



Menjelang Muktamar NU di Tambakberas, Jombang, perhatian kembali tertuju pada organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini. Namun, Nahdlatul Ulama (NU) yang saya kenal hari ini bukan lagi NU yang semata-mata dapat dibaca melalui kategori lama: tradisional. Dulu, kategori itu mungkin memiliki dasar sosiologis yang cukup kuat. Namun, sejarah tidak pernah berhenti pada sebuah tipologi.
Dalam perjalanannya, NU telah tumbuh melampaui kategori yang dahulu dilekatkan kepadanya sehingga mempertentangkan NU dalam kotak “tradisional versus modern” kini terasa semakin kurang memadai.
NU hari ini adalah fenomena sosial yang jauh lebih kompleks. Ia dapat berbicara dengan bahasa kitab kuning, tetapi juga memasuki ruang-ruang diplomasi global. Ia kuat di desa, tetapi semakin hadir di pusat-pusat pengetahuan, ekonomi, politik, dan pergaulan internasional.
Singkatnya, NU semakin menggurita. Menggurita faktanya bukan selalu berarti telah terorkestrasi. Di sinilah, menurut saya, salah satu tantangan besar NU ke depan.
Tradisi yang Bertahan, Dunia yang Berubah
Kekuatan terbesar NU selama ini justru terletak pada kemampuannya mempertahankan kesinambungan. Dalam dunia yang serba berubah, NU memiliki akar yang kuat pada tradisi keilmuan pesantren, otoritas keagamaan kiai, jaringan sosial, serta kedekatan dengan masyarakat telah menciptakan modal sosial yang tidak mudah dibangun dalam waktu singkat.
Tetapi dunia digital membawa jenis perubahan yang berbeda. Dahulu, otoritas dibangun melalui proses panjang: belajar, mengabdi, berkhidmat, berdakwah, hidup bersama masyarakat, dan mengalami kerasnya pergulatan kehidupan. Seorang tokoh lahir dari perjalanan. Kharisma tidak cukup diproduksi; ia ditempa.
Kini, media sosial dapat mempercepat kelahiran tokoh. Popularitas kadang mendahului kedalaman. Glorifikasi dapat datang sebelum pengabdian teruji. Algoritma mampu mengangkat seseorang menjadi figur publik dalam hitungan hari, sesuatu yang dahulu membutuhkan puluhan tahun perjalanan dakwah.
Inilah perubahan besar yang sedang dihadapi hampir semua organisasi keagamaan, termasuk NU. Kepemimpinan kharismatik yang dahulu bertumpu kuat pada ketokohan spiritual dan kedalaman sosial para kiai khos menghadapi proses transformasi. Kharisma tidak hilang begitu saja, tetapi sumber pembentukannya sedang berubah. Namun kadang kejahatan media sosial mampu meruntuhkan kharisma seorang ulama jauh ke dasar Sejarah.
Pertanyaannya bukan apakah NU harus mempertahankan tradisi atau mengikuti modernitas. Pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana tradisi yang kaya itu dapat menjadi sumber daya untuk menghadapi zaman yang sama sekali baru?
Di tengah media sosial yang serba terbuka, liberal, cepat, dan sering kali brutal, membangun kohesi ideologis juga semakin rumit. Fanatisme memang dapat menjadi energi solidaritas, tetapi ia juga harus terus dididik agar tidak berubah menjadi penutupan diri. Kesetiaan kepada organisasi tidak boleh menghilangkan kemampuan untuk berpikir kritis. Sebaliknya, keterbukaan terhadap dunia tidak harus berakhir pada hilangnya akar. Di sinilah kedewasaan sebuah organisasi diuji.
