



Kita semua tahu bahwa bahwa kepelitan dan kedermawanan (kepedulian sosial) berbeda dalam tingkatannya. Tidak ada kedermawanan yang lebih besar daripada memberikan sesuatu kepada mereka yang membutuhkan. Ini adalah hakikat kedermawanan.
Ulil Abshar Abdalla, lebih dikenal dengan sapaan Gus Ulil, menyatakan bahwa memberikan sesuatu kepada orang yang lebih membutuhkan dibandingkan akan sangat sulit karena memberikan sesuatu untuk orang lain tentu tidak sama dengan memberi untuk diri sendiri. Karena beratnya hal itu, tidak sedikit orang yang enggan mengeluarkan hartanya untuk membantu yang membutuhkan, bahkan sampai akhir hayatnya.
Menariknya, ada juga orang yang pelit terhadap diri sendiri. Misalnya, ia enggan pergi ke dokter ketika sakit meskipun dia memiliki banyak uang. Kekikiran seperti ini menunjukkan bahwa pelit bukan hanya soal enggan memberi kepada orang lain, tetapi juga bisa berarti menahan diri dari sesuatu yang sebenarnya dibutuhkan.
Dikisahkan bahwa, suatu malam, seorang tamu datang sowan kepada Rasulullah saw. dan menceritakan bahwa saat ini ia sedang dalam kondisi sangat lapar. Namun, pada saat itu, Rasulullah sendiri tidak memiliki apa-apa untuk diberikan kepada mereka.
Salah satu sahabat Anshar yang berada di situ juga kemudian menawarkan diri untuk menjamu dan mengajak tamu tersebut ke rumahnya. Setelah tiba di rumahnya, ia meminta istrinya menyediakan makanan untuk tamu Rasulullah.
Naasnya, ternyata sang istri mengatakan bahwa makanan yang ada hanya cukup untuk anak-anak mereka saja. Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk tetap menyiapkan makanannya untuk sang tamu.
Demi menjaga perasaan sang tamu agar dia tidak segan untuk makan, sang istri mematikan lampu dan berpura-pura memperbaikinya. Dengan kondisi tanpa penerangan, sang tamu menikmati makanan yang telah disuguhkan tanpa mengetahui bahwasannya tuan rumah, sahabat Anshar, ini tidak ikut menikmati makanan tersebut dan dengan kerelaan menahan lapar demi sang tamu.
Keesokan harinya, nabi memanggil sahabat Anshar tersebut dan menjelaskan bahwa atas apa yang ia lakukan, beliau menerima wahyu QS. Al-Hasyr ayat 9 yang isinya memuji orang-orang yang berderma
وَالَّذِيْنَ تَبَوَّءُو الدَّارَ وَالْاِيْمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّوْنَ مَنْ هَاجَرَ اِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُوْنَ فِيْ صُدُوْرِهِمْ حَاجَةً مِّمَّآ اُوْتُوْا وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَۚ
“Orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya terhadap apa yang diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr [59]: 9).
Ayat tersebut menegaskan betapa mulianya sebuah kedermawanan terutama di level yang mampu mengutamakan orang lain dari pada diri sendiri (itsar), meskipun dalam kondisi yang sama-sama kekurangan atau membutuhkan. Sehingga, Allah pun memuji mereka yang memiliki sikap tersebut.
Nabi Muhammad saw. juga pernah bersabda:
“Siapa saja yang menyukai sesuatu, kemudian ia menahan keinginannya itu dan mengutamakan orang lain atas dirinya, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.”
Demikian juga Sayyidatina Aisyah pernah berkata:
“Rasulullah saw. tidak makan sampai kenyang selama tiga hari berturut-turut. Kalau kami mau, kami bisa makan sampai kenyang, tetapi kami lebih mengutamakan beliau daripada kami.”
Dalam Ihya’ ulumuddin, dikisahkan pula tentang sahabat Nabi, Abdullah bin Ja’far. Suatu ketika, ia pergi ke kebun kurma dan melihat seorang budak kecil sedang bekerja. Kemudian, Abdullah bin Ja’far menyaksikan bahwa anak tersebut hanya memiliki sepotong roti sebagai jatah makannya. Namun, tiba-tiba seekor anjing menghampirinya dalam kondisi lapar dan ia pun langsung memberikan roti itu kepada anjing tersebut..
Akhirnya, Abdullah bin Ja’far menghampiri budak tersebut dan bertanya, “Berapa makanan kamu setiap hari?” Dia menjawab, “Ya sepeti kamu lihat, satu roti ini.” Kemudian dia bertanya lagi, “Kenapa engkau memberi makan anjing itu, padahal makanan kamu hanya satu?” Dia menjawab, “Anjing ini datang dari jauh dan kelaparan. Di sini bukan tempat tinggalnya. Siapa lagi yang akan memberinya makan?”
Abdullah bin Ja’far langsung terharu dan berkata“Aku ini sering dikritik orang lain karena dermawan, ternyata ada orang yang lebih dermawan dariku.” Ia kemudian membeli kebun itu beserta seluruh isinya, memerdekakan budak tersebut, dan menghadiahkan kebun itu kepadanya. Dari kisah tersebut, kita belajar bahwa kedermawanan bukan sekadar soal berapa banyak yang kita miliki, tetapi sejauh mana kita mampu melepaskan keterikatan pada apa yang kita cintai demi kemaslahatan orang lain. Kisah para sahabat dan teladan Nabi saw. menunjukkan bahwa derajat tertinggi kedermawanan adalah itsar, mengutamakan orang lain meskipun diri sendiri sedang membutuhkan. Wallahu a’lam
Santri PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo