



Setiap tahun, kampus memasuki sebuah ritual yang nyaris sakral: penerimaan mahasiswa baru (Maba). Namanya berganti-ganti, bisa Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PBAK), Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PKKMB), atau orientasi kampus. Namun polanya sering kali sama, mahasiswa baru dikumpulkan, dibariskan, diberi atribut, dijejali ceramah, diajak menyanyikan yel-yel, lalu ditanamkan berbagai doktrin tentang kampus.
Pertanyaannya sederhana, tetapi agak mengganggu: budaya akademik apa sebenarnya yang sedang kita kenalkan?
Sebab, ketika mahasiswa baru pulang dari kegiatan orientasi, dunia tidak lagi menunggu mereka di ruang kuliah. Dunia sudah berubah. Mereka memasuki kampus pada saat kecerdasan artifisial mampu menulis esai, membuat presentasi, menerjemahkan jurnal, merancang kode, menganalisis data, bahkan menciptakan gambar dan video yang sulit dibedakan dari kenyataan.
Namun ironisnya, pengenalan kehidupan kampus kita kadang masih berlangsung seperti teknologi belum pernah ditemukan. Kampus sedang menghadapi revolusi digital, tetapi calon mahasiswa baru masih diperkenalkan pada kampus dengan metode monolog.
Jangan Sibuk Mendrama, Ajari Mereka Membaca Zaman
Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan kegembiraan; tidak ada pula dosa dalam permainan, yel-yel, atau drama dalam ritual orientasi mahasiswa. Semua itu tetap memiliki tempat, terutama untuk membangun keakraban dan rasa memiliki. Namun, kegiatan tersebut menjadi bermasalah ketika mengambil porsi utama, sementara substansi budaya akademik justru terpinggirkan.
Mahasiswa baru seharusnya sejak hari pertama memahami bahwa kampus berbeda dari sekolah. Kampus bukan tempat menerima semua informasi sebagai kebenaran. Kampus adalah tempat mempertanyakan, menguji, membandingkan, membuktikan, dan bila perlu membantah dengan argumen.
Budaya akademik bukan budaya mengangguk kepada dosen, bukan pula budaya diam karena senior lebih dulu datang. Budaya akademik adalah keberanian mengatakan, “Saya belum yakin. Apa sumber datanya? Bagaimana metode penelitiannya? Adakah penjelasan lain?”
Di era AI, sikap semacam itu justru semakin penting. Sebab AI bisa memberikan jawaban yang terdengar sangat meyakinkan, lengkap dengan bahasa akademik dan daftar pustaka yang tampak ilmiah. Masalahnya, meyakinkan tidak selalu berarti benar.
UNESCO mengingatkan bahwa informasi dari AI generatif tidak boleh diterima begitu saja, melainkan harus dinilai secara kritis. Tantangan pendidikan karena itu bukan sekadar mengajarkan cara memakai AI, tetapi menjaga agar manusia tetap memiliki agensi, pertimbangan, dan tanggung jawab.
Maka, mungkin sudah waktunya kita mengubah orientasi: dari pengenalan gedung menuju pengenalan cara berpikir.
AI Literacy Bukan Sekadar Bisa Bikin Prompt.
Kesalahan berikutnya adalah menganggap mahasiswa yang melek AI ialah mahasiswa yang pandai memberi perintah kepada ChatGPT. Tentu, ttu terlalu sederhana.
Setidaknya, mahasiswa masa depan perlu memiliki sedikitnya lima kecakapan.
Pertama, literasi bertanya. Mahasiswa harus mampu merumuskan masalah. AI mungkin bisa membantu menjawab, tetapi ia tidak otomatis mampu menggantikan manusia dalam menentukan pertanyaan yang penting.
Kedua, literasi memverifikasi. Jangan percaya begitu saja kepada jawaban AI, media sosial, bahkan buku. Periksa sumbernya, bandingkan datanya, telusuri konteksnya.
Ketiga, literasi etika. Mahasiswa harus memahami kapan AI boleh digunakan, kapan harus disebutkan, bagaimana menjaga privasi dan data, serta di mana batas antara bantuan teknologi dan kecurangan akademik.
Keempat, literasi mencipta. AI jangan hanya dipakai untuk mempercepat tugas. Ia harus menjadi alat untuk memperluas kemungkinan berpikir, bereksperimen, memecahkan persoalan nyata, dan menghasilkan karya yang memiliki nilai.
Kelima, literasi manusia: empati, kolaborasi, komunikasi, keberanian moral, dan tanggung jawab. Justru ketika mesin semakin pintar, kecerdasan yang paling berharga adalah kecerdasan untuk tetap menjadi manusia.
UNESCO sendiri mendorong perguruan tinggi membangun kapasitas dan kerangka kompetensi AI secara lebih sistematis, bukan sekadar membuat aturan tambal-sulam atau sibuk mencari cara menangkap mahasiswa yang menggunakan AI.
Pendekatannya harus menyentuh pedagogi, keterampilan berpikir tingkat tinggi, pemecahan masalah, dan implikasi etis maupun sosial teknologi. PBAK harus menjadi laboratorium, bukan mimbar raksasa. Karena itu, PBAK perlu berani berubah.
Bayangkan jika sebagian sesi ceramah diganti dengan AI challenge. Mahasiswa baru diberi sebuah jawaban AI yang sengaja mengandung kekeliruan, lalu diminta membongkar kesalahannya. Mereka belajar mencari jurnal, memeriksa fakta, berdiskusi, dan mempertahankan argumen.
Atau mereka diberi masalah nyata: kemiskinan, sampah, pengangguran, intoleransi, krisis lingkungan, atau persoalan ekonomi lokal. Mereka boleh menggunakan AI, tetapi harus menunjukkan proses berpikir, sumber data, kelemahan jawaban AI, dan solusi mereka sendiri. Di situlah budaya akademik lahir.
Mahasiswa tidak hanya mendengar tentang critical thinking, tetapi dipaksa berpikir kritis. Tidak hanya diceramahi tentang integritas, tetapi dihadapkan pada dilema etis. Tidak hanya disuruh mencintai kampus, tetapi diajak melihat bagaimana ilmu kampus harus berguna bagi masyarakat.
PBAK seharusnya menjadi laboratorium pertama kehidupan akademik. Sebab kampus yang masih mengukur keberhasilan orientasi dari seberapa tertib Maba duduk berjam-jam mungkin sedang mendidik kepatuhan, bukan kecendekiaan.
Dari Mahasiswa Penonton Menjadi Mahasiswa Penguji.
Era AI juga memaksa kita mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: kalau mesin sudah bisa menjawab begitu banyak pertanyaan, lalu apa gunanya mahasiswa datang ke kampus?
Jawabannya bukan untuk sekadar mengumpulkan jawaban. Mahasiswa harus belajar menilai jawaban.
Bukan sekadar mengumpulkan informasi, melainkan membedakan informasi dan pengetahuan. Bukan hanya menghasilkan tulisan, tetapi mempertanggungjawabkan gagasan. Bukan hanya pandai menggunakan teknologi, tetapi memahami dampak teknologi terhadap manusia.
Karena itu, ancaman terbesar AI sebenarnya bukan mahasiswa menjadi terlalu bergantung pada mesin. Ancaman yang lebih besar adalah ketika kampus sendiri tidak berubah, sementara dunia di luar kampus berubah dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Jangan sampai kita mendidik mahasiswa untuk lulus di masa depan dengan budaya akademik dari masa lalu.
Mahasiswa baru tidak membutuhkan lebih banyak doktrin. Mereka membutuhkan kompas intelektual: rasa ingin tahu, keberanian meragukan, disiplin mencari bukti, integritas dalam berkarya, kecakapan digital, dan keberanian menggunakan teknologi tanpa menyerahkan akalnya kepada teknologi.
AI boleh semakin cerdas. Tetapi kampus tidak boleh puas hanya membuat mahasiswa semakin patuh.
Tugas perguruan tinggi hari ini bukan mengajari Maba agar takut salah. Tugasnya adalah membuat mereka cukup cerdas untuk tahu mengapa sebuah jawaban bisa salah, termasuk jawaban dari AI, dosen, buku, penguasa, bahkan dirinya sendiri.
Dan mungkin, di situlah pengenalan budaya akademik yang sesungguhnya harus dimulai.
Dekan FEBI, UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo