahan hati, ketelitian, keterbukaan terhadap kritik, dan tanggung jawab sosial. Pada titik ini, keilmuan tidak berhenti pada seberapa banyak seseorang tahu, melainkan bagaimana pengetahuan itu mengubah cara ia memperlakukan manusia.

Muruah Ulama di Era Digital

Dalam tradisi Islam, muruah bukan sekadar penampilan yang terhormat. Ia menyangkut integritas, kehormatan diri, dan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai kebaikan. Muruah seorang tokoh agama selayaknya dibangun atas dasar kebenaran, ketulusan, ketekunan, dan kesediaan mempertanggungjawabkan perkataannya. Sebaliknya, muruah tidak semestinya ditentukan oleh hal-hal bersifat materiil yang melekat padanya.

Maka, persoalan kita bukan perang antara tokoh agama kaya atau tokoh agama sederhana. Yang perlu dikritisi adalah ketika kemewahan menjadi pusat identitas, sementara keilmuan, keteladanan, dan kepedulian sosial kehilangan ruang.

Sudah saatnya kita membangun budaya baru dalam kehidupan keagamaan. Budaya yang tidak hanya mengagumi siapa yang paling viral, tetapi juga menghargai siapa yang paling tekun mengajar. AKhirnya, flexing keilmuan bukan ajakan untuk mengubah ilmu menjadi pertunjukan kesombongan. Sebaliknya, ia justru merupakan seruan agar pengetahuan, karya, dan pengabdian kembali memiliki tempat terhormat dalam imajinasi sosial umat. Karena, ukuran kebesaran seorang tokoh agama bukan seberapa tinggi ia terlihat di mata manusia, melainkan seberapa banyak manusia yang tercerahkan melalui ilmu dan keteladanannya.

0

Dekan FEBI, UIN Ponorogo. Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PD. Muhammadiyah Tulungagung

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.