



Keragaman keyakinan dan beragama menjadi hal yang lumrah ditemui dalam kehidupan manusia. Perbedaan sikap dan pandangan kemudian menjadi konsekuensi dari kehidupan bersama. Masing-masing orang berpegang teguh dengan keyakinannya, terkadang disertai dengan keinginan agar orang lain juga memeluk keyakinan dan kebaikan yang sama dengannya.
Sejak awal, dakwah Kanjeng Nabi saw. dihadapkan pada kaum dengan keyakinan berbeda yang sudah mereka peluk sejak lama. Keindahan akhlak Kanjeng Nabi saw. yang masyhur di kalangan mereka sebelumnya, tidak serta merta membuat mereka berbondong-bondong untuk menerima Islam. Mereka masih berkeras dengan keyakinan mereka, dengan berbagai motifnya, dan bahkan mereka memusuhi dan menghalangi dakwah Kanjeng Nabi Muhammad saw. Walau begitu, Kanjeng Nabi Muhammad saw. tetap melakukan dakwahnya dengan hormat dan penuh etika dalam berinteraksi dengan mereka.
Islam memerintahkan untuk berdebat dengan non-muslim dalam rangka mengajak mereka memeluk Islam, bukan hanya dengan cara yang baik, tapi dengan cara terbaik, terindah, dan termulia (Raghib as-Sarjani, Fan at-Ta’amul an-Nabawi ma’a Ghoir al-Muslim). Hal ini bisa dilihat dari firman Allah swt. dalam QS. Al-Ankabut ayat 46.
۞ وَلَا تُجَادِلُوْٓا اَهْلَ الْكِتٰبِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۖ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ وَقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا بِالَّذِيْٓ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَاُنْزِلَ اِلَيْكُمْ وَاِلٰهُنَا وَاِلٰهُكُمْ وَاحِدٌ وَّنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ ٤٦
Terjemah: Janganlah kamu mendebat Ahlulkitab melainkan dengan cara yang lebih baik, kecuali terhadap orang-orang yang berbuat zalim di antara mereka. Katakanlah, “Kami beriman pada (kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu. Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu. Hanya kepada-Nya kami berserah diri.” (Kemenag 2019).
Tawaran dari Pimpinan Qurays
Hal ini juga diteladankan oleh Kanjeng Nabi Muhammad saw. Suatu hari Utbah bin Rabi’, salah satu pimpinan Qurays, menawarkan beliau untuk meninggalkan Islam. Utbah berkata, “Putera saudaraku, sungguh engkau bagian dari kami, sekiranya aku tahu kuatnya kekerabatan, dan kedudukan nasab(mu). Sungguh engkau datang pada kaummu dengan perkara besar yang memisahkan persatuan mereka, membodohkan mimpi mereka, menkritik tuhan dan agama mereka, mengkufurkan kakek moyang mereka. Maka, dengarkan, aku akan menawarkan untukmu perkara-perkara yang bisa engkau lihat, mungkin bisa engkau terima sebagian darinya.”
Nabi saw. berkata, “Katakan Abal Walid, aku akan mendengarkan.” Utbah berkata, “Putera saudaraku, jika dengan apa yang kamu bawa ini engkau ingin harta, kami akan mengumpulkan untukmu harta kami, sampai engkau menjadi orang terkaya. Jika engkau ingin kemuliaan, kami jadikan engkau pemimpin kami, sampai kami tidak akan memutuskan perkara tanpamu. Jika engkau ingin kerajaan, kami jadikan engkau raja atas kami. Jika hal yang datang padamu ini (Islam) tipuan (jin) yang engkau lihat dan engkau tidak mampu untuk menolaknya dari dirimu, kami akan mencarikan obat untukmu. Kami akan menyerahkan harta kami dalam mencari obat itu, sampai kami menghilangkan itu darimu. Karena perkara yang mengikuti atas seseorang akan menang, sampai orang itu diobati darinya.”
Nabi saw. mendengarkan Utbah sampai selesai, “Kamu sudah selesai, Abal Walid?”. “Sudah”, jawab Utbah. “Maka dengarkan aku.”, kata Nabi saw. “Aku akan mendengarkan.”, kata Utbah. Nabi Muhammad saw. kemudian membacakan QS. Fusshilat ayat 1-5.
حٰمۤ ۚ ١ تَنْزِيْلٌ مِّنَ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۚ ٢ كِتٰبٌ فُصِّلَتْ اٰيٰتُهٗ قُرْاٰنًا عَرَبِيًّا لِّقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَۙ ٣ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًاۚ فَاَعْرَضَ اَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُوْنَ ٤ وَقَالُوْا قُلُوْبُنَا فِيْٓ اَكِنَّةٍ مِّمَّا تَدْعُوْنَآ اِلَيْهِ وَفِيْٓ اٰذَانِنَا وَقْرٌ وَّمِنْۢ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ اِنَّنَا عٰمِلُوْنَ ٥
Terjemah: Ḥa Mīm 2. (Al-Qur’an ini) diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. 3. Kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan sebagai bacaan dalam bahasa Arab untuk kaum yang mengetahui. 4. yang membawa berita gembira dan peringatan. Akan tetapi, kebanyakan mereka berpaling (darinya) serta tidak mendengarkan. 5. Mereka berkata, “Hati kami sudah tertutup dari apa yang engkau serukan kepada kami. Dalam telinga kami ada penyumbat dan di antara kami dan engkau ada tabir. Oleh sebab itu, lakukanlah (apa yang kamu sukai). Sesungguhnya kami akan melakukan (apa yang kami sukai).” (Kemenag 2019)
Utbah mendengarkan pembacaan ayat dari Nabi tersebut. Setelah selesai, Nabi saw. berkata, “Sungguh engkau telah mendengar sesuatu yang belum pernah engkau dengarkan, Abal Walid, maka begitulah.”
Utbah kemudian kembali pada kaumnya dengan tangan kosong dan berkata, “Wahai orang Qurays, sungguh aku telah mendengarkan ucapan yang demi Allah belum pernah aku dengar sepertinya sama sekali. Demi Allah, itu bukan syair, sihir, atau guna-guna. Wahai orang Qurays, taati aku, jadikan ketaatan itu denganku, laksanakanlah orang ini (Muhammad) dan apa yang dibawanya, menjauhlah darinya. Demi Allah, sungguh dari apa yang sudah kudengar terdapat berita yang agung, maka bila itu terjadi pada orang Arab, sungguh mereka akan cukup dengannya, tanpa kalian. Bila itu nampak bagi orang Arab, kerajaannya adalah kerajaan kalian, kemuliaannya adalah kemuliaan kalian, dan kalian menjadi manusia paling beruntung dengannya.” (Siroh Ibnu Hisyam).
Dari dialog Nabi saw. dengan Utbah itu bisa dilihat, bagaimana Utbah memberikan tawaran berdasar tuduhan yang tidak-tidak pada Nabi saw. Namun Nabi saw. tetap mendengarkan ucapannya sampai selesai dengan penuh tata krama dan penghormatan. Beliau juga memanggil Utbah dengan panggilan kunyah yang lembut. Baru setelah selesai, Nabi saw. kemudian cukup dengan membacakan ayat Al-Qur’an yang menjadi bukti kenabian beliau, yang berbuah pada kembalinya Utbah pada kaumnya dengan tangan kosong dan pengakuan di atas.
Wallahu a’lam bish showab.
Mahasiswa Pascasarjana program Agama dan Lintas Budaya (CRCS), UGM