Potensi Besar yang Belum Seluruhnya Menjadi Kekuatan Bersama
NU memiliki sumber daya yang sangat besar. Jaringan sosialnya luas. Basis massanya kuat. Institusi pendidikan terus berkembang. Kalangan cendekiawan semakin banyak. Keterlibatan dalam politik cukup luas. Pengaruh internasionalnya pun semakin terasa. Bayangkan, seorang raksasa yang sedang duduk santai tiba-tiba bangkit dan berjalan, pasti menjadi pusat perhatian dunia.
Tetapi besarnya potensi tidak otomatis menghasilkan besarnya daya pengaruh.
Organisasi sebesar NU membutuhkan kemampuan menghubungkan titik-titik kekuatannya. Pesantren, kampus, sekolah, para profesional, akademisi, ulama, pelaku ekonomi, politisi, dan jaringan diaspora tidak cukup hanya tumbuh secara alami. Mereka membutuhkan orkestrasi yang mengubah potensi menjadi pengaruh yang berdampak.
Ada perbedaan antara organisasi yang besar dengan organisasi yang mampu menggunakan kebesarannya secara strategis.
Potensi NU selama ini terus tumbuh, baik melalui proses alamiah maupun melalui berbagai dinamika sosial politik. Pertumbuhan itu merupakan kekuatan. Namun pada saat yang sama, ia menuntut tata kelola yang semakin canggih.
Tantangan masa depan NU, karena itu, bukan semata mempertahankan kebesarannya. Yang lebih penting adalah mengubah kebesaran itu menjadi collective capacity – kemampuan bersama untuk memecahkan persoalan umat, bangsa, dan dunia.
Produsen Pakar Turats
Salah satu titik yang menurut saya sangat krusial adalah regenerasi pakar turats. Dunia pesantren telah melahirkan banyak ulama besar dengan penguasaan mendalam terhadap khazanah Islam klasik. Tetapi tuntutan zaman ke depan semakin berat.
Dunia membutuhkan ulama dan cendekiawan yang tidak hanya mampu membaca kitab, tetapi juga mampu mempertemukan kekayaan turats dengan persoalan kontemporer. Persoalan teknologi, ekonomi, geopolitik, lingkungan, dan perubahan sosial menuntut kemampuan pembacaan baru.
Kita tidak sedang kekurangan orang yang dapat berbicara tentang Islam. Yang semakin langka adalah mereka yang memiliki kedalaman ilmu untuk berbicara atas dasar tradisi intelektual Islam yang kuat sekaligus memahami kompleksitas dunia modern dengan tawaran solusi cerdas.
NU, dengan tradisi pesantrennya, memiliki modal sangat besar untuk menjawab tantangan ini. Namun modal itu harus terus direproduksi. Pakar turats tidak lahir dari proses instan. Ia membutuhkan ekosistem pendidikan, ketekunan, kedisiplinan intelektual, penguasaan bahasa, sanad keilmuan, dan keberanian berdialog dengan persoalan zaman.
Jika regenerasi ini gagal, kita akan kehilangan salah satu sumber otoritas keilmuan Islam yang paling berharga. Tetapi jika berhasil, NU dapat menawarkan sesuatu yang sangat dibutuhkan dunia: Islam yang memiliki akar intelektual mendalam tanpa kehilangan kemampuan berbicara dengan masa depan.
Kemenangan Ideologis yang Perlu Dijaga dengan Kedewasaan
Di tengah berbagai dinamika, NU memiliki satu kekuatan yang sangat penting: kohesi ideologis warganya. Memang selalu ada riak. Ada tarikan ke luar. Ada persinggungan dengan beragam ideologi dan kepentingan.
Namun, basis ideologis NU secara umum memiliki daya tahan yang kuat. Identitas ke-NU-an tidak hanya berada pada struktur organisasi. Ia hidup dalam keluarga, pesantren, tradisi sosial, ritus keagamaan, jaringan kiai, dan memori kolektif. Inilah kekuatan yang tidak mudah diinfiltrasi.
Tetapi kemenangan ideologis tidak boleh membuat sebuah organisasi berhenti melakukan introspeksi. Justru organisasi yang kuat adalah organisasi yang cukup percaya diri untuk membuka ruang kritik. Fanatisme yang matang harus menghasilkan loyalitas yang produktif, bukan permusuhan terhadap perbedaan.
Indonesia membutuhkan NU yang kuat, tetapi kekuatan itu akan jauh lebih bermakna apabila melahirkan keluasan pandangan, keadaban, dan kemampuan merangkul.
Muktamar sebagai Momentum Orkestrasi
Muktamar bukan sekadar pergantian kepemimpinan melainkan momentum untuk membaca ulang arah perjalanan. Siapa yang terpilih tentu penting. Tetapi pertanyaan yang tidak kalah penting adalah: NU hendak menjadi apa dalam dua atau tiga dekade mendatang?
Apakah seluruh kekuatan yang telah tumbuh dapat diorkestrasi? Apakah pesantren dan perguruan tinggi dapat semakin terhubung? Apakah kekuatan ekonomi umat dapat dibangun lebih serius? Apakah lahir generasi baru pakar turats yang sekaligus menguasai isu global? Apakah digitalisasi dapat dijadikan alat penguatan ilmu dan pelayanan umat, bukan sekadar arena pertarungan popularitas?
Muktamar di Tambakberas, Jombang, karena itu, memiliki makna simbolik yang kuat. Tradisi dan masa depan bertemu di sana. Dari lingkungan pesantren yang kaya sejarah, NU akan kembali memikirkan masa depannya.
Tentu, setiap perhelatan besar selalu dikelilingi berbagai kepentingan, kontestasi, bahkan anasir-anasir negatif yang berusaha memanfaatkan momentum. Tetapi organisasi sebesar NU semestinya memiliki kedewasaan untuk tidak membiarkan dinamika internal berubah menjadi keretakan yang merugikan umat. Kemaslahatan dan masa depan organisasi harus tetap berada di atas kepentingan sesaat.
Sebagai seorang aktivis Muhammadiyah, saya melihat NU bukan sekadar sebagai organisasi lain. NU adalah bagian penting dari lanskap besar Islam Indonesia. Kuatnya NU, dalam banyak hal, adalah bagian dari kuatnya masyarakat Islam Indonesia. Begitu pula, kemajuan Muhammadiyah dan NU seharusnya tidak dibaca sebagai kompetisi untuk saling meniadakan, melainkan sebagai energi peradaban yang dapat saling melengkapi.
Muhammadiyah dengan gerakan pembaruannya dan NU dengan kekuatan tradisi serta akar sosialnya telah memberi warna besar bagi Indonesia. Keduanya mungkin memiliki corak, pendekatan, dan penekanan yang berbeda. Tetapi Indonesia membutuhkan keduanya tetap sehat, dewasa, dan berkemajuan.
Maka, kepada seluruh keluarga besar Nahdlatul Ulama, selamat bermuktamar di Tambakberas, Jombang.
Semoga Muktamar berjalan lancar, aman, teduh, dan bermartabat. Semoga perbedaan tidak memecah, kontestasi tidak melukai, dan pilihan-pilihan yang lahir benar-benar berpihak pada kemaslahatan.
Lebih dari itu, semoga Muktamar ini melahirkan orkestrasi baru bagi seluruh potensi besar NU. Sebab jika kekuatan yang selama ini tumbuh dan menggurita itu mampu dipertemukan dalam satu visi besar, NU bukan hanya akan tetap menjadi raksasa sosial-keagamaan Indonesia. Ia dapat bangkit sebagai kekuatan peradaban yang ikut memajukan Islam, Indonesia, dan dunia.
Selamat bermuktamar. Semoga dari Tambakberas lahir bukan sekadar keputusan organisasi, melainkan cahaya yang mencerahkan dunia.
Dekan FEBI, UIN Ponorogo. Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PD. Muhammadiyah Tulungagung