



Siapa saat ini yang tidak mengenal Kyai Bahauddin Nursalim, atau yang populer dipanggil Gus Baha. Beliau sendiri bukan ustadh yang wara-wiri di TV atau sengaja membuat akun youtube untuk menaikkan popularitasnya. Bahkan, beliau tidak memiliki nomor whatsapp, satu aplikasi pesan lintas platform yang bisa dikatakan wajib dimiliki semua orang saat ini.
Di berbagai kesempatan, beliau “melarang” orang-orang yang ingin bertamu ke rumahnya. Beliau juga “menolak” undangan ceramah dari pihak yang tidak memiliki hubungan “lebih tua” darinya. Jadi, betapa manusia ini mengambil langkah “sunyi” untuk sepenuhnya konsentrasi mengajar ngaji para santrinya, baik di pesantrennya peninggalan orang tuanya, Pesantren Tahfidzul Qur’an Lembaga Pembinaan Pendidikan Pengembang Ilmu Al-Qur’an (LP3IA), Narukan, Kragan, Rembang, maupun jadwal mengajar di beberapa pesantren yang memang sudah sangat padat.
Tapi lihatlah, berapa akun medsos yang didedikasikan oleh para muhibbinnya (penggemarnya) untuk menyiarkan pengajian-pengajiannya. Ada Ngaji Ben Aji, Kalam Kajian Islam, Santi Ndalan, Santri Ngaji Kyai, Santri Nusantara, dll. Setiap akun yang hanya berbekal “direstui Gus baha” baik restu langsung maupun restu asumsi ini memiliki subscriber ribuan dengan viewer jutaan. Jadi, betapa populernya Gus Baha saat ini di telinga para pendengar Muslim. Tua dan muda.
Pada tahun 2019, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan Pusat Kajian Pengelolaan Negara dan Kewarganegaraan Universitas Airlangga (Center For Statecraft and Citizenship Studies) melakukan survei terhadap 1.000 orang siswa SLTA se-Jawa Timur. Salah satu hasilnya menempatkan Gus Baha sebagai tokoh Islam panutan nomor 8 (4,8%) di kalangan siswa SLTA Jawa Timur. Sekedar pembanding, nama Kiai Said Aqil Siradj (Ketum PBNU) dan Kiai Haidar Nasir (Ketua PP Muhammadiyah) hanya menempati urutan ke-14 dan 15 dengan persentase 1,2 dan 1,0.
Di tahun 2020, INFID melakukan survey di kalangan pemuda usia 18-30 tahun di enam Kota Besar Indonesia (Surabaya, Surakarta, Bandung, Yogyakarta, Makassar, dan Pontianak), dengan total sampel 1.200 responden. Pada survei ini, nama Gus Baha berada di urutan kedua (18,1%), jauh meninggalkan tokoh-tokoh seperti Quraisy Syihab, Said Aqil Siradj, dll.
Pertanyaannya adalah mengapa Gus Baha sangat digandrungi banyak kalangan? Pengajian-pengajiannya diakses lintaskelompok, lintasumur, lintasprofesi, bahkan mungkin lintaskeyakinan.
Pada tahun 2019, Hasanuddin Ali dkk melakukan survei Kehidupan Keberagamaan Umat Islam Indonesia. Banyak hal menarik dalam survei ini. Muslim Indonesia sedang menghadapi tumbuhnya generasi baru Muslim yang jumlahnya mencapai 30 juta ditahun 2020. Generasi Muslim baru ini adalah generasi millenial, urban, dan middle class. Mereka memiliki karakter tech savvy (kecanggihan dalam bidang teknologi), relijius, modern, dan memiliki daya beli yang tinggi.
Lahirnya generasi baru Muslim ini perlu dilihat dengan cermat. Secara umum, mayoritas umat Islam Indonesia berpendapat bahwa agama sangat penting bagi kehidupan mereka sehari-hari. Bagi generasi yang lebih muda, salah satu sumber informasi keagamaan penting adalah internet.
Salah satu hal menarik dari survei ini adalah tentang faktor yang menjadi alasan seseorang dalam memilih ustadh. Tiga faktor tertinggi adalah memiliki rujukan agama yang kuat; mampu menjawab berbagai pertanyaan; tegas; dan lucu atau humoris. Silakan gabungkan faktor-faktor ini dengan sumber informasi keagamaan di kalangan anak muda, kita akan menemukan sosok Gus Baha. Karena Gus Baha mengikhlaskan setiap penggemarnya untuk merekam dan mengupload pengajian-pengajiannya tanpa ribet urusan hak cipta, maka pengajian Gus Baha bisa menjadi gerakan sosial keagamaan berskala massif berbasis media sosial.
Yang paling diingat khalayak yang mendengar atau melihat pengajian-pengajian Gus Baha adalah kekuatan rujukan ilmu-ilmu keislamannya. Beliau adalah sedikit dari ulama yang hafal al-Qur’an, hafal kitab-kitab hadits, memahami secara mendalami ilmu-ilmu tafsir dan hadits, menguasai secara mendalam fiqh Islam dan berbagai ilmu pendukungnya dari berbagai mazhab. Rujukan-rujukan ke kitab-kitab keislaman klasik yang ditulis para ulama otoritatif nyaris bisa disebutkan diluar kepala.
Karena kemampuannya ini, setiap pertanyaan yang diajukan ke dirinya bisa dijawab dengan tegas disertai rujukan dalil-dalil yang meyakinkan. Satu hal yang tidak dimiliki para ustadh lain yang saat ini berseliweran di youtube adalah kemampuannya dalam memadukan rasio dan dalil-dalil agama, sehingga jawaban itu bisa diterima oleh Muslim urban-middle class-educated yang menuntut jawaban atas berbagai persoalan keagamaan secara rasional sekaligus tetap berpijak pada keyakinan keislamannya.
Dan yang tidak kalah pentingnya adalah cara Gus Baha dalam menyampaikan Islam dengan santai, rileks, dan penuh humor. Tidak jarang “Ruhin” dan “Musthofa”, dua santrinya yang paling terkenal di seantero jagad medsos, menjadi “korban” kejailan gurauannya. Di berbagai kesempatan, dia menyampaikan bahwa adalah penting orang bisa merasakan nyaman dalam berislam. Membuat orang merasa nyaman dengan berislam itu penting karena itu akan membuat orang tidak mencari kenikmatan dengan melakukan kemaksiatan.
Ya, sesantai itulah Islam di tangan Gus Baha, seorang kiai yang alim (memiliki kedalaman ilmu), kesederhanaan hidup, dan keyakinan yang mendalam terhadap keislamannya.[mmsm]
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam dan Senior Advisor Jaringan GUSDURian