



Sebelumnya: Jangan Panggil Barbar (1)
Pada 29 April 711M / 5 Rajab 92H, Musa b. Nusair memerintahkan Tariq dan 7000 tentara mayoritas dari Barbar untuk menyerang Andalus. Setelah berhasil menyeberang dan menduduki kota-kota kecil di pesisir, Roderick penguasa setempat mengutus tentara dengan jumlah yang sangat besar: 100.000.
Mengetahui datangnya tentara sebanyak itu, Musa b. Nusair mengirim bala tentara tambahan, 5.000. Terjadilah peperangan dahsyat pada 19 Juli 711M / 28 Ramadan 92H yang dimenangkan oleh tentara Muslim. Disebutkan bahwa Tariq sendiri yang membunuh Roderick dengan tombak yang dia lesakkan tepat mengenai Roderick. Keberhasilan Tariq merebut Andalusia sekaligus mengantarkannya menjadi penguasa de facto di sana
Setelah 5 abad, al-Idrisi, penulis sejarah dan pendiri ilmu geografi, menulis buku Nuzhat al-Mushtaq fi Ikhtiraq al-Afaq, yang menyebutkan bahwa Tariq memerintahkan membakar kapal-kapal miliknya agar tentaranya tidak ragu menghadapi musuh. Tariq pun berpidato:
أيها الناس، أين المفر؟ البحر من ورائكم، والعدو أمامكم، وليس لكم والله إلا الصدق والصبر، واعلموا أنكم في هذه الجزيرة أضيع من الأيتام على مائدة اللئام، وقد استقبلكم عدوكم بجيشه وأسلحته، وأقواته موفورة، وأنتم لا وزر لكم إلا سيوفكم، ولا أقوات إلا ما تستخلصونه من أيدي عدوكم، وإن امتدت بكم الأيام على افتقاركم، ولم تنجزوا لكم أمرًا ذهبت ريحكم، وتعوَّضت القلوب من رعبها منكم الجراءة عليكم، فادفعوا عن أنفسكم خذلان هذه العاقبة من أمركم بمناجزة هذا الطاغية فقد ألقت به إليكم مدينته الحصينة، وإن انتهاز الفرصة فيه لممكن، إن سمحتم لأنفسكم بالموت
Wahai semua, ke mana kita akan melarikan diri? Laut ada di belakangmu, musuh ada di depanmu, dan kamu tidak memiliki apa-apa selain keteguhan dan kesabaran di pulau ini. Ketahuilah bahwa di pulau ini kamu lebih tersesat daripada yatim piatu di meja hidangan. Musuhmu telah menghadangmu dengan pasukan besar dan senjatanya,. Dan Anda tidak memiliki apa-apa selain pedang dan yang Anda ambil dari tangan musuh. Jika hari-hari berlalu tanpa merebut dari musuh, Anda akan binasa mengenaskan. Harapan akan sirna dan musuhnya semakin berani membantai Anda.
Jangan Panggil Barbar
Keberhasilan Tariq b. Ziyad menaklukkan Spanyol membekas kuat dalam memori yang tertanam dalam sejarah peradaban Eropa. Barbar yang merupakan nama etnis Tariq b. Ziyad dan bala tentaranya, menjadi sebutan buruk bagi segala perilaku yang merusak, menghancurkan, membantai dan menimbulkan tragedi kemanusiaan. Memori warga Eropa amatlah buruk atas kejadian sehingga menggunakan nama Barbar sebagai diksi perilaku massal yang brutal.
Menanggapi hal tersebut, media Arab telah menyampaikan keberatannya. Tentara Barbar yang menaklukkan Spanyol tidak melakukan perusakan atau tindakan bumi hangus. Mereka berperang dengan menggunakan etika. Mereka bertempur dalam medan laga dan menang. Untuk itu tidak layak julukan Barbar disematkan untuk menunjuk perbuatan yang tidak beradab sebab mereka berperang dengan beradab. Mereka tidak melakukan bumi hangus seperti halnya tentara Mongol yang dipimpin Kubalaikhan yang memporakporandakan Baghdad baik alam mau pun manusia.
Sebutan Barbar semula adalah sebutan orang non-Yunan seperti kata Gentile untuk orang non-Yahudi. Pada era kekuasaan Yunani-Romawi pada abad ke-3SM era Ptolemius, mereka berkuasa atas Afrika Utara dari Maroko hingga Mssir dan menyebut mereka yang bukan asli Yunani atau Romawi dengan Barbar yang kemudian menjadi nama etnis.
Pada masa Rasulullah Muhammad dikisahkan bahwa ada dari orang Barbar yang menemui Rasulullah di Madinah. Dia berbicara dengan Rasulullah dengan bahasa yang sama sekali tidak bisa difahami dan muncul istilah “yubarbir” atau berbicara bahasa Barbar yang tidak bisa difahami.
Sebutan Barbar yang semula sekedar nama, ia kemudian menjadi masalah ketika dikonotasikan buruk. Warga Afrika Utara yang akhirnya keberatan dan menolak sebutan itu. Mereka sebenarnya awalnya tidak masalah, bahkan tidak segan-segan mereka mengaku orang Barbar, bukan orang Arab, sekarang mereka menolak dan menggantinya dengan sebutan lain yang berasal dari mereka bukan dari peradaban Eropa.
Menteri Penerangan Aljazair di era Chadli bendjadid (1979-1992), atas perintah sang presiden mengajak untuk mengganti penyebutan mereka Barbar dengan Amaziq. Sebutan yang juga beredar di kalangan mereka selain Barbar. Sebelumnya dalam forum diskusi sempat muncul sebutan “Lubiyah” yang berarti kawasan sepanjang pesisir Afrika Utara. Tapi usulan itu ditolak karena sudah ada nama negara Libia yang menggunakannya. Akhirnya disepakati penggunaan sebutan “Amazigh” merujuk pada keterangan Abdurrahman b. Khaldun (Ibnu Khaldun) yang menulis bahwa mereka warga Afrika Utara adalah keturunan Mazigh b. Kan’an keturunan Ham putra nabi Nuh.
Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya