Salat, Panopticon, dan Kesadaran bahwa Allah Selalu Mengawasi

Ilustrasi hubungan antara salat, konsep panopticon, dan kesadaran seorang Muslim bahwa Allah selalu mengawasi kehidupannya.

Saya teringat pada Jeremy Bentham dan gagasannya tentang panopticon: sebuah desain penjara dengan menara pengawas di tengah dan sel-sel narapidana yang mengelilinginya. Dari menara itu, pengawas dapat melihat para narapidana, sementara para narapidana tidak pernah benar-benar tahu kapan mereka sedang diawasi (Bentham, 1791).

Yang menarik, kekuatan panopticon bukan semata-mata terletak pada keberadaan pengawas. Justru sebaliknya. Para narapidana akan tetap berperilaku seolah-olah sedang diawasi, bahkan ketika mereka tidak tahu apakah ada orang di menara itu atau tidak .

Michel Foucault kemudian menggunakan gagasan ini untuk menjelaskan bagaimana kekuasaan bekerja. Kekuasaan yang efektif tidak selalu harus hadir dalam bentuk larangan, ancaman, atau hukuman. Ia menjadi jauh lebih kuat ketika pengawasan telah masuk ke dalam kesadaran seseorang. Manusia akhirnya mengawasi dirinya sendiri (Foucault, 1975).

Saya ingin meminjam gagasan itu untuk melihat sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan seorang Muslim yakni, salat.

Tentu saja, salat bukan penjara dan Allah bukan sipir. Analogi ini bukan untuk menyamakan keduanya. Justru sebaliknya, ada perbedaan mendasar di antara keduanya. Panopticon bekerja melalui rasa takut terhadap pengawasan, sementara salat idealnya bekerja melalui kesadaran bahwa manusia selalu berada dalam pengawasan dan kasih sayang Allah.

Namun, ada satu hal yang menarik untuk dipertemukan: keduanya sama-sama membentuk kesadaran tentang “diawasi”.

Bedanya, jika panopticon membuat seseorang menahan diri agar tidak melakukan pelanggaran karena merasa diawasi, salat seharusnya membuat seorang Muslim menata hidupnya karena sadar bahwa Allah selalu hadir dalam kehidupannya.

Karena itu, salat lima waktu sebenarnya bukan sekadar lima kewajiban yang tersebar di sepanjang hari. Ia seperti menara pengawas yang terus mengingatkan manusia agar tidak kehilangan arah.

Dari Subuh, manusia memulai aktivitasnya. Ia bekerja, belajar, mengurus keluarga, mengejar target, bertemu orang lain, berhadapan dengan berbagai kepentingan. Lalu datang waktu Dzuhur. Adzan memanggilnya berhenti sejenak. Ia meninggalkan kesibukan dan menghadap kepada Allah.

Beberapa jam kemudian, datang Ashar. Kembali manusia diingatkan. Kemudian Maghrib. Setelah itu Isya.

Ada hal yang sangat menarik di balik pola ini. Islam seolah tidak membiarkan manusia terlalu lama tenggelam dalam kesibukan dunia tanpa jeda untuk kembali mengingat siapa dirinya dan kepada siapa ia akan kembali.

Sebab persoalannya bukan bahwa manusia tidak boleh bekerja, mencari uang, membangun perusahaan, mengejar karier, menjadi terkenal, atau menikmati kehidupan. Semua itu bagian dari kehidupan manusia. Persoalannya adalah ketika alat untuk menjalani kehidupan berubah menjadi tujuan kehidupan itu sendiri.

Di sinilah salat menjadi penting. Kita bisa sangat cemas ketika perusahaan mengalami kerugian. Kita bisa panik ketika kehilangan pekerjaan. Kita bisa gelisah ketika jumlah pengikut di media sosial menurun. Kita bisa berhari-hari memikirkan masa depan, reputasi, jabatan, kekayaan, dan berbagai urusan dunia.

Tetapi pernahkah kita merasa gelisah karena meninggalkan salat? Pertanyaan ini mungkin lebih mengganggu daripada yang kita kira.

Sebab bisa jadi masalah terbesar kita bukan karena terlalu sibuk dengan dunia. Masalahnya adalah kita mulai menganggap dunia sebagai pusat kehidupan, sementara salat hanya menjadi selingan di antara kesibukan dunia itu.

Padahal, jika dilihat dari perspektif Islam, justru sebaliknya. Salatlah yang semestinya menjadi pusat, sementara aktivitas dunia berada di antara waktu-waktu salat.

Kita bekerja di antara dua waktu salat. Kita belajar di antara dua waktu salat. Kita mengurus keluarga di antara dua waktu salat. Kita membangun bisnis, mengejar karier, beristirahat, bahkan menikmati kehidupan di antara waktu-waktu ketika kita kembali menghadap Allah.

Dengan cara pandang seperti ini, salat tidak lagi sekadar kewajiban yang harus “diselesaikan”. Ia menjadi penanda arah kehidupan.

Mungkin inilah sisi paling menarik dari salat: ia tidak hanya mengatur waktu, tetapi juga mengatur kesadaran.

Adzan mengingatkan kita bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada pekerjaan yang sedang kita kerjakan. Ada sesuatu yang lebih penting daripada uang yang sedang kita kejar. Ada sesuatu yang lebih tinggi daripada popularitas yang sedang kita bangun.

Kita berhenti lalu meninggalkan apa yang sedang kita lakukan. Kita berdiri, lalu kita bersujud. Dalam sujud itu, manusia yang sepanjang hari sibuk mengejar banyak hal kembali ditempatkan pada posisi yang paling mendasar yakni sebagai seorang hamba.

Karena itu, mungkin kita perlu membalik cara kita memahami salat. Bukan salat yang menjadi jeda di antara kesibukan hidup, tetapi kehidupanlah yang justru seharusnya menjadi jeda di antara waktu-waktu salat.

Jika panopticon Bentham membuat manusia merasa selalu diawasi oleh kekuasaan, salat seharusnya membuat seorang Muslim sadar bahwa tidak ada satu pun ruang dalam hidupnya yang benar-benar berada di luar pengawasan Allah. Selain itu, salat menjadi pengingat agar kita tidak kehilangan jalan pulang.

Dengan sudut pandang demikian, maka pertanyaannya bukan lagi “Apakah Allah sedang mengawasi saya?” Namun lebih pada “Apakah saya masih hidup dengan kesadaran bahwa Allah sedang mengawasi saya?” [AA]

0

Dose Fakultas Syari’ah dan Hukum, UIN Sunan Ampel Surabaya

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.