Jangan Cibir Kaesang Karena Pacaran Memang Tak Harus Kawinan

Kemesraan Kaesang Pangarep dan Felicia Tissue yang terlihat dari unggahan foto-fotonya telah menghanyutkan ribuan orang. Kita seperti meletakkan diri di dalam kisah romantis itu. Saat mereka saling berkirim salam rindu melalui akun media sosialnya karena terjebak pandemi, kita kegirangan layaknya orang yang lagi kasmaran. Kita begitu bergairah menanyakan kapan menikah, seakan kita sendirilah yang tengah mempersiapkan resepsi pernikahan kita.

Jalinan cinta romantis mereka adalah impian kita tentang begitulah seharusnya pasangan kekasih menjalani hari-harinya: berbagai cinta dan kemesraan; saling memberi dukungan; menghabiskan waktu bersama dengan indah; dan menciptakan momentum lucu-lucuan untuk dikenang di hari tua.

Kaesang Pangarep dan Felicia Tissue adalah kita. Kalau bukan karena Kaesang putra Jokowi yang keberadaannya sebagai presiden menciptakan barisan sekutu-pemuja dan lawan-pembenci, mungkin semua orang yang mengikuti kisah cinta Kaesang-Felicia akan berada dalam satu kubu: turut bahagia dan mendoakan mereka berlabuh di dermaga pernikahan yang mengikatnya hingga tua. Begitulah perasaan cinta yang ada di dalam diri kita, membuat kita  menjadikan kisah cinta mereka berdua sebagai cermin diri untuk memproyeksikan siapa kita dan apa yang kita impikan tentang pasangan dalam hidup ini.

Karena itulah, maka ketika ada berita bahwa mereka putus, hampir semua orang tidak rela. Kok bisa mereka putus? Apa yang salah? Bukannya cinta seharusnya bisa menghadapi besarnya gelombang? Bukankah cinta seharusnya cukup kuat untuk memecahkan baru karang. Gunung setinggi apa yang tidak bisa didaki oleh pecinta? Jika ini karena perbedaan, bukankah cinta adalah ramuan paling mujarab untuk menyatukan perbedaan? Apa yang salah? Apa…?

Jagad media ramai karena kandasnya hubungan asmara seorang anak muda dengan gadis yang telah dipacarinya (konon) selama lima tahun. Tuduhan “ghosting” menjadikan ribuan orang semakin geregetan. Tentu saja ramai, lha wong si pemuda putra seorang presiden. “Salahnya” lagi, kisah ini terjadi di saat semua orang bisa menanggapi berita apa saja dan menjadi pencerita “seribu satu kisah” melalui akun media sosial masing-masing. Dan, ribuan penanggap-pencerita ini saling ngerumpi di kedai digital media sosialnya.

Ketidakrelaan terhadap putusnya sebuah jalinan cinta ini akhirnya menjadi semacam perasaan bersama.  Bahkan tidak sedikit orang-orang yang secara politik pro-Jokowi yang selama ini memuja apapun yang dilakukan Jokowi dan keluarganya, tak kuasa untuk melanjutkan pujiannya terhadap putra presiden itu. Cewek-cewek histeris membaca ratapan si gadis yang diputus cintanya setelah dipacari selama lima tahun dan dijanjikan akan dinikahi.

Cewek mana yang bisa terima terhadap kelakuan cowok seperti ini, sekalipun si cowok meminta putus baik-baik. Bahkan cewek yang secara politik mendukung Jokowi pun tidak rela. Ini persoalan cinta; persoalan hati perempuan; lebih penting dari perseteruan politik pilpres.

***

Begitulah saat ini kita menghayati makna cinta. Kita memujanya sebagai simbol keindahan abadi. Ribuan novel dan puisi tercipta dari perasaan ini. Sebegitunya kita menyakralkan cinta sebagai ikatan yang menyatukan antar-dua orang, sampai kita tidak bisa membayangkan bahwa ada sebuah pernikahan yang tidak dilandasi cinta. Begitu juga kita tidak bisa menerima pemisahan sejoli yang jatuh cinta dengan alasan apapun, bahkan agama sekalipun.

Suatu hari, ada seorang kawan bertanya: “Lebih mulia mana seseorang membuka pakaiannya dan melakukan hubungan seksual dengan orang yang tidak dicintainya tapi berstatus halal secara agama karena keduanya telah menikah, dengan orangnya membuka pakaiannya dan melakukan hubungan seksual dengan orang yang dicintainya, tapi tidak terikat dalam pernikahan?

Yang menarik bagi saya bukan pada jawabannya, tapi mengapa pertanyaan seperti ini muncul? Kesadaran zaman seperti apa yang membuat pertanyaan seperti ini lahir? Apakah jenis pertanyaan ini setua usia sejarah perkawinan? Apakah kisah bunuh diri pasangan kekasih yang tidak mendapat restu orang tua sudah terjadi sejak dulu ataukah hal baru. Jika kita semua yang saat ini sedang “mengalami kehancuran hati” karena putusnya hubungan asmara Kesang-Felicia hidup di abad ke-6 M, misalnya, akankah juga merasakan hal yang sama?

Sebuah pertanyaan hanya dimungkinkan muncul jika ia menjadi kesadaran zamannya. Cinta dan pernikahan adalah discourse (wacana) zaman ini. Cinta menjadi alasan utama dalam hubungan pernikahan adalah sebuah discourse. Sebagai discourse, ia tidak abadi.

Discourse adalah semacam kesadaran sebuah zaman. Dalam Discursive Struggles Within Social Welfare, Iara Lessa menjelaskan diskursus adalah “systems of thoughts composed of ideas, attitudes, courses of action, beliefs and practices that systematically construct the subjects and the worlds of which they speak” (Sistem pemikiran yang terdiri atas seperangkat ide, sikap, tindakan, keyakinan dan praktik yang secara sistematis mengkonstruksi subjek dan dunia yang dibicarakan). Secara sederhana, Ian Marsh mendefinisikan discourse sebagai “the way of talking and thinking which we use to make sense of the world and to communicate with one another” (Cara berbicara dan berpikir yang kita gunakan untuk memahami dunia dan untuk berkomunikasi dengan yang lain).

Dengan menggunakan pendekatan discursive pratices, kita bisa keluar dari mitos “subyek sadar” akan apa yang ditanyakan, katakan, dan lakukan ke penjelasan situasi historis di mana sebuah discourse beroperasi. Misalnya, dalam cara pandang kita terhadap cinta dan pernikahan, hal itu tidak bisa dipisahkan dari munculnya narasi romantic love di abad modern.

Sejarah pernikahan tidak selalu terkait dengan urusan cinta. Bahkan mengaitkan cinta dengan pernikahan adalah sesuatu yang baru dalam sejarah pernikahan. Kalau saat ini kita menangis bombay terhadap pernikahan yang tidak dilandasi cinta, itu karena kita hidup di era di mana diskursus pernikahan selalu dikaitkan dengan cinta. Di era dengan diskursus yang berbeda, cara kita menyikapi putusanya ikatan cinta Kaesang-Felicia mungkin dianggap sebagai abnormal.

Menurut Marina E. Adshade dan Brooks A. Kaiser dalam The Origins of the Institutions of Marriage, sejarah pernikahan berkembang sesuai dengan perkembangan peradaban manusia. Lembaga pernikahan lahir dari kepentingan untuk memastikan keturunan dan kebutuhan ekonomi. Dalam konteks kesadaran pernikahan seperti ini, di mana cinta? Cinta bisa sungguh-sungguh tidak masuk dalam perhitungan. Bagaimana bisa masuk dalam hitungan lha wong hubungan antara pernikahan dan cinta bukan menjadi kesadaran zamannya.

Lama kelamaan manusia mulai mendefinisikan ketergantungan antara pasangan yang menikah baik karena  urusan pengasuhan keturuann maupun kebutuhan ekonomi ini dengan sesuatu yang disebut “cinta”. Tapi sejak kapan cinta menjadi diskursus pernikahan?

Dalam The Origins of Marriage, si penulis menyatakan bahwa ide cinta romantis sebagai alasan utama pernikahan adalah sebuah “temuan” baru. Kalau dirunut ke belakang terjauh baru ditemukan di abad pertengahan. Yang menjadi role model-nya adalah kisah jatuh cinta seorang ksatria kepada permaisuri rajanya dalam kisah Sir Lancelot dan permaisuri Raja Arthur, Ratu Guinevere. Kisah ini pertama kali ditulis di akhir abad ke-12. Sejak itu kisah-kisah cinta romantis diproduksi dan menjadi kesadaran kita. Dalam jaring-jaring kesadaran tentang makna cinta dan pernikahan seperti itulah pertanyaan di atas tadi muncul.

Jadi, seindah apapun kisah cinta Kesang Pangarep dan Felicia Tissue, tidak harus menjadi alasan untuk lanjut ke pernikahan. Sebagaimanapun kita merasa tidak “ikhlas” dengan putusnya cinta mereka, jangan sampai lupa bahwa ibu-bapak kita mungkin dulu menikah tidak memiliki kesadaran tentang cinta-romantis. Kalau ada yang masih ngeyel bahwa bapak-ibu kita pada akhirnya menemukan cintanya, ingatlah itu karena kita berada dalam jaring-jaring diskursus cinta-romantis  sebagai alasan untuk menikah.

Dengan pendekatan discourse ini kita bisa menjelaskan mengapa kita ikut menangisi kandasnya kisah cinta putra sang Presiden. Padahal, cinta memang tak abadi. Cinta sebagai alasan menikah adalah temuan baru. Jangan mau dibohongi oleh novel hehehe…![mmsm]

2

Budayawan yang Tinggal di Sidoarjo

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